KESAH.IDTurun atau naik adalah kata kerja yang bersifat dinamis, menunjukkan perpindahan dari satu level ke level lainnya. Namun dalam kebudayaan Samarinda, dinamisitas kata turun dan naik kemudian dikaitkan dengan kondisi geografis, hidrologis dan arsitektur permukiman. Turun dan naik kemudian dikaitkan dengan pergi dan pulang, atau kehadiran. Berikut catatan dari Wahyu, tentang fenomena bahasa dalam khasanah budaya orang Samarinda.

BACA JUGA : Mengulik Praktek Tradisional Masyarakat Juaq Asa Dalam Merawat Diri 

Ya, turun adalah kata kerja yang memiliki arti atau menunjukan tindakan, keberadaan jika sesuatu itu menuju kebawah. Namun arti turun  juga mempunyai arti dinamis lainnya, seperti yang sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari orang Samarinda dan sekitarnya. Kata “Turun” memiliki arti sebagai “Kehadiran”.

Terbiasa dipakai dalam percakapan sehari-hari, kebanyakan orang Samarinda paham atau mengerti kalau kata ‘turun’ adalah kehadiran. Tapi pasti tak semua tahu asal muasal sampai turun dimaknai sebagai kehadiran. Asal tahu saja, kalau fenomena bahasa ini pernah menjadi topik diskusi pada materi perkuliahan seorang Profesor di salah satu perguruan tinggi di Kalimantan Timur.

Sebelum memulai perkuliahan Profesor kebudayaan yang datang dari pulau Jawa itu mempertanyakan kehadiran beberapa mahasiswanya. Dan kebetulan ada salah satu mahasiswa yang tidak hadir. Kemudian profesor itu bertanya tentang kahadiran mahasiswa tersebut.

Salah satu mahasiswa mengatakan. “Dia tidak turun Prof”

Profesor itu agak heran dengan jawabannya, dahinya sedikit mengkerut dan dan kembali bertanya “Memangnya dia tinggal dimana? Di langit? Atau di puncak gunung?”

Alhasil hal yang dipertanyakan itu kemudian menjadi pembahasan yang cukup panjang mengenai kebudayaan dan dialek bahasa Kalimantan Timur.

Dalam kosakata orang Samarinda dan sekitarnya,  kata ‘turun’ artinya hadir, datang atau berangkat. Sedangkan kata naik yang merupakan kebalikan dari turun, diartikan sebagai pulang, kembali atau balik.

Pengartian kata ini lahir dari kondisi geografis dan arsitektur tradisional rumah tinggal di Kalimantan Timur. Orang Kalimantan Timur umumnya tinggal di tepian air, entah sungai, danau atau rawa, sehingga akrab dengan kondisi pasang surut, air turun naik. Naik artinya air pulang, turun artinya air pergi.

Demikian pula dengan rumah tinggal, karena tinggal di tepian air, maka rumah tinggalnya berupa rumah tinggi atau rumah panggung. Turun artinya meninggalkan rumah, pergi, atau berangkat, naik artinya masuk rumah, pulang atau kembali.

Seseorang yang tinggal dirumah pangung harus naik untuk masuk kedalam rumah dan  turun untuk menuju keluar rumah. Kata turun dan naik kemudian menjadi kata ganti untuk pergi dan pulang.

Tinggal di tepian air, masyarakat Samarinda terbiasa dengan fenomena pasang surut. Pasang artinya air datang atau naik, surut artinya air pulang atau turun.

BACA JUGA : Jalan Kaki Langkah Kecil Dukung Transisi Energi

Demikianlah kata turun dan naik kemudian mempunyai arti tersendiri, arti yang mungkin berbeda dengan yang ada dalam kamus bahasa Indonesia, atau yang biasa dimaknai oleh masyarakat lainnya.

Kata ini menjadi penting dalah khasanah aktivitas orang Samarinda dan sekitarnya, bahkan di sebagian kepercayaan yang ada di Kalimantan Timur, kata turun dan naik menjadi kata wajib dalam doa-doa yang dipanjatkan pada upacara adat dan keagamaannya.

Penulis : Wahyu

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

note : sumber gambar – WAHYU