KESAH.ID – Karena permukiman pinggir sungai dibersihkan, sedimennya diangkat dan kemudian tepi sungai ditanggul tural, Sungai Karang Mumus menjadi semakin dalam dan lebar. Aliran airnya juga makin lancar sehingga saat hujan tak turun-turun berhari-hari, permukaan airnya menjadi cepat menyusut, sungaipun terlihat menjadi dangkal. Padahal masih banyak warga di sekitar Sungai Karang Mumus yang measih memanfaatkan airnya secara langsung, masih ada nelayan dan lainnya yang memerlukan sungai sebagai alur transportasi. Sungai yang habis airnya, alur yang dangkal membuat sebagian warga Kota Samarinda yang masih memanfaatkan SKM menjadi kesulitan.
Tiga minggu lalu saya mengajak Pak Iyau, pengelola Pangkalan Punggut GMSS SKM bertemu. Di warung kopi seberang pangkalan, sambil menyeruput kopi seduhan Mas Sigit sang barista Kedai Kebabom, saya mengutarakan niat ke Pak Iyau untuk bikin kegiatan pungut sampah di Sungai Karang Mumus.
Tapi rencana itu saya urungkan karena kalau dilaksanakan maka yang akan banyak dipungut adalah sampah bekas bongkaran rumah tepian sungai segmen antara Jembatan Baru hingga Jembatan Lambung.
Meski urung namun saya tetap berkeinginan untuk berkegiatan di sungai. Dan pilihannya adalah yang menyenangkan yakni susur sungai.
Dan Pak Iyau setuju karena penasaran dengan permukaan air Sungai Karang Mumus yang menurutnya kini lebih cepat surut sehingga sungai terlihat dangkal.
Rencana itu hanya kami berdua yang tahu, namun kemudian saya memberitahukan juga pada Raditya, siswa kelas 3 SMAN 10. Ra demikian panggilannya adalah putra sulung dari sahabat saya yang kebetulan rumahnya juga tak jauh dari kediaman saya.
Saya bilang padanya karena Ra selalu antusias kalau diajaki susur sungai.
Oh, iya saya tak bilang ke teman lain yang juga berpesan untuk mengajaknya jika menyusuri sungai. Persoalannya saya tak yakin dengan kedalaman air Sungai Karang Mumus sehingga khawatir kalau perahu diisi lebih dari 3 orang maka perjalanan tak lancar karena perahu kandas-kandas.
Sekitar jam 09.00 perahu yang dikemudikan oleh Pak Iyau meninggalkan pangkalan pungut menuju kearah hulu. Pemandangannya masih biasa saja seperti sebelum-sebelumnya. Namun sebelum Jembatan Lambung ada perahu berisi satu orang yang tengah menebar jala, Pak Iyau pun memelankan laju perahu yang memang sudah cukup pelan.
Saya bertanya pada Pak Iyau, kalau menjala mereka dapatnya apa.
Pak Iyau menyebut Ikan Otek. Dan setelah itu Pak Iyau menunjuk dua perahu yang terparkir di bawah jembatan sambil mengatakan “Itu mereka biasanya menjual ikan otek,”
Kamipun singgah, mendekati perahu yang terparkir. Didalam perahu ada jaring dan ikan yang terjerat. Ada ikan salap, ikan cicak dan ikan otek. Dan tentu saja ada juga botol plastik dan sampah lainnya yang ikut terjaring.
Di Sungai Karang Mumus, setiap kali nelayan menebarkan jalanya, yang selalu terjaring memang ikan cicak atau ikan sapu-sapu dan aneka sampah. Ikan jenis lainnya hanya merupakan bonus.
Mereka yang masih menangkap ikan di Sungai Karang Mumus mungkin akan menjadi generasi terakhir nelayan Sungai Karang Mumus. Jumlahnya perlahan menyusut walau kalau ada bantuan perahu yang mengaku sebagai anggota kelompok nelayan jumlahnya cukup banyak.
Seingat saya dulu ada beberapa orang yang menjajakan ikan di Sungai Karang Mumus dengan perahu. Mereka berjualan sampai sekitar Jembatan PM Noor. Namun kini yang berjualan di bawah Jembatan Lambung menjadi satu-satunya yang tersisa.
Di Tepian Lempake dulu juga ada. Bukan berjualan di sungai, tetapi menangkap ikan di sungai lalu menjajakan ikannya dari Tepian Lempake hingga sekitar Gunung Lingai.

BACA JUGA : Yang Serba Instan Itu Sudah Biasa
Tak jauh dari tempat perahu pejual ikan otek itu pemandangan terlihat berbeda. Kini dari sungai terlihat kendaraan lalu lalang, seperti dekat sekali dengan alur sungai. Ya, rumah yang menghalangi antara jalan dan sungai sudah hilang. Di satu sisi segmen antara Jembatan Lambung dan Jembatan Baru rumah-rumah tepian sungai memang baru saja digusur. Disana masih ada eksavator amphibi, yang bertahan untuk mengeruk sedimen sungai. Sebagaian kerukannya dibuang dengan truk, sebagian lainnya dipakai untuk menguruk tepian sungai dan dipadatkan.
Karena areanya sudah terbuka, terang benderang tanpa penghalang jadi mentari terasa panas. Pak Iyaupun tancap gas membawa perahu lebih laju. Selepas Jembatan Baru, perahu kemudian dipelankan. Di penimbunan pasir terlihat banyak kapal berjejer untuk menurunkan pasir yang disedot dari Sungai Mahakam. Pekerjanya memindahkan pasir dari perahu ke pinggiran sungai dengan keranjang. Entah berapa kali mereka bolak balik untuk memikul pasir, mengosongkan isi kapal.
Perahu pun terus melaju melintasi Pasar Segiri. Entah ini hanya perasaan atau kenyataan, setiap kali naik perahu dan melewati belakang Pasar Segiri saya masih selalu mencium bau limbah ayam. Padahal sudah setahun lebih deretan tempat pemotongan ayam di belakang pasar itu sudah digusur. Dan pinggiran sungainya sudah ditanggul dan diturap. Andai perahu mempunyai tombol mode turbo, pasti saya minta Pak Iyau untuk menekannya.
Melewati jembatan baru Gang Nibung, terlihat kesibukan proyek pembangunan turap. Persis di kelokan Sungai Karang Mumus yang bersentuhan dengan Jalan Sutomo. Di titik ini air SKM kerap meluap. Turap dan tanggul ini akan tersambung hingga Jembatan S. Parman.
Yang diturap baru satu sisinya. Penggusuran pada sisi permukiman tepian sungai sebelah kiri kearah hulu membuat perjalanan susur SKM kehilangan pemandangan pembuat ikan asap. Seingat saya dulu sebelum Jembatan S. Parman ada satu atau dua pembuat ikan asap di tepian Sungai Karang Mumus. Di segmen ini dulunya juga banyak pembuat tahu dan tempe.
Kini pemandangan dari sisi sungai diganti dengan tembok semen tinggi. Masih baru namun penampilannya sungguh buruk. Saat dibangun, sheet pile -nya miring. Mungkin lantai sungai yang baru dikeruk itu goyah sehingga tak tahan menahan desakan dari sisi daratan. Karena sudah dipancang begitu dalam maka sulit untuk mencabutnya. Maka kemiringan kemudian diakal-akali.
Dan sungai kembali dikeruk lalu kerukannya ditumpuk disisi luar sheet pile, maksudnya biar memberi ketahanan. Entahlah akan tahan betul atau tidak yang jelas ketika permukaan airnya surut akan segera terlihat lantai gundukan tanahnya.
Ah, sudahlah, sebuah proyek meski ‘panitia’ nya terdiri dari para ahli, eksekusi di lapangan memang tak semanis omongan para cerdik pandai. Mereka yang mengerjakan sesuatu dengan aplikasi dan mempresentasikan dengan power point. Maka logikanya berbeda dengan mereka yang mengerjakan di lapangan yang lebih mengandalkan otot dan urat leher..
Sesaat setelah melewati Jembatan S. Parman sebelum sampai Jembatan Gelatik, alur sungai nampak menyempit. Kanan kiri sungai ditumbuhi oleh rumput kumpai yang sangat subur. Saya yakin kalau taka da perahu bolak-balik, kedua sisi rumput itu akan bertemu dan menutupi seluruh permukaan sungai.
Sebenarnya rumput ini bukan masalah, justru menjadi berkah terutama untuk para peternak utamanya sapi. Tapi sayangnya peternak sapi umumnya berada di bagian tengah aliran Sungai Karang Mumus dan mulai Tepian Lempake keatas rumput seperti itu berlimpah.
Tapi tenang saja BWS mempunyai dana untuk pemeliharaan sungai dan membersihkan rumput di sungai hingga tepian sungai adalah salah satu proyek rutinnya. Rumput akan dibersihkan sebersih-bersihnya hingga tepian sungai kelihatan tanahnya.
Padahal mestinya tepian sungai harus tetap ditutupi oleh rerumputan, agar nanti kalau hujan air run off atau air hujan yang tidak meresap ke dalam tanah atau tertampung sementara oleh rawa akan difilter oleh rumput sebelum masuk ke badan sungai.
Melewati Jembatan Gelatik selalu penuh kenangan untuk saya. Karena disitu ada Pohon Putat yang sudah berbuah. Satu dari antara dua pohon putat yang ada di Sungai Karang Mumus. Satunya ada di Jembatan Baru.
Tapi kini pohon itu hilang, sudah ditebang.
Normalisasi sungai memang banyak menghilangkan pohon-pohon yang langka di Sungai Karang Mumus. Antara Jembatan Gelatik dan Jembatan PM. Noor beberapa tahun lalu banyak Pohon Rumbia, tapi kini hanya tersisa beberapa pokok saja.
Selain mendalami sungai, normalisasi juga melebarkan sungai hingga kemudian banyak pohon ditumbangkan dan hilang. Pohon-pohon besar yang lenyap dari tepian SKM antara lain Pohon Renggas, Pohon Mangga, Pohon Jabon, Pohon Kademba, Pohon Jelutung, Pohon Pulai, Pohon Bunggur dan lain-lain. Sungaipun kehilangan peneduh.

BACA JUGA : Kambing Samarinda
Dampak dari alur sungai yang dilebarkan adalah permukaan air Sungai Karang Mumus kemudian menjadi cepat surut jika beberapa hari tak turun hujan. Sungainya menjadi begitu dangkal hingga di beberapa tempat mesti hati-hati jika membawa perahu agar tidak kandas.
Salah satu lokasi yang menjadi sangat dangkal adalah belakang Perumahan Pondok Surya Indah hingga menjelang Jembatan PM. Noor. Dititik ini pendangkalannya cukup panjang, bahkan membentuk semacam gusung atau pulau di tengah sungai.
Tapi tumpukan sedimen berpasir ini ternyata menjadi kabar baik untuk pemulung sungai. Karena dalam endapannya banyak barang berharga, barang buangan atau terbuang dan masih bisa diuangkan. Kami sempat bertemu dengan pemulung sungai yang sedang menambang sumberdaya non alam di titik pendangkalan itu. Mereka memarkir long boat di tengah sungai dan kemudian memunguti berbagai barang baik yang tergeletak maupun tenggelam.
Di dalam perahu terlihat banyak rongsokan, mulai berbahan plastik hingga besi dan alumunium. Ada banyak sendok dan garpu. Mungkin kalau beruntung mereka bisa menemukan cincin atau kalung emas yang tak sengaja terjatuh lalu hanyut.
Lepas dari Jembatan PM Noor, walau tak kandas namun perahu harus waspada. Dangkalnya merata karena lantai sungainya kelihatan. Padahal seingat saya, segmen dari Jembatan PM Noor hingga Jembatan Tepian Lempake dulunya ada beberapa titik yang cukup dalam.
Hanya saja selepas Jembatan Betapus, pendangkalan menjadi semakin ekstrim. Bekas kerukan sungai yang ditumpuk di kanan-kiri sungai ada yang runtuh dan kemudian menutupi sungai, menyisakan aliran yang hanya cukup untuk dilewati satu perahu.
Tapi kalau dipikir-pikir bedungan karena longsoran itu menguntungkan terutama untuk masyarakat Muang Datu/Ilir. Sebab jika tak terbendung aliran airnya akan lancar jaya dan hujan yang belakangan irit akan membuat masyarakat Muang Ilir kehabisan air sungai. Padahal beberapa warga masih memanfaatkan air sungai secara langsung dan sebagian lainnya memanfaatkan untuk pertanian.
Saya ingat, beberapa tahun lalu seorang petani yang masih cukup muda pernah mengatakan kalau bertani adalah tentang menahan air. Maka yang dibutuhkan oleh petani bukan aliran sungai yang cepat, air laju mengalir dari hulu ke hilir, melainkan air yang seimbang antara hulu dan hilir.
Dan alam tahu tentang hal itu, makanya aliran sungai selalu berkelak-kelok, lebar sempitnya tidak teratur pun juga kedalamannya dalam sepanjang aliran. Begitulah cara alam membagi air, menyeimbangkan air dan mengantisipasi jika asupan air masuk ke sungai berkurang hingga kemudian sungai tidak cepat mendangkal apalagi sampai kering.
Sayangnya demi alasan mengatasi banjir, mempercantik penampilan kota dan lainnya sungai sering dibuat menjadi seperti parit dari hulu ke hilir lebarnya sama, yang berkelok diluruskan dan kedalamannya juga dibuat sama agar air lancar jaya hingga cepat sampai kelaut.
Dan Sungai Karang Mumus telah mengalaminya, karena dilebarkan dan didalami sementara volume airnya tidak bertambah, air yang mengalir lancar membuat permukaan Sungai Karang Mumus cepat mendangkal.
Untung saja yang nggak punya kerjaan dan iseng menyusuri sungai jumlahnya tak banyak. Sehingga lebih banyak yang menganggap Sungai Karang Mumus makin cantik jelita karena dinormalisasi. Padahal sesungguhnya dengan normalisasi SKM menjadi semakin tidak normal.








