KESAH.ID – Teknologi membuat kehidupan semakin mudah, apapun dalam hidup kita sekarang terbantu oleh teknologi. Bahkan juga pengasuhan anak sekalipun. Anak-anak kita sekarang lebih diasuh oleh teknologi terutama yang ada dalam genggaman yakni smartphone. Dunia anak-anak memang luas tapi terbatas di layar mereka, dunia maya merampas interaksi mereka dengan dunia nyata. Padahal manusia adalah tentang keseimbangan, terlalu asyik dengan diri mereka sendiri anak-anak lupa berinteraksi dengan lingkungan yang teramat perlu untuk mengaktifkan sensor-sensor inderawi mereka. Tanpa itu anak-anak kemudian menjadi tak sehat secara mental.
Beberapa tahun lalu masih banyak orang tua mampu melarang anak-anaknya bermain HP. Ada yang melarang sama sekali, ada yang membatasi pada waktu-waktu tertentu.
Tapi hari ini saya yakin hanya sedikit sekali yang mampu, terutama paska Covid 19 yang membuat semua serba online sehingga semua menjadi semakin akrab dengan Smartphone.
Bisa dibilang sekarang anak-anak diasuk oleh Smartphone, karena begitu memegangnya anak-anak menjadi anteng. Asyik sendirian bahkan hingga berjam-jam.
Teknologi memang sudah begitu merasuk ke dalam kehidupan kita, sulit ditolak lagi untuk mengambil alih pengasuhan sejak dini.
Lalu apa yang terjadi dengan anak-anak yang sedari dini lebih akrab dengan gadget ketimbang orang tua dan teman-teman sebayanya ini?.
Entah ada hubungannya atau tidak, yang pasti menurut Survey Kesehatan Jiwa Nasional menyatakan satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Gangguannya berupa susah fokus, susah tidur, kecemasan, rasa sedih, depresi dan marah pada diri sendiri makin hari makin besar, serta bersifat konsisten.
Gejala yang sebenarnya umum saja, wajar kalau seseorang terkadang merasa marah, sedih, atau mengalami gangguan tidur. Tapi menjadi masalah apabila itu dialami terus menerus dalam waktu yang lama. Ini merupakan pertanda seseorang mengalami masalah kesehatan mental atau jiwa.
Fakta semakin banyak remaja mengalami masalah kesehatan mental adalah fakta global. Kejadian ini juga terjadi di negara-negara lainnya seperti Amerika Serikat.
Menurut data, kasus menyakiti diri sendiri di Amerika Serikat naik dengan sangat tajam. Usaha untuk mengakhiri hidup juga meningkat tajam pada kelompok usia 10 sampai 14 tahun.
Dulu kasus percobaan bunuh diri pada kelompok usia muda lebih identik dengan Jepang dan Korea Selatan. Tapi kini ditengah kecenderungan penurunan pada kedua negara itu, negeri-negeri lain justru meningkat.
Negeri-negeri yang masyarakatnya gandrung teknologi, seperti halnya Indonesia dimana masyarakatnya kemudian lebih senang menyerahkan pengasuhan anak pada teknologi, ternyata problem kesehatan mental justru mengiringi.
Anak-anak yang dulu selalu merenggek ingin main diluar rumah, berlari-larian, memanjat pohon, mengejar ayam dan seterusnya, kini membuat jebakan Batman, anteng di dalam rumah asal mata menatap layar.
Orang tua dengan kesibukannya mungkin saja merasa lebih tenang, anak-anaknya tidak kemana-mana tapi sudah terlihat bahagia karena berinteraksi dengan apa yang tersaji di layar gadgetnya.
Para ahli memang sudah lama mengingatkan resiko penetrasi Smartphone dalam kehidupan dan populasi. Ketika melewati angka 50 persen, Smartphone kemudian membawa dampak mental pada masyarakat pemakainya.
Kini penetrasinya bahkan telah melewati angka populasi, mengingat tak sedikit orang yang mempunyai lebih dari dua.
Dengan banyaknya smartphone per kapita, dunia kita telah menjadi dunia gadget. Ponsel menjadi sahabat, teman, rekan bahkan saudara terdekat kita.
BACA JUGA : Bukit Tengkorak
Menurut data, kecenderungan peningkatan kecemasan global sudah terjadi sejak tahun 2010 lalu. Dunia memang berubah karena teknologi tetapi juga karena iklim. Masyarakat global sama-sama cemas.
Dan beberapa tahun kemudian kita kemudian akrab dengan istilah disrupsi, perubahan besar-besaran yang tidak punya rujukan sebelumnya karena revolusi digital.
Ada banyak pola, peta, model dan ekosistem yang kemudian berubah, tidak seperti yang dulu lagi. Yang dulu bahkan menjadi tidak relevan. Berbagai kepunahan terjadi secara lebih cepat. Generasi terkini kemudian menjadi generasi yang paling banyak menyaksikan perubahan tetapi juga ketidakpastian.
Akses internet yang makin luas dan makin cepat membuat segala hal terkoneksi. Belum pernah ada preseden jaman seperti ini, walau kemudian membuat banyak hal menjadi mudah namun informasi yang meruah kemudian membawa beban tersendiri.
Dunia anak-anak kita bukan lagi dunia lokal, lingkungan sekitar rumah, sekitar sekolah melainkan lingkungan global, mereka terkoneksi ke segala penjuru. Yang dulu hanya bisa diimajinasikan oleh orang tuanya kini menjadi nyata di tangan anak-anaknya.
