KESAH.ID – Masyarakat Dayak menguasai rekayasa alat tangkap vernakular yang memanfaatkan material hayati belantara dan pemahaman hidrodinamika air. Dari jebakan bambu fleksibel berfitur ijir presisi, jaring raksasa pelawan arus, hingga teknik pembiusan ramah lingkungan berbasis tanaman tuba, teknologi perikanan pedalaman ini dirancang selektif demi menjaga keberlanjutan ekosistem sungai. Teknik dan alat tangkap masyarakat Dayak adalah sebuah bukti bagaimana adaptasi teknologi lokal mampu memanen kekayaan air tanpa merusak regenerasi kehidupan di dalamnya.
Di tengah jejaring ribuan sungai, anak sungai, dan rawa banjiran (lebak) yang membelah pedalaman Kalimantan, air adalah arena kehidupan sekaligus penyedia protein utama bagi masyarakat Dayak. Menguasai potensi perairan tropis yang ganas—dengan fluktuasi arus pesat, riak jeram yang membatu, serta siklus pasang surut yang dinamis—membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ia menuntut pemahaman mendalam atas perilaku satwa air serta rekayasa alat tangkap bernakular yang memanfaatkan material hayati dari belantara.
Kejeniusan teknologi perikanan Dayak terwujud dalam ragam jebakan air (traps) yang dirancang fleksibel namun sangat tangguh. Salah satu instrumen paling ikonik adalah bubu dan luyung. Bubu dirakit dari jalinan bilah-bilah bambu atau rotan pilihan yang diikat menggunakan serat akar pohon yang tahan lapuk oleh air. Prinsip kerja bubu mengandalkan rekayasa mekanis berupa ijir atau pintu masuk berbentuk kerucut terbalik di bagian dalam. Ijir memungkinkan ikan masuk dengan mudah mengikuti arus atau tergiur umpan, namun menghalangi ikatan sisik dan sirip ikan untuk berbalik arah keluar, mengunci hasil tangkapan secara otomatis di dalam tabung tanpa melukai binatang tersebut.
Selain bubu, masyarakat Dayak menciptakan pengilar dan pukat jala berpemberat alami. Untuk menangkap spesies ikan berukuran besar di dasar sungai berarus deras, digunakan ambung atau salambau—jaring tanguk raksasa yang dibingkai kerangka kayu bentang kokoh dan dioperasikan dari tepi rakit atau tebing sungai menggunakan sistem tuas kayu. Sementara itu, untuk wilayah perairan dangkal dan rawa banjiran, instrumen seperti tembila, serapah, serta tombak ikan (serapang) bertangkai panjang menjadi andalan. Mata serapang yang berjeruji tiga hingga lima mata besi membuktikan kemampuan penempaan logam lokal yang disesuaikan untuk mencengkeram tubuh ikan yang licin di dalam air.
Pemilihan bahan baku alat tangkap menunjukkan kecerdasan etnobotani yang amat tinggi. Jenis bambu yang digunakan—seperti bambu tamiang atau bambu betung—harus melalui proses perendaman (curing) di lumpur sungai selama berminggu-minggu sebelum dianyam. Proses ini bertujuan melarutkan kandungan gula alami di dalam serat bambu sehingga tahan terhadap serangan ngengat air, tidak mudah rapuh, dan tetap lentur saat dihantam arus sungai yang deras.
BACA JUGA : Olahan Pangan
Teknologi alat tangkap masyarakat Dayak tidak beroperasi secara terisolasi, melainkan terintegrasi secara presisi dengan penanggalan iklim lokal (sains musim) serta pemahaman mendalam atas etnologi satwa perairan. Masyarakat Dayak sangat menguasai fenomena ketinggan atau ikan mudik—yakni pergerakan massal ribuan ikan sungai yang beruaya dari hulu ke hilir atau sebaliknya untuk memijah saat transisi musim kemarau ke musim hujan (musim tenggara dan musim barat).
