KESAH.IDDad Shoes kembali naik daun, sepatu bapak-bapak di tahun 80-90 an kembali menjadi raja dengan tampilan yang bulky. Cara belanja anak-anak sekarang memang berbeda dengan anak-anak dahulu. Anak sekarang lebih punya kemampuan visual, apa-apa yang indah dari pandangan mata segera akan viral dan memiliki pengikut. Dad Shoes, sepatu bapak-bapak yang dulu dicap jelek kini populer karena divalidasi oleh generasi Z.

Disamping kerap menyebut istilah Y2K, para reviewer alas kaki sering menyebut sepatu Dad Shoes. Sebutan ini muncul dari fenomena model yang cukup menonjol dalam sejarah alas kaki pada abad ke 21. Istilah Dad Shoes atau sepatu bapak-bapak ini merujuk pada jenis sepatu sneaker, sepatu olahraga atau sepatu sport style yang mempunyai ciri besar dan tebal atau bulky dengan sol yang masid dan berlapis.

Sepatu jenis ini juga mempunyai desain upper yang kompleks dengan banyak panel dan tektur. Muncul sekitar tahun 1980/1990-an, lewat NB 990 sepatu ini sering disebut sepatu jelek. Sepatu yang kemudian disterotip sebagai sepatu pria paruh baya yang mulai buncit. Bukan sepatu estetik karena dipilih untuk kenyatamanan, utilitas dan daya tahan. Dad Shoes bukan sepatu untuk gaya-gayaan.

Sebagai bagian dari fashion, sepatu Dad Shoes yang mengutamakan fungsi sole dan mendukung kenyamanan serta kesehatan kaki, merupakan antitesis dari mode. Mengutamakan perfomance, sepatu ini dirancang untuk jalan atau lari jarak jauh.  Sepatu ini dianggap tidak keren jika dibandingkan dengan sepatu basket yang ramping dan sepatu kasual yang bergaya minimalis, seperti sepatu-sepatu kanvas vulkanisir.

Namun dalam perkembangannya, menjelang tahun 2020, Dad Shoes yang merupakan alas kaki fungsional kemudian bertransformasi menjadi item high fashion. Para desainer mode mewah mulai mengadopsi dan mengulik model estetika yang canggung ini. Balenciaga memulai dengan rilisan model Triple S, sepati dianggap sebagai katalisator yang membangkitkan kembali gaya Dad Shoes.

Dinamai Triple S karena punya sol yang berlapis-lapis dan tebal, sehingga terlihat seperti sol yang ditumpuk. Sol yang tebal dimaksudkan agar kaki terasa empuk saat menapak ditanah.

Sepatu Dad Shoes yang bangkit kembali sebenarnya tengah melawan dominasi minimalisme yang dipopulerkan oleh sepatu knit dan slip on yang umumnya ramping. Sebuah trend yang menarik karena Dad Shoes sering disebut sepatu buruk atau jelek. Namun kemudian berani melawan, merubah tampilan yang buruk kemudian menjadi menarik. Produsen fashion mewah mengikuti langkah Balenciaga, namun kemudian produsen sepatu olahraga yang ternama juga ikut serta. Adidas mengeluarkan Yeezy 500, Puma mengeluarkan Thunder Spectra dan lain-lain.

Elemen penentu Dad Shoes adalah sol yang sangat tebal, midsole yang gemuk, yang memadukan berbagai material dan teknologi di dalamnya. Sol menjadi landasan visual yang menonjol dan memberi ilusi peningkatan tinggi badan. Secara fungsional sol yang tebal akan menawarkan bantalan kaki yang nyaman, enak untuk berdiri lama atau dipakai jalan jauh.

Uppernya berupa kontruksi yang berlapis. Setidaknya terdiri dari 3 material yang berbeda yakni kulit, asli maupun sintetis, mesh dan suede. Bahan ini dirangkai dalam bentuk panel-panel dan dihubungkan dengan jahitan dengan garis atau linning yang berlapis. Tampilannya menjadi kontras terlebih jika color waynya juga dimainkan.

Walau sering menggunakan warna-warna retro, warna yang terinspirasi dari tahun 1990-an yakni abu-abu, putih dan hitam, namun aksen warna neon, merah, biru kobalt atau hijau juga menjadi paduan warna yang populer. Nuansa warnanya nostalgia kontras.

Dalam batasan tertentu kemunculan kembali Dad Shoes bisa dianggap sebagai pemberontakan atau perlawanan terhadap trend sepatu clean aesthetic, sepatu dengan desain minimalis dan bersih. Beriringan dengan menguatnya gaya streetwear, sepatu Dad Shoes ternyata juga cocok dipadupadankan dengan gaya mode ala jalanan ini.

BACA JUGA : Solar Cell – Menangkap Terang Surya Khatulistiwa – Listrik Untuk Semua

Kebangkitan kembali Dad Shoes tak lepas dari peran media sosial terutama Instagram dan Tik Tok. Model sepatu yang gemuk dan unik memang menarik secara visual, obyek yang sempurna untuk sebuah unggahan.

Penampilan Dad Shoes cenderung mencolok dan mudah untuk dikenali dari jauh, sangat cocok untuk menarik perhatian bagi orang yang ingin tampil menonjol.

Sosial media membuat trend menjadi semakin pendek, tak perlu waktu bertahun -tahun untuk membuat sesuatu viral dan menglobal. Kini dalam hitungan bulan saja sebuah sub kultur bisa menjadi budaya arus utama, karena kekuatan viralitas yang dipacu oleh kekuatan visual.

Di sosial media selain Dad Shoes juga populer sebutan Y2K untuk menyebut kelahiran lagi sepatu-sepatu retro runner yang terinspirasi oleh sepatu lari tahun 2000-an. Asics Gel-Kayano, New Balance 2002R dan lain-lain dengan model berlapis, kini diterima sebagai desain yang valid.

Dad Shoes atau Y2K menunjukkan bahwa sebuah mode bisa saja berulang dengan penerimaan yang berbeda. Apa yang dulu dianggap jelek atau buruk kini kemudian diterima sebagai bagian dari revolusi gaya.

Revolusi yang tentu saja didukung oleh media sosial, dimana para influencer, konten kreator, selebgram dan lain-lain dengan mudah memamerkan gaya, menebar pesona dan diikuti gayanya.

Para selebritis atau pesohor yang memakai sepatu Dad Shoes atau Y2L dan kemudian dibagikan lewat akun medianya, mampu menarik perhatian pengikutnya. Selebrity, influencer dan lainnya kemudian menciptakan komunitas yang aktif.

Dad Shoes makin menguat karena turut mempengaruhi bidang lain, mulai musik, film hingga gaya hidup. Dengan sentuhan kekinian, Dad Shoes dan Y2K menjadi sangat digemari oleh anak-anak muda.

Tren Dad Shoes dan Y2K kembali booming karena generasi muda saat ini, terutama Generasi Z, menganggap gaya tersebut menarik sebagai bentuk nostalgia dan ekspresi diri yang vintage dan antik. Media sosial dan selebriti berperan besar dalam menghidupkan kembali tren ini, yang juga dianggap fun, youthful, dan aesthetic. Secara keseluruhan, Y2K tidak hanya merefleksikan tren mode, tetapi juga semangat era transisi teknologi dan budaya yang penuh energi dan inovasi.​

Pengaruh budaya pop terhadap tren fashion Y2K sangat besar dan menjadi salah satu faktor utama yang menghidupkan kembali estetika tahun 2000-an ini di era modern. Budaya pop, yang mencakup musik, film, televisi, dan selebriti, memainkan peran penting dalam membentuk cara generasi muda mengekspresikan diri melalui fashion. Misalnya, ikon-ikon pop seperti Britney Spears, Destiny’s Child, dan serial TV populer seperti “Clueless” dan “Euphoria” menjadi sumber inspirasi bagi gaya berpakaian yang khas Y2K, seperti crop tops, celana low-rise, dan aksesoris mencolok.

Nostalgia menjadi alasan kuat mengapa tren ini kembali diminati. Generasi Z yang tumbuh melihat gaya Y2K dari kakak, orang tua, atau media pop masa lalu merasa terhubung secara emosional dengan estetika tersebut. Media sosial seperti TikTok dan Instagram sangat membantu persebaran tren ini dengan konten visual yang kuat dan mudah diakses, seperti video “get ready with me” atau tantangan fashion bertema Y2K.

Budaya pop juga memberi ruang bagi ekspresi bebas dan keberanian dalam berbusana. Fashion Y2K menghapus batasan gaya yang kaku, memberi kebebasan bagi pemakai untuk menggabungkan berbagai elemen fashion secara kreatif dan berani. Hal ini menjadikan tren Y2K tidak hanya sekedar ingatan masa lalu, tetapi juga bentuk inovasi gaya hidup yang relevan dan dinamis di dunia modern.

Dengan dukungan media sosial, selebriti, dan popularitas budaya pop, tren fashion Y2K berhasil menjadi fenomena global yang kuat hingga saat ini, menciptakan siklus daur ulang budaya yang memperkaya dunia fashion.​.​

BACA JUGA : Kuasa Konten

Sepatu dengan gaya “Dad Shoes” sangat populer, dan beberapa merek atau model yang paling terkenal baik di kancah internasional maupun yang populer di Indonesia antara lain:

New Balance 530, Sangat viral dan sering disebut sebagai salah satu dad shoes paling populer saat ini. Memiliki siluet running retro tahun 2000-an yang chunky namun tetap terlihat sleek dan nyaman.

New Balance 990 Series ,  Merupakan sepatu klasik yang memang menjadi ikon gaya dad shoes yang asli. Dikenal karena kenyamanan premium dan kualitasnya.

Nike Air Monarch IVm, sering disebut sebagai inspirasi awal tren dad shoes. Desain yang sangat klasik dengan sol karet yang tebal dan bantalan yang maksimal.

ASICS GEL-Kayano atau ASICS GEL-1130, model-model running klasik dari ASICS yang memiliki desain chunky dan detail layering yang kuat, menjadikannya pilihan dad shoes yang populer.

Puma RS-X, ,memiliki desain yang sangat chunky dan futuristik, merupakan salah satu koleksi dad shoes yang populer dari Puma.

Fila Disruptor, salah satu sepatu yang membawa kembali tren chunky beberapa tahun lalu, dikenal dengan solnya yang sangat tebal dan bergelombang.

Saat ini, banyak brand sepatu lokal Indonesia yang mengikuti tren dad shoes atau chunky sneakers dengan mengeluarkan model-model yang memiliki ciri khas sol tebal, desain berlapis (layering), dan siluet retro.

Sementara merek atau model n model sepatu lokal dengan gaya dad shoes yang populer dan layak dipertimbangkan ialah :

Piero, seri ini seringkali memiliki sol yang tebal dan desain yang menggabungkan mesh dan kulit suede, memberikan estetika dad shoes yang klasik.

Unerd Average atau varian lain dengan sol yang besar dan desain yang kental dengan gaya chunky sneakers. Merek ini dikenal cukup berani dalam mengadopsi siluet dad shoes.

NOKHA, beberapa model mereka (seperti NOKHA Meji White) mengusung desain chunky dan terkadang transparan, menjadikannya pilihan dad shoes yang stylish dan ringan.

910 (Nineten), meskipun fokus pada sepatu lari, beberapa seri lifestyle atau retro running mereka, seperti 910 Fuuto Heritage, memiliki elemen desain chunky yang cocok dalam kategori dad shoes.

Mills, model: Mills Revolt Dynaplate (atau seri lifestyle lainnya) dikenal memiliki sol yang tebal dan kokoh, memberikan kesan chunky yang dicari.

Declan Sneakers Sport Saber atau model lain yang memiliki sol tebal dan kombinasi bahan yang modern.

Ardiles, merek ini juga mulai mengeluarkan model-model sneakers dengan sol tebal, seperti Ardiles Coventry, yang sering disebut sebagai alternatif lokal untuk model dad shoes internasional tertentu.

Silahkan pilih sendiri mana yang cocok untukmu.

note : sumber gambar – POROSKALIMANTAN