KESAH.ID – Semua Presiden Indonesia sampai dari Sukarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono meski mengakhiri kedudukannya dengan cara yang berbeda-beda namun meninggalkan jejak kepedihan yang sama. Ada yang dipuja-puja lalu dimakzulkan, ada pula yang ketika mengakhiri jabatan partai yang dipimpinnya merosot popularitasnya. Dan dua presiden yang masih hidup, yang sama-sama masih menjadi pembesar partai, kini kerap menjadi korban olok-olok. Akankah Presiden Joko Widodo yang aktif cawe-cawe menyongsong pemilu 2024 akan mengakhiri masa jabatannya dengan riang gembira?.
Saya tak berpretensi untuk meramal atau memperkirakan apakah Presiden Joko Widodo akan mengakhiri dua periode masa kepresidenannya seperti presiden presiden sebelumnya yang tak menyenangkan.
Perihalnya memang beda-beda, namun mulai dari Presiden Sukarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono setelah melewati masa kepresidenannya ada banyak catatan yang menunjukkan bahwa mereka semua tidak mendapatkan penghormatan yang selayaknya. Sekali lagi kasus dan kondisinya berbeda-beda, namun sama-sama tak menyenangkan.
Mari mulai dari Sukarno, yang ketika baru dilahirkan diberi nama Koesno. Namun karena sakit-sakitan maka diganti menjadi Karno. Nama Karno diambil dari kisah pewayangan. Karno yang artinya telinga adalah saudara seibu dari Pandawa Lima, seorang pejuang dan patriot yang saleh.
Namun Sukarno ternyata lebih mengidolakan Bima, satria yang perilakunya tidak seperti para satria lainnya. Cara bicaranya tegas, terkadang kasar dan melawan feodalisme istana.
Sukarno memang lebih menyerupai Bima dengan bicaranya yang berapi-api, berani menyentil sana-sini hingga kemudian kerap membuat panas kuping lawannya.
Menonjol karena kemampuan bicara dan keberaniannya, Sukarno akhirnya diminta oleh para pejuang pergerakan kemerdekaan untuk membacakan naskah proklamasi. Setelah itu Sukarno ditunjuk menjadi Presiden bersama Hatta sebagai wakilnya.
Dielu-elukan sebagai Proklamator dan Pahlawan kemerdekaan Indonesia, Sukarno dipuja bak dewa bukan hanya oleh rakyat tetapi juga petinggi-petinggi negara dan pemerintahan. Tak ada yang mampu mengalahkan sihir dan kewibaan Sukarno.
Namun yang dipuja-puja bak dewa itu pada akhirnya dijatuhkan seperti halnya seorang bandit.
Selama dua tahun mulai dari peristiwa G30S/PKI Sukarno dilemahkan hingga kemudian terusir dari istana negara.
Kejatuhan Sukarno tak lepas dari faktor eksternal, dimana Sukarno sangat getol untuk menghalangi ambisi internasional yang ingin menguasai sumber daya alam Indonesia. Seperti halnya konstitusi, Sukarno berpandangan kekayaan sumber daya alam harus dikelola oleh anak-anak negeri dan demi kepentingan bangsa.
Meski tidak menutup investasi dari dunia luar namun dalam pengelolaan sumberdaya alam peran sentral harus ada di tangan orang pribumi.
Penyebab lain yang kemudian dikembangkan dalam catatan sejarah versi orde baru adalah keterlibatan Sukarno dalam peristiwa G30S/PKI. Namun seiring dengan waktu, penyebab ini gugur karena yang menjadi korban dalam peristiwa itu justru para jenderal yang merupakan loyalis Sukarno.
Jadi penyebab sebenarnya adalah adanya upaya kudeta lewat serangkaian proses yang cukup panjang. Sukarno dikambing hitamkan dan berhasil walau butuh waktu yang cukup lama. Keberhasilan ini tak lepas dari sikap Sukarno yang tak mau melawan. Tentu saja masih banyak loyalis Sukarno, namun Sukarno tidak mau mengerakkan karena tak ingin terjadi perang saudara.
Sebelum 17 Agustus 1967, Sukarno diberi waktu 2 x 24 jam untuk meninggalkan istana negara. Dan Sukarno pun meninggalkan istana dengan hampir tak membawa apa-apa.
Dan setelah itu selama masa orde baru, Sukarno yang masih terus dikagumi itu dituturkan oleh pelajaran sejarah sebagai sosok nasionalis yang kemudian lebih condong pada paham sosialis dan komunis.
Sekeluar dari istana, kisah hidup Presiden Sukarno diwarnai dengan kesedihan. Ada banyak larangan untuknya, termasuk larangan peredaran atas buku dan segala tulisan tentangnya.
Hidup sebagai seorang tahanan rumah, Sukarno meninggal dalam keprihatinan. Dan wasiatnya untuk dimakamkan di bawah pohon rindang tidak diindahkan oleh Suharto. Lewat keputusan yang sangat politis, Suharto memutuskan Sukarno dimakamkan di Blitar.
Alasan Suharto agar Sukarno yang sangat patuh dan hormat pada ibunya itu dimakamkan di dekat ibunya. Namun dibalik alasan yang sangat mulia itu sebernarnya tersembunyi ketidakinginan Suharto atas makam Sukarno yang dekat dengan ibukota.
Maka Sukarno dimakamkan jauh dari ibukota Jakarta agar Suharto tak terganggu oleh kharisma Sukarno sebagai pemimpin besar revolusi walau sudah mati.
BACA JUGA : India Mengubah Nama Jadi Bharat
Suharto resmi ditunjuk menjadi Presiden oleh MPR pada tahun 1968 dan setelah itu terus menerus terpilih hingga kemudian mengundurkan diri pada tahun 1998.
Dijuluki sebagai the smilling general Suharto yang berlatar militer namanya mulai meroket saat memimpin operasi penumpasan G30S/PKI. Meski dijuluki sebagai jenderal yang selalu tersenyum, oleh lawan-lawan politiknya Suharto digambarkan sebagai seseorang yang otoriter.
Jika Sukarno adalah seorang revolusioner, Suharto adalah seorang developmentalis. Pembangunan dan pembangunan yang selalu diwacanakan oleh Suharto. Sebagai pemimpin langkah pertama Suharto adalah mempersilahkan investor asing untuk mengelola sumberdaya alam di Indonesia, alasannya pendapatan dari eksploitasi sumberdaya alam akan dipakai untuk membiayai pembangunan.
Paradigma ini terus berlaku hingga sekarang. Walau nyatanya tak mencukupi hingga kemudian perlu berhutang.
Seperti Sukarno, Suharto juga dipuja-puji. Suharto kemudian diberi gelar Bapak Pembangunan. Berbagai prestasi pembangunan ditorehkan olehnya hingga rakyat seperti rela dipimpin oleh Suharto seumur hidup.
Korupsi, Kolusi dan Nepostisme yang kemudian menguat membuat Suharto tak populer. Kronisme tumbuh subur dan semua bermuara di Cendana, rumah kediaman Suharto.
Bertindak seperti raja, Suharto kerap menerima dan menemui berbagai pihak di rumahnya.
Tahun 1998 menjadi puncak kekecewaan rakyat atas kepemimpinan Suharto selama 32 tahun. Rakyat bergerak melakukan protes dan demo yang bertujuan untuk menjatuhkan Suharto. MPR yang dipimpin oleh orang-orang dekat Suharto akhirnya setuju untuk memakzulkan Suharto, namun sebelum itu terjadi Suharto sudah lebih dahulu mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya kepada Habibie.
Setelah lengser, Suharto menyepi dan tak mau ditemui oleh kongsi politiknya. Rumahnya menjadi sepi dan suram, bahkan cenderung kusam hingga sekarang.
Digantikan oleh Habibie, masa kepresidenannya tak lama. Meski sangat dihormati sebagai bapak teknologi, sebagai presiden Habibie dinilai kedodoran oleh MPR. Pertanggungjawabannya tidak diterima, Habibie juga dituduh menyebabkan Indonesia kehilangan Timor Timur.
Habibie yang mestinya meneruskan pemerintahan hingga tahun 2002, kemudian mempercepat pemilu pada tahun 1999. Setelah tidak lagi menjabat Habibie lebih banyak tinggal di Jerman menghindarkan diri dari hiruk pikuk politik di Indonesia. Warisan peninggalannya juga tak terlalu diperhatikan oleh pemerintah-pemerintah berikutnya.
Hasil pemilu 1999 menempatkan Abdurahman Wahid dalam kursi kepresidenan. Presiden pada waktu itu masih dipilih oleh MPR. Kemenangan Gus Dur menjadi presiden adalah sebuah drama politik yang dimotori oleh Amien Rais.