Orang tua tak kuasa menahan anak-anaknya. Lingkungan juga tak mampu menyaingi daya tarik layar ponsel. Dengan memainkan games, mereka bisa merasa mempunyai pengalaman masuk hutan, berkebun, berlari di alam, mengarungi samudera dan sebagainya. Dunia mereka mengecil tanpa sentuhan langsung dengan alam.
Sekolah juga tak mampu menahan gempuran teknologi. Bahkan boleh dibilang sekolah kerap menjadi agen teknologi, memakai dan menerapkan teknologi akan membuat sekolahnya diberi bobot terdepan, modern, canggih dan seterusnya.
Ada banyak lomba games online justru muncul dari sekolah.
Anak-anak langsung melompat, tenggelam dalam dunia digital dan hampir tak mengenal dunia manual.
Dengan sistem digital semua menjadi lebih gampang. Tinggal klik sana-sini dan jadi.
Apa yang disebut susahnya perjuangan, tidak lagi dialami oleh anak-anak generasi terkini.
Untuk makan rujak, mereka tak lagi perlu memanjat pohon yang licin, menjolok buah yang ada di ujung dahan, mengulek bumbu rujak, menakar masing-masing bahan agar seimbang. Mereka tinggal pencet dan kemudian rujak datang dengan bungkus yang rapi.
Kesempatan anak-anak untuk berhadapan dengan masalah dan mencoba menyelesaikannya sendiri menjadi langka. Padahal ini adalah cara bagaimana manusia membangun relasi atau konektivitas dengan lingkungannya.
Padahal kini kesadaran penghargaan pada anak justru lebih tinggi, hukum juga memberi jaminan yang lebih kuat. Anak sepanjang dari jaman perang hingga kemerdekaan rasanya semakin dihargai.
Tapi mungkin proteksi yang berlebihan yang kemudian membuat anak-anak menjadi semakin lemah, mereka kemudian juga lebih memilih bersembunyi di balik layar ponselnya.
BACA JUGA : ATM Saja
Untuk bisa tumbuh seimbang, anak-anak harus mengaktifkan semua sensor dalam tubuhnya. Anak harus bergerak, berhadapan dengan situasi nyata, ada sentuhan dengan lingkungan agar semua yang ada di badan teruji.
Yang disebut sensor atau indera bukan hanya lima, bisa sepuluh lebih. Dan semua mesti diasah, dilatih agar berjalan sempurna, tidak bias.
Menghabiskan waktu hanya berkutat di layar sambil rebahan atau duduk-duduk membuat anak-anak kehilangan sentuhan langsung dengan pemicu sensor. Sensor lebih dipicu oleh sensasi digital, bukan desiran angin, hembusan bau, percikan air, gelitikan kerikil dan lain-lain.
Realitas anak-anak adalah realitas digital, visual dan virtual. Tanpa pengalaman langsung yang memicu sensasi.
Interaksi fisik hilang. Dan tentu ini membuat anak-anak tidak seimbang karena manusia adalah mahkluk fisik, mahkluk biologi jadi yang perlu digerakkan bukan hanya fikiran,imajinasi atau keinginan tetapi juga badan.
Teknologi hadir untuk membuat kehidupan menjadi semakin mudah, semakin aman, semakin nyaman sehingga manusia mempunyai peluang untuk makin bahagia.
Tapi teknologi terus bertumbuh, tanpa batas hingga kemudian merampas kehidupan. Semua menjadi tergantung pada teknologi.
Kini berpikir pun dibantu teknologi.
Merasa ada alat bantu, manusia menjadi semakin malas.
Terberkatilah yang gaptek, atau para migran digital yang kadang gagu dengan semua kemajuan.
Namun anak-anak terbenam karena mereka terlahir sebagai warga digital.
Mereka diasuh oleh algoritma, berbagai rekayasa digital yang dikembangkan oleh ekosistem digital atau platform tertentu.
Seolah dunia sudah pasti.
Padahal dunia bukanlah dunia digital, sesempurna apapun dunia digital, dunia atau lingkungan hidup kita, planet dan galaxy tetap tak bisa ditebak arahnya.
Manusia butuh kelenturan untuk menghadapi semua situasi. Kelenturan yang berarti ketahanan untuk menghadapi situasi yang tak jelas, berdamai dengan kemarahan, kesedihan dan lainnya.
Segala sesuatu bisa tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi. Yang diperlukan hanya kesabaran, kemauan untuk menerima, tetapi juga menahan sakit, kecewa, marah dan seterusnya.
Dunia digital tidak memberi kemampuan bertahan dalam rasa tak enak. Dunia digital malah memberi doping, entah doping sosial maupun emosional.
Akhinya meski banyak teman di sosial media, banyak like dan komentar, postingan selalu FYP tetapi tak mampu mengusir kesepian. Di puja di layar virtual namun tak ada yang menyapa di jalanan, padahal merasa diri terkenal.
Inilah dunia anak-anak kita, anak yang terjebak dalam dunia visual, virtual dan digital atau ruang maya. Mereka kemudian gagu berhadapan dengan dunia nyata, gagu karena ketrampilan untuk berinteraksi dengan dunia tidak dipupuk sejak dini karena dunia mereka yang luas diminimalisasi hanya pada layar ponsel.
note : sumber gambar – BOJONEGORO








