KESAH.ID – Setelah istirahat tengah musim, Marc ternyata masih moncer. Biasa paruh akhir musim sering terjadi kejutan. Pembalap yang tertinggal mulai mengejar. Namun kali ini tak terjadi, balapan pertama setelah istirahat tengah musim Marc masih memborong kemenangan. Kemenangan ini menjadi manis karena Marc belum pernah menang di sirkuit Austria. Dulu Marc selalu dikalahkan oleh Ducati. Dan kemudian Ducatilah yang mengantarkan Marc Marquez meraih kemenangan perdana di Austria.
Sepanjang karirnya Marc Marquez belum pernah menang di Austria, Sirkuit Red Bull Ring. Prestasi terbaik Marc diraih pada tahun 2017 – 2019. Selama 3 tahun berturut-turut Marc meraih hampir menang namun urung karena kalah bersaing dengan Andrea Dovisioso yang menaiki Ducati.
Di Red Bull Ring Marc memang selalu dipecundangi oleh Ducati. Setelah dikuasi oleh Andrea Dovisioso, dari tahun 2022 – 2024, GP Austria selalu dikuasai oleh Pecco Bagnaia.
Tahun 2025, setelah istirahat paruh musim Marc Marquez datang ke Austria dengan modal keyakinan yang berbeda. Marc kini menaiki Ducati yang selalu mengalahkannya.
Keyakinan Marc terbukti, sejak sesi latihan Marc Marquez berhasil menjadi yang tercepat.
Hanya nasib kurang baik yang membuat Marc Marquez gagal merebut Pole Position. Marc terjatuh saat sesi kualifikasi hampir berhasil. Meski jatuh Marc tetap berhasil start dari posisi ke empat.
Ketika di Gresini Marc selalu mengatakan penting untuk start di depan. Hanya saja setelah di Ducati, Marc terlihat over power sehingga tak harus start paling depan untuk menjadi pemenang.
Setengah musim berlalu, Marc menunjukkan tanpa harus melewati limit atau memaksa motor sudah cukup untuk meraih kemenangan. Bahkan kemenangannya sungguh fantastis.
Melewati paruh musim tak ada lagi pembalap yang merasa bisa mengejar poin Marc Marquez, jaraknya sudah terlalu jauh.
Kalaupun Aprilia dan KTM merasa mulai bisa melawan Marc Marquez tentu saja itu adalah pernyataan untuk menyenangkan diri. Bagaimanapun juga lawan terdekat Marc Marquez masih pembalap Ducati.
Beberapa kali Marc Marquez gagal meraih pole position, namun Fabio yang berkali-kali meraih pole position telah merasakan bagaimana tekanan yang diberikan oleh Marc jika menyusul dari belakang. Pole position tidak jaminan untuk podium selama di belakangnya ada Marc Marquez.
Dalam beberapa balapan, Marc Marquez bahkan mengurangi kecepatan motornya. Marc membiarkan pembalap di belakangnya lewat mengambil alih posisinya. Dua kali Marc melakukan hal ini karena masalah tekanan ban. Namun begitu tekanan ban kembali normal, Marc dengan mudah akan melewati pembalap di depannya.
Marc Marquez bukan hanya hampir pasti selalu menang, Marc bahkan mengendalikan balapan.
Casey Stoner, menyebutkan pembalap hebat bisa saja karena bakat besar atau kerja keras. Dan Marc berbeda karena selain berbakat, Marc Marquez juga selalu bekerja keras. Jarang terdengar Marc mengeluh, meyalahkan motor atau tim mekaniknya.
Dengan kata lain Stoner mengatakan Marc Marquez adalah pembalap yang berbeda, pembalap yang luar biasa, dibanding pembalap lain yang ada di lintasan Moto GP saat ini. Berdasarkan catatan prestasi dan rekornya, semua pembalap Moto GP sekarang ini memang terasa jauh bila dibandingkan dengan Marc Marquez.
Marc seperti tua-tua keladi, makin tua justru makin jadi.
Yang kini dibicarakan bukan lagi kemenangan Marc Marquez melainkan di sirkuit mana Marc akan mengklaim gelarnya, juara dunia Moto GP 2025 yang akan membuatnya menyamai prestasi Valentino Rossi.
BACA JUGA : Kopi Oleng
Tim Aprilia bergembira karena Marco Bezzecchi berhasil meraih pole position. Mereka berharap banyak pada Bezzecchi bisa mempersembahkan podium.
Memulai start dengan baik Bezzecchi hanya kehilangan satu posisi diawal balapan karena Alex Marquez melaju dengan sangat baik. Marc Marquez juga berhasil menguntit dan dalam beberapa tikungan bisa membuntuti Alex Marquez dan melewati Marco Bezzecchi.
Yang sial justru Francesco Bagnaia dan Fermin Aldequer. Dua pembalap Ducati sama-sama mengalami slip ban belakang saat mulai star. Pecco kemudian melebar dan posisinya langsung merosot.
Dan Pecco gagal memperbaiki posisinya karena kemudian bannya semakin bermasalah. Pecco terlihat sulit membelok dan motornya goyang, seperti oleng ban depannya sehingga memutuskan untuk masuk pit, tidak meneruskan balapan hingga selesai.
Di putaran awal, tiga pembalap yakni Alex Marquez, Marc Marquez dan Marco Bezzecchi kukuh di depan. Namun kemudian Pedro Acosta berhasil melewati Marc Bezzecchi. Pedro bahkan berhasil mendekati Marc Marquez namun kemudian melebar di tikungan ketika berusaha mengejar Marc Marquez.
Di Austria penampilan KTM memang cukup baik, mengingat mereka merupakan tuan rumah dalam balapan ini.
Di lap-lap awal terlihat Alex Marquez begitu perkasa, Marc seperti sulit untuk mendekatinya.
Namun Marc biasanya memang tak terlalu ngotot mengejar di awal-awal. Mengikuti pembalap dari jarak dekat di belakangnya, Marc biasanya akan segera memberi tekanan jika yang didepannya mulai bermasalah.
Alex kemudian mulai menurun kecepatannya karena ban mulai aus. Dan Marc mengambil kesempatan melewatinya lalu berusaha membuat jarak. Begitu melewati Alex, Marc langsung tancap gas, jarak antara dirinya dan Alex perlahan-lahan bertambah. Hingga dalam beberapa putaran Marc berhasil membuat jarak sekitar satu detik.
Di beberapa putaran terakhir, dalam kondisi ban yang mulai memburuk. Tidak seperti pembalap lainnya yang hanya berusaha menjaga kecepatan, Marc justru sering melaju lebih kencang. Maka Marc sering dianggap menyimpan kecepatan dan baru dikeluarkan saat menjelang balapan berakhir.
Sprint race dikuasai oleh Marc Marquez yang berhasil melewati Alex setelah nyaman memimpin hampir sebagian besar lap. Kemenangan ini kembali menunjukkan betapa Marc semakin dominan.
Membicarakan kemenangan Marc Marquez di Sprint Race jadi nggak menarik lagi, kemenangan seperti sudah jadi langganan.
Jadi yang digoreng-goreng justru luka lama antara Rossi dan Marc. Dalam beberapa tangkapan kamera, Rossi dan Marc berpapasan namun tak saling sapa, seperti pura-pura tak saling lihat.
Framing ini yang kemudian menjadi perbincangan. Luka lama ternyata masih menarik perhatian pemirsa dan netizen. Masih banyak orang yang tangannya selalu gatal untuk memborbadir komentar karena tergoreng oleh tangkapan kamera, yang menangkap dua orang terbesar dalam dunia balap modern.
BACA JUGA : Ducati Pusing
Walau mencatatkan hasil buruk di balapan Sprint Race, Francesco Bagnaia masih punya keyakinan baik untuk balapan hari Minggu. Pecco memang biasanya kuat pada balapan utama.
Start pada balapan Minggu ini berjalan baik. Pembalap terdepan tak mengalami gangguan, Pecco bahkan bisa memacu motor dengan cepat, juga Marco Bezzecchi.
Marc naik satu posisi, membuntuti Bezzecchi dan Bagnaia. Dan kemudian Marc berupaya menyalip Pecco, namun Pecco merebut kembali. Namun terlihat Pecco seperti agak melebar setiap akan masuk tikungan, dan Marc kemudian mengambil kesempatan itu.
Marc kemudian membuntuti Marco Bezzecchi yang bisa membuat jarak cukup jauh.
Di belakang Marc, Alex berusaha melewati Pecco, mungkin Alex ingin mengamankan posisi ketiga dengan cara melewati Pecco dan membuat jarak karena Alex harus menjalani hukuman long lap pinalty.
Dan setelah mengambil hukuman, posisi Alex Marquez merosot jauh. Alex tidak berhasil menyusul kembali ke depan karena terjebak dalam gerombolan pembalap.
Harusnya Pecco aman, namun kemudian justru dikejar oleh Pedro Acosta. Posisi Pecco makin merosot bahkan kemudian berhasil disusul oleh Fermin Aldequere yang punya kecepatan. Fermin kemudian berhasil menyusul Pedro Acosta yang nyaman di posisi ketiga.
Marc kemudian memainkan strategi, menekan Marco Bezzecchi untuk mengukur kecepatan. Ketika berhasil mendekati Bezzecchi, Marc kemudian menurunkan sedikit kecepatan karena temperatur ban naik akibat panas motor Bezzecchi.
Dalam beberapa putaran Bezzecchi berhasil menjauh, hanya saja ketika melewati separuh lebih lap balapan, Marc kemudian mengejar kembali dan dengan beberapa kali percobaan Marc berhasil melewati Bezzecchi dan langsung membuat jarak.
Bezzecchi yang memimpin lebih dari separuh lap yang harus dilahap para pembalap, seperti tak mampu melawan Marc Marquez, terlihat kecepatannya memang kalah dibandingkan Ducati.
Fermin kemudian berhasil menyusul Marco Bezzecchi dan nampak masih ada sisa kecepatan sehingga punya kemungkinan untuk mengejar Marc Marquez.
Untuk Fermin Aldequere, finis kedua dalam balapan uatama sudah bagus hanya akan lebih bagus lagi kalau bisa menang. Tapi kecepatan Fermin nampaknya tak cukup untuk mengejar marc marquez yang kemudian berhasil membuat jarak 1 detik lebih.
Melaju di depan, saat pembalap lain mulai kehabisan ban, Marc Marquez memang sulit untuk dikejar.
Marc Marquez kembali melewati garis finish sebagai pemenang, disusul Fermin Aldequere dan kemudian Marco Bezzecchi. Nasib Pecco Bagnaia belum juga membaik, Pecco bahkan bisa dilewati oleh Johan Mir yang menunggangi Honda.
Marc akhirnya berhasil menang untuk pertama kalinya di sirkuit Austria karena mengendarai motor yang selalu mempecundanginya. Mungkin Marc berpikir dulu Ducati mengalahkannya dan kini dengan Ducati Marc Marquez berhasil menang. Semakin sedikit sirkuit yang Marc Marquez gagal menang.
Dengan menyisakan 9 balapan, dan jarak yang jauh antara Marc dengan Alex dan Pecco, mungkin dalam beberapa balapan lagi Marc sudah bisa mengklaim gelar Juara Dunia Moto GP 2025.
Marc pecah telur di Sikuit Red Bull Ring, sehingga hanya menyisakan satu sirkuit yang belum pernah dimenangkan olehnya saat balapan, yakni Mandalika. Tapi sepertinya hanya tinggal menunggu waktu.
Ah, Marc Marquez lagi, Marc Marquez lagi.
note : sumber gambar – MOBILINANEWS