Gus Dur sebelum terpilih jadi presiden adalah tokoh yang sangat terkenal dan dihormati dalam bidang religius, budaya dan juga kenegaraan. Namun lagi-lagi MPR yang memberikan jalan dan mendudukkannya dalam kursi presiden merasa kecolongan. Gus Dur dinilai ugal-ugalan. Amien Rais yang menaikkan kemudian memotori untuk menurunkan Gus Dur.
Sama seperti Sukarno yang meninggalkan istana tidak membawa apa-apa, Gus Dur juga tampil terakhir kali di istana dengan celana kolor. Walau banyak yang loyal, lagi-lagi seperti Sukarno, Gus Dur juga tidak mau melawan. Karena melawan sama artinya membiarkan pertumpahan darah antar sesama anak bangsa.
Namun berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya, Gus Dur tetap menjadi tokoh publik paska lengser dari kursi kepresidenan.
BACA JUGA : Dua Puluh Persen Lebih Warga Indonesia Tak Punya Handphone
Megawati Sukarno Putri mesti diakui sebagai perempuan terkuat yang melawan Suharto. Perlawanannya sejak dirinya dihambat-dihambat untuk memimpin PDI berakhir dengan peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996. Perjalanan reformasi kemudian mengencang mulai dari sini.
Berhasil membesarkan PDI Perjuangan, pada pemilu 1999 partai besutan putri Sukarno ini meraih suara sangat tinggi, 30 persen lebih. Mestinya Megawati menjadi Presiden perempuan pertama Indonesia yang dipilih oleh MPR. Tapi tak terjadi karena drama soal pemimpin perempuan.
Mega kemudian hanya menjadi wakil dari Abdurahman Wahid. Mesti tersakiti Megawati menerima dan kemudian menjadi Presiden perempuan pertama di Indonesia karena Gus Dur dimakzulkan.
Namun ketika memimpin popularitas Mega dan elektabilitas partainya malah menurun. Pada pemilu 2004 Megawati kalah melawan SBY. Dan ketika maju kembali pada pemilu 2009 ternyata juga kalah.
3 kali Megawati kalah dalam pemilihan Presiden, satu kali kalah lewat intrik di MPR dan dua kali kalah dalam pemilu langsung.
Tak lagi mau maju sebagai calon presiden, Megawati lebih beruntung dari para presiden sebelumnya. Partainya berhasil rebound dengan meraih suara terbesar dalam pemilu dan mendudukkan calon presidennya sebagai pemenang pada pemilu 2014 dan 2019.
Walau begitu popularitas sosok perempuan yang dulu akrab dipanggil Mbak Mega mulai menurun. Dominasinya di PDI Perjuangan cenderung tidak disukai oleh masyarakat luas.
Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden pertama yang dipilih secara langsung. Dua kali pemilu pertama dimenangi olehnya. Partai yang dipimpinnya juga memperoleh suara besar dalam pemilu. Namun pada akhirnya SBY harus mengakhiri masa kepresidenannya dengan pahit, banyak petinggi partainya terjerat korupsi. Dan setelah itu perolehan suara Partai Demokrat terus merosot. Kondisi partainya juga kurang stabil kerap diganggu oleh anasir dari dalam maupun dari luar.
Kini Partai Demokrat dipimpin oleh putranya, namun SBY masih mesti ikut cawe-cawe terus. Walau begitu Demokrat masih sering kena prank.
Di luar kebiasaan, menjelang akhir masa kepresidenannya ternyata tingkat popularitas Joko Widodo masih tinggi. Hasil survey dari LSI Denny JA di bulan Agustus 2023, tingkat kepuasan publik pada kinerja Joko Widodo masih sangat tinggi, 78 persen.
Dan tidak seperti pemilu-pemlu sebelumnya, menjelang pemilu 2024 ini nama Joko Widodo tak bisa dilepaskan dari dinamika pemilu. Semua capres berharap dukungan darinya, seolah siapa yang didukung oleh Presiden Joko Widodo yang akan menang.
Akankah cawe-cawe Presiden Joko Widodo menghadapi pemilu 2024 akan membawa kisah yang berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya. Kisah bahwa presiden yang menang pada pemilu 2024 nanti akan dianggap sebagai penerus Jokowi.
Jika begitu maka Joko Widodo akan membuka lembaran kisah baru, bukan kisah yang menyedihkan sebagaimana presiden-presiden sebelumnya.
Semoga Jokowi membawa kisah yang berbeda dan membawa tradisi yang baru, kisah seorang presiden yang mengakhiri masa pemerintahannya dengan bahagia.
note : sumber gambar ilustrasi – PEMIMPIN.ID








