KESAH.ID Sepanjang sejarah politik paska reformasi yang ditandai dengan demokrasi berbasis multi partai dan kemunculan kelompok relawan politik non partai, kita menyaksikan sosok-sosok yang dikenal sebagai badut politik. Mereka bukan melucu dan menghibur, melainkan menciptakan berisik politik lewat gimmick dan aksi politik di panggung publik. Para badut politik ini tak segan menjilat, menghambur-hambur pujian agar tetap berada dalam lingkar kekuasaan.

Kalau ada satu hal yang disukai oleh anak kecil dimanapun dan telah bertahan lama, hal itu adalah badut. Sosok dengan riasan wajah putih, wajah dengan riasan putih, riang, lucu dan lincah. Badut modern ini diperkenalkan oleh Joseph Grimaldi seorang komedian dari Inggris.

Joseph yang disebut sebagai Bapak Badut Modern ini memperkenalkan sosok berwajah putih atau whiteface clown yang kemudian ikonik ini pada tahun 1801. Joseph melakukan sentuhan ulang pada sosok badut yang sering tampil dalam pantomin Inggris menjadi karakter yang lebih cerdik, lucu dan lincah.

Secara historis sosok badut sebenarnya sudah dikenal lama, sejak jaman Yunani Kuno dan Romawi. Badut juga dikenal dalam teater komedi di Italia dan Perancis.

Sosok badut dalam teater komedi Italia dikenal dengan sebutan Harlequin atau Arlhecchino, sosok pelayan yang cerdik, amoral dan gemar berbohong. Sementara dalam khasanah teater komedi Perancis dikenal sosok Pierot atau Pedrolino, yang mulanya berwajah putih dan berkepala botak namun kemudian menjadi sosok melankolis dan dimabuk cinta pada awal abad 19.

Sejarah panjang badut sebagai penghibur di Indonesia kemudian terkontaminasi oleh perilaku para aktor politik. Dalam area politik, badut kemudian berkonotasi negatif. Konotasi negatif ini muncul karena perilaku badut sebagai penghibur kemudian diterapkan oleh aktor politik diatas panggung politik praktis.

Kalau badut bertugas menghibur, dalam panggung politik para badut politik ini bertugas membuat gimmick. Aktor politik tak segan memerankan diri sebagai sosok yang lebih sibuk menciptakan gimmick, sensasi atau drama-drama kosong.

Baik di media sosial maupun dunia nyata mereka kerap membuat cerita atau aksi tak relevan, suka membuat-buat konflik dan lainnya. Mereka ini tanpa diminta sering kali melakukan manuver untuk menutupi isu-isu tertentu, aksi konyol mereka lakukan agar perhatian publik teralihkan dari isu tertentu.

Ketika menghibur badut memang kerap berlaku konyol, dan kekonyolan itu yang kemudian menumbuhkan kelucuan. Pola-pola badut semacam ini kerap ditemukan dalam pertunjukan komedi Srimulat.

Nah lain halnya dengan badut politik. Mereka kerap kali juga menunjukkan ketololan, mengucapkan hal-hal yang tak berdasar, tidak logis, dan bahkan memalukan. Badut politik dengan terang-terangan suka menunjukkan inkompetensi, yang bukan menimbulkan kelucuan melainkan mencoreng marwah politik. Politik jadi tak berwibawa.

Dalam lingkup politik yang lebih terbatas, kemudian muncul istilah badut istana. Mereka ini sekumpulan aktor-aktor politik yang gemar sekali menjilat. Keberadaannya dalam lingkaran kekuasaan hanya untuk memberi hiburan dengan memuja-muji secara membabi buta. Maaf, semua hal dijilat, termasuk pantat penguasa.

Istilah badut politik atau badut istana muncul sebagai bentuk kritik sosial politik atas polah para politisi yang kian hari kian random. Seperti sering diungkap oleh Rocky Gerung, politik pada dasarnya adalah adu gagasan, pertarungan politik menjadi pertarungan ide, mempertengkarkan ide sehingga akan diperoleh ide bersama yang terbaik.

Tapi politik justru kerap dijadikan pertunjukan panggung, politik adalah panggung sandiwara. Di panggung itu para aktor berani dan tak ragu memerankan kekonyolan, peran yang merusak integritas politik, moral politik, integritas bahkan juga demokrasi demi popularitas.

Dalam politik modern di Indonesia, popularitas menjadi candu yang paling bikin ketagihan. Karena dengan popularitas, seseorang yang inkompeten bahkan bisa menduduki jabatan-jabatang bergengsi.

BACA JUGA : ATM Saja

Badut politik di Indonesia bermunculan paska reformasi. Masa ketika kita memutuskan untuk membangun demokrasi multi partai. Paska reformasi jumlah partai beranak banyak, hingga akhirnya antara partai yang satu dan partai yang lain tak jelas bedanya. Berpartai bukan lagi berideologi.

Kelakuan badut politik yang paling jelas adalah lompat-lompat partai agar terus bisa memainkan peran, peran yang konyol tapi dibutuhkan oleh partai.

Salah satu sosok badut politik senior yang kelakuannya sungguh konyol adalah Ruhut Sitompul, saking konyolnya kadang nama keluarga atau marganya dipelesetkan menjadi situmpul.

Sebagai badut politik, Ruhut memang meyakinkan. Karir politiknya terbilang panjang, sampai dijuluki kutu loncat. Ruhut memulai karir politiknya dari Golkar, kuning habis. Dia diingat dengan HP Nokia Communicator berwarna kuning.

Usai dari Golkar, Ruhut melompat ke Demokrat.  Dengan semua gayanya yang main hantam tak peduli tepat atau tidak, Ruhut pernah juga dipanggil dengan julukan Si Poltak. Setelah Presiden SBY berakhir masa jabatannya, Ruhut kemudian merapat ke PDIP, karena disana ada Jokowi.

Meski sesekali tampil kocak dan menghibur, namun Ruhut dalam berbagai penampilan publik dikenal kontroversial dan kasar. Ya Ruhut kerap menghina, merendahkan bahkan menista lawan politiknya. Siapapun yang melawan atau mengkritisi tokoh yang sedang dijilat habis olehnya bakal disebut bangsat, manusia nggak ada guna.

Pernyataannya kerap kali membuat politik menjadi seperti kurang bermartabat. Sehingga kadang Rubut pun kurang disukai oleh sesama politisi. Saat ada desas-desus dia hendak memimpin komisi hukum, muncul penolakan dari sesama anggota dewan. Mereka menyebut komisi hukum bakal jadi komisi badut kalau dipimpin Ruhut Sitompul.

Karakter badut ala Ruhut ini kemudian menjadi patron karena konsistensinya untuk terus berada dalam barisan penguasa. Modalnya tak malu-malu terus memuji dan menganggap mereka yang kritis sebagai tak suka, kritik adalah serangan. Argumen yang disampaikan oleh mereka yang kritis, yang telah dipikirkan masak-masak, dianalisis lewat kajian, bakal dipatahkan oleh badut macam Ruhut Sitompul dengan kata-kata sederhana yang njeplak begitu saja melalui mulutnya.

Gaya main terabas ini pernah membuat Prof Sahetapi seorang pakar hukum marah besar pada Ruhut, yang kemudian disebutnya seperti ayam berisik tapi nggak ada isi. Ruhut memang agresif, berani menantang debat siapa saja meski tanpa modal yang mencukupi. Ruhut maju terus walau argumennya dangkal.

Setelah Joko Widodo menyelesaikan dua periode masa jabatannya sebagai presiden, nama Ruhut Sitompul perlahan-lahan surut. Mungkin gaya mainnya sudah terlalu kasar dan sumbangsihnya untuk penguasa tak terlalu besar.

Semenjak jaman Joko Widodo sebagai presiden, mulai muncul kekuatan baru yang tak kalah konyol namun dalam bentuk gerombolan. Mereka ini yang kemudian kerap disebut sebagai barisan relawan. DI masa Presiden Joko Widodo, kelompok relawan ini secara ekplisit menyatakan memuja Jokowi, mati hidup ikut Joko Widodo.

Ada yang menyebut diri Projo atau Pro Jokowi, ada juga yang menyebut diri sebagai Jokowi Mania dan lain sebagainya. Mereka adalah sekumpulan manusia pembela Joko Widodo garis keras. Kekuatan kelompok ini di masa Joko Widodo sungguh digdaya, sampai ada yang menduga kelak kelompok ini akan jadi partai tersendiri karena basis masa yang besar.

Ruhut mungkin tersingkir dalam kontestasi para badut dan penjilat, karena Bang Poltak tak punya basis massa.

BACA JUGA : Diasuh Teknologi

Setelah Ruhut terbitlah curut-curut lainnya. Dan salah seorang yang kemudian fenomenal ialah mantan aktivis dan juga mantan kader partai, tepatnya PDI-P.

Di kalangan aktivis dipanggil dengan nama Muni, dalam bahasa Jawa artinya bunyi. Si Muni ini membentuk Projo untuk kepentingan pencalonan Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2012. Projo kemudian menjadi ‘Relawan Jokowi’ yang terlibat aktif dalam pemenangan Jokowi dua kali mengikuti kontestasi pemilihan presiden.

Militansi Projo membela Joko Widodo jelas teruji, mereka sering kali menjadi terdepan dalam melawan barisan Prabowo yang dua kali pemilu bersaing melawan Joko Widodo.

Perjuangan Projo pun diganjar dengan kehormatan. Budi Arie yang punya nama panggilan Muni itu berhasil jadi menteri.

Ketika peralihan dari Joko Widodo ke Prabowo, Projo juga aman. Projo masuk mulus dalam barisan Prabowo, dapat juga kedudukan menteri, walau kemudian nanti diganti.

Meski dulu memuja-muja Jokowi dan mungkin meyakini nanti trah Joko Widodo akan kembali memimpin, namun kemudian Projo lebih tepatnya Budi Arie gamang. Pencopotannya dari kursi menteri ada indikasi kalau dirinya tersangkut kasus besar. Budi Arie mesti menyelamatkan diri dan nampaknya Joko Widodo tak bisa lagi diandalkan menjadi payung perlindungan.

Budi Arie dan Projonya mesti membuat manuver, mencari majikan baru yang lebih menjamin masa depan. Dan secaa blak-blakkan menjelang Konggres Projo yang terakhir Budi berani mengatakan kalau Projo bukan Pro Jokowi, melainkan berasal dari bahasa Sansekerta yang kemudian diadopsi dalam bahasa Jawa dengan arti rakyat atau warga.

Keyakinan pada Joko Widodo nampaknya mulai menurun. Projo yang dulu digadang menajdi Partai Jokowi ternyata juga urung. Jokowi sepertinya lebih memilih PSI sebagai partai untuk meneruskan trah politiknya. PSI memang secara nyata-nyata menyatakan diri sebagai Partai Jokowi, partai badut juga. Maka logonya pun dirubah, menjadi mirip sirkus yang dikenal karena pertunjukan gajahnya.

Seperti Ruhut, Budi Arie juga jadi kutu loncat, bukan loncat partai, tetapi loncat majikan.

Projo yang didefinisikan secara baru kemudian menjadi jalan bagi Budi Arie untuk mencari majikan baru. Majikan barunya adalah presiden yang sedang berkuasa, Prabowo.

Jadi bukan PSI yang jadi tempat berlabuh Budi Arie dan Projonya, melainkan Gerindra.

Budi Arie menegaskan akan bergabung dengan Gerindra, entah Gerindra mau atau tidak.

Hanya saja melihat track records Budi Arie, mestinya Gerindra hati-hati. Bisa saja ini modus dari Budi Arie yang bergabung ke Gerindra bukan untuk menopang Prabowo, tapi justru mempersiapkan pondasi untuk Gibran.

Budi tahu PSI tidak kuat, tidak bisa diharapkan.

Jadi Gerindralah yang jadi pilihan.

Dan Budi membiarkan masyarakat berandai-andai, kalau Jokowi mulai lemah pengaruhnya, pun juga Gibran yang tak bisa apa-apa. Diam saja di balik ketiak Prabowo.

Entahlah Budi Arie ini orang mana, tapi kalau ingat pengajaran dari Bambang Pacul, guru falsafah ‘korea’ dalam politik ini sering mengatakan soal glembuk solo. Manuver orang Solo yang terlihat tak melakukan aksi-aksi frontal namun tetap punya daya tusuk dan daya iris di belakang.

Jadi jangan mudah terperdaya oleh manuver-manuver mereka. Dan jangan percaya pada apa yang keluar dari mulut mereka perihal membangun bangsa ini. Pengalaman telah mengajarkan bahwa para badut ini tak perduli apapun selain agar tetap berada dalam lingkar kekuasaan.

note : sumber gambar – IHIK3