Pada periode uaya massal ini, masyarakat menerapkan rekayasa penangkapan berskala komunal melalui pembuatan pembatang atau empang. Pembatang adalah konstruksi pagar pemblokir sungai sementara yang dirakit dari deretan batang kayu ulin dan jaringan bambu melintang. Pagar ini tidak menutup seluruh badan sungai secara total, melainkan menyisakan celah navigasi alami di bagian tengah atau menyediakan rongga-rongga khusus yang mengarahkan laju ikan langsung masuk ke dalam bubu raksasa (bubu tambak) yang telah dipasang di titik-titik penyempitan arus.
Di balik efektivitas teknologi perangkap ini, tersimpan etika konservasi lingkungan yang amat ketat dan mengakar dalam hukum adat. Ukuran kerapatan bilah anyaman bubu, pengilar, maupun lubang jala (mesh size) ditakar secara terukur. Anyaman sengaja dibiarkan memiliki kerapatan yang cukup longgar agar anakan ikan yang masih kecil dapat lolos dengan bebas, sementara hanya ikan dewasa yang tersaring. Praktik ini memastikan bahwa regenerasi populasi ikan di ekosistem sungai tetap terjaga secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.
Tradisi penangkapan ikan secara alami juga mengenal teknik pembiusan ramah lingkungan menggunakan racun nabati (tuba atau tubo). Akar tanaman tuba (Derris elliptica) ditumbuk bersama di atas rakit, lalu dilarutkan ke dalam aliran sungai yang tenang secara bergotong-royong. Zat rotenon yang terkandung dalam akar tuba bekerja secara spesifik menurunkan kadar oksigen di dalam air dan melumpuhkan sistem pernapasan ikan secara sementara tanpa meracuni daging ikan sehingga tetap aman dikonsumsi manusia. Ikan-ikan kecil yang mabuk akan dengan mudah pulih kembali setelah hanyut terbawa aliran air segar di hilir, sementara masyarakat hanya mengambil ikan-ikan besar sesuai kebutuhan komunal.
BACA JUGA : Abu dan Tunas
Seiring bertiupnya angin modernisasi dan komersialisasi sektor perikanan darat, teknologi alat tangkap tradisional Dayak kini menghadapi ancaman eksistensial yang serius. Masuknya jala nilon buatan pabrik, senar pancing sintetis, serta penggunaan alat tangkap destruktif seperti penyetruman listrik (genset/Aki) dan racun kimia sintetis (seperti potasium atau pestisida) secara perlahan menggeser eksistensi bubu, pengilar, dan racun tuba alami di pedalaman.
Penggunaan alat tangkap modern yang tidak selektif tersebut membawa dampak fatal bagi keseimbangan ekosistem perairan Kalimantan. Penyetruman listrik dan racun kimia membunuh seluruh organisme air tanpa pandang bulu—dari telur ikan, mikroorganisme bentos, hingga anakan ikan yang belum sempat memijah. Akibatnya, populasi ikan endemik bernilai tinggi seperti kelabau, jelawat, patin sungai, dan udang galah mengalami penurunan drastis di sepanjang aliran sungai-sungai utama.
Di samping itu, perubahan bentang alam akibat ekspansi perkebunan monokultur, pencemaran limbah tambang, serta sedimentasi lumpur erosi telah merusak habitat pijah alami (spawning ground) dan melumpuhkan navigasi ikan sungai. Sungai-sungai hulu yang dahulu jernih kini meluap dan keruh saat hujan, namun dangkal mendadak saat kemarau. Kondisi ini membuat alat tangkap tradisional seperti bubu dan pembatang kayu makin sulit dioperasikan secara efektif.
Meskipun digempur tantangan zaman, nilai-nilai dasar dari teknologi alat tangkap tradisional Dayak tetap memancarkan kebenaran ekologis yang relevan. Kejeniusan merakit alat dari biomassa lokal, prinsip selektivitas ukuran tangkapan, serta kearifan menjaga siklus uaya ikan adalah fondasi utama bagi tata kelola perikanan darat yang berkelanjutan. Merekam dan merawat pengetahuan vernakular ini bukan sekadar upaya melestarikan memori kebudayaan, melainkan syarat mutlak untuk menyelamatkan kekayaan hayati sungai-sungai Nusantara agar tetap hidup memberi penghidupan bagi masa depan.
note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM








