KESAH.ID – Di negeri di mana kebijakan publik sering kali lebih mengejutkan daripada plot twist film laga, para komika kini menghadapi saingan terberat mereka: realitas itu sendiri. Panggung komedi tunggal menjadi medan juang yang berat, sulit untuk memancing tawa yang pecah karena kalah lucu—sekaligus kalah getir—dengan kerandoman birokrasi dan drama sosial yang tersaji gratis di depan mata
Selain menonton kanal Indonesian Idol, kanal YouTube yang rajin saya tonton adalah yang berisi seputar MotoGP. Tapi karena kompetisi SUCI kembali dimulai, saya juga menyempatkan diri untuk menonton adu lucu tunggal ini. Dulu saya selalu antusias menyaksikan komedi tunggal; penampilan seorang comica bisa saya saksikan berulang-ulang dan selalu terasa lucu. Tapi makin ke sini, makin butuh perjuangan untuk menyelesaikan setiap tayangan sampai tuntas.
Saya jadi prihatin dengan para penghibur yang cerdas ini. Perjuangan mereka sudah sangat keras, tapi materi sering kali kalah lucu dengan kerandoman masyarakat Indonesia hingga polah dan tingkah laku para pemimpinnya. Menonton stand-up tentu berharap ketawa, bukan cuma nyengir atau tersenyum simpul. Seperti mesin yang punya RPM, seorang komika juga dituntut punya LPM yang tinggi.
LPM atau Laugh Per Minute adalah ukuran seberapa padat tawa yang dihasilkan oleh seorang komika dalam satu menit penampilannya. Punchline atau lelucon yang disampaikan harus memancing tawa, sekurangnya ada 3-5 tawa dalam satu menit. Ini yang membedakan seorang stand-up comedian dengan pelawak lainnya. Karena ada LPM, seorang komika mesti menyiapkan naskahnya, menulis, dan kemudian menguji tulisannya apakah lucu atau tidak, padat atau tidak. Tanpa diuji dengan komika lainnya atau dalam komunitas, punchline-punchline bisa garing, kering kerontang.
Memang ada rumus-rumus tertentu untuk memancing tawa, seperti formula plot twist. Tapi rumus seperti itu tak selalu manjur sebab plot twist-nya terasa biasa-biasa saja, atau kalah dengan plot twist yang dihasilkan oleh para pengambil kebijakan. Misalnya, untuk meningkatkan kecerdasan bangsa, pemerintah memutuskan untuk melakukan program MBG (Makan Bergizi Gratis). Dan hasilnya bukan murid yang cerdas, tapi peningkatan belanja pemerintah sehingga BPS mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang melewati angka 5,6 persen di triwulan pertama tahun ini.
Meski menjanjikan, menjadi seorang komika sekarang ini memang penuh tantangan. Problemnya ada pada konteks informasi atau sistem pengetahuan sekarang ini yang spektrumnya makin luas. Di tengah meruahnya informasi dan pengetahuan, rezim informasi menjadi tidak tunggal lagi; kini sulit mencari kata atau narasi yang relatif bisa ditanggapi sama oleh segala lapisan masyarakat.
Dan yang lebih jadi masalah adalah panggung kelucuan tidak lagi ada di pentas lawakan. Dalam kehidupan sehari-hari, di berbagai ruang publik dengan mudahnya ditemui kelucuan-kelucuan, sehingga ketika menonton penampilan seorang komika di panggung, energi untuk tertawa sudah tinggal sisa-sisanya. Lewat jagat media sosial kita bisa membaca, menyaksikan, dan mendengar berbagai kabar yang sungguh lucu—hal yang membuat kita harus tertawa terbahak-bahak walau di dalamnya mengandung banyak ironi. Ada saja kejadian dari Sabang sampai Merauke yang membuat kita tertawa walau terkadang tawanya kecut.
BACA JUGA : Blue Birds
Coba, siapa yang tak akan tertawa membaca berita dengan judul seperti ini: “Diperas aparat Bea Cukai gadungan, pedagang rokok ilegal lapor polisi.” Tak usah dikomentari, jelas kejadian ini lucu sekali. Satirnya double, semacam ironi di atas ironi. Ada lagi berita berjudul: “Oknum TNI gadungan membawa kabur 250 kg telur pedagang.”
Ceritanya, seseorang datang memakai seragam replika TNI ke sebuah warung sembako. Dengan tampang yang meyakinkan, dia menyatakan TNI akan mengadakan bazar dan perlu barang. Yang punya warung mengizinkan TNI gadungan itu membawa 250 kg telur setelah mengatakan nanti istrinya yang akan membayar. Setelah telur dibawa, ternyata yang dijanjikan tidak datang. Pemilik segera lapor polisi berbekal rekaman CCTV. Dan tak lama kemudian, oknum TNI gadungan ditangkap dan diproses hukum dengan pasal penipuan penggelapan. Ancaman hukumannya 5 tahun atas telur yang kalau dijual harganya sekitar 7,5 juta rupiah.
Ini juga ironi, karena masyarakat kita selalu mudah diperdaya dengan seragam, padahal seragam apa pun dengan mudah dibeli di marketplace. Dan yang lebih lucu, para oknum gadungan tidak sadar kalau hampir semua warung atau toko kini dilengkapi dengan CCTV; wajah dan aksinya menjadi terdokumentasi dan membuat polisi dengan cepat bisa menangkap. Polisi akan bergerak cepat karena terduganya berseragam TNI; untuk polisi, ini aksi yang berpotensi meningkatkan citra.
Kisah aneh, lucu, bahkan ajaib seperti dua berita di atas terjadi setiap hari bersamaan dengan cerita membosankan atau basi tentang orang yang berutang namun lebih galak dari yang punya uang ketika ditagih. Atau kisah pemakai jasa ojek dan taksi yang kemudian tak mau bayar ketika sudah sampai tujuan. Satir yang getir ini membuat urat tawa kita makin memendek, hingga kemudian Rocky Gerung lebih suka memakai istilah dungu. Kedunguan memang kerap menimbulkan kelucuan.
Kedunguan ini terjadi di berbagai level, mulai dari tingkat rakyat jelata hingga ke elit-elit; mulai dari elit politik, elit agama, hingga elit selebritas. Di provinsi Kalimantan Timur, kelucuan yang dipicu oleh kebijakan Gubernur menghasilkan demonstrasi berjilid-jilid. Demonstrasi yang awalnya mengangkat isu melengserkan Gubernur, menjadi plot twist karena yang kemudian dilengserkan adalah saudara perempuannya yang memimpin Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan.
Gerakan kelompok masyarakat Kalimantan Timur ini dipicu oleh kelucuan anggaran. Ternyata dalam APBD Kaltim ada alokasi untuk belanja mobil dinas Gubernur seharga 8,5 miliar rupiah. Angka 8,5 miliar jelas teramat besar untuk sebuah mobil dinas. Usut punya usut, ternyata yang hendak dibeli adalah mobil merek dan tipe tertentu yang nampaknya disukai oleh Gubernur.
Tapi alasan subjektif ini dibantah dengan argumentasi kegunaan. Nada tangkisan dari beberapa mulut pejabat di lingkungan kantor Gubernur menyebut angka besar itu dikarenakan mobil yang hendak dibeli harus punya spesifikasi mumpuni karena akan dipakai untuk turun lapangan, berkunjung ke pelosok Kalimantan Timur yang infrastruktur jalannya masih berantakan. Masalahnya, alasan ini jadi lucu karena ada alasan lain: mobil itu juga dimaksudkan untuk menjemput tamu kehormatan. Sungguh kontradiktif kalau mobil yang akan dipakai blusukan sekaligus dipakai sebagai mobil jemputan tamu kehormatan. Lucunya lagi, gara-gara isu ini Kalimantan Timur jadi perbincangan. Alasan Gubernur untuk menjaga marwah Kaltim ini kemudian dibahas oleh banyak podcaster nasional.
BACA JUGA : Mobil Vietnam
Kalimantan Timur sendiri punya beberapa komika yang bersinar di tingkat nasional. Ada Kemal Palevi, Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Rizky Prasetya. Mereka kini sukses di Jakarta, bukan hanya jadi komedian saja tetapi juga berakting di film. Dengan segala keresahan yang dibawa dari Kalimantan Timur, mereka sukses di kompetisi komedi tunggal. Kemal masuk tiga besar, Ardit dua besar, Yono dan Rizky juara.
Dalam stand-up comedy, keresahan yang dalam dan jujur adalah modal hakiki untuk menghasilkan punchline yang pecah. Dan keresahan yang jujur tentu berasal dari lingkungan terdekat, lingkungan tempat tinggal, atau domisili dengan semua kerandomannya. Kalimantan Timur memang meresahkan hingga melahirkan Yono dan Rizky, namun kini keresahan itu tidak melahirkan komika melainkan sebuah gerakan yang kemudian mengirimkan sinyal akan melakukan demonstrasi berjilid-jilid hingga ada yang mundur.
Keresahan yang kemudian manifes ini membuat komika di Kaltim kehilangan bahan. Apa yang diresahkan oleh komika sudah jadi bahan keresahan sebagian masyarakat Kaltim dan kemudian disuarakan dalam panggung-panggung demonstrasi. Sepertinya bukan hanya di kompetisi nasional perjuangan para komika menjadi berat; di tingkat regional Kalimantan Timur, komikanya juga makin tak berbunyi. Sekali lagi, bukan karena tak ada komika berbakat, tapi karena keresahan masyarakatnya sudah manifes dalam bentuk gerakan.
“Nggak ikut demo kah?” Pertanyaan itu kini sering disampaikan oleh satu orang kepada orang lainnya. Ikut demonstrasi menjadi salah satu hal terkeren di Kalimantan Timur sekarang ini. Sebagian yang antusias ikut demonstrasi sekarang ini bisa dipastikan sebelumnya suka nyinyir pada demo-demo yang dilakukan oleh mahasiswa. “Tugas mahasiswa itu belajar, bukan dema-demo saja, bikin macet dan kotor jalanan.”
Panggung demonstrasi kemudian merebut ruang kelucuan para komika. Dari orasi di jalanan, ruang kelucuan berlanjut di media sosial. Ada perang lucu di berbagai platform, di mana masing-masing pihak berebut pengaruh dan memenangkan opini publik. Drama paling lucunya adalah ketika seseorang yang sebelumnya dikenal kritis kemudian berbalik haluan menjadi penjilat yang jilatannya lebih kuat dari lidah anjing, kucing, dan sapi.
Andaikan Kemal, Ardit, Yono, dan Rizky diajak manggung bersama di Kalimantan Timur, mungkin mereka masih mikir-mikir. Mereka pasti takut LPM-nya kurang karena humor yang ditampilkan oleh seseorang yang suka menyampaikan salam “Makan Tiga Kali Sehari” lebih mampu memicu tawa terpingkal-pingkal yang tawanya tahan berhari-hari.
note : sumber gambar – SUARA








