KESAH.ID – Sampai dengan seri kelima moto GP 2023, dua pabrikan Jepang yakni Honda dan Yamaha masih terseok-seok mengejar ketertinggalan dari motor Eropa. Pembalap Yamaha frustasi sementara pembalap Honda lebih banyak jatuhnya hingga Honda dan Yamaha sulit mendulang poin yang angkanya makin besar karena ada dua balapan dalam setiap serinya.
Mengantongi poin 325 di GP Thailand, Marc Marquez pada tahun 2019 mengunci gelar juara dunia saat balapan moto GP masih menyisakan 4 race.
Menjuarai balapan jet roda dua keenam untuk keenam kalinya, tahun 2019 menjadi akhir dari dominasi MM 93 dalam kelas utama moto GP sejak tahun 2013.
Antara tahun 2020 hingga balapan awal 2023 Marc Marquez banyak istirahat karena cidera.
Seiring dengan cidera yang terus menerus menimpa Marquez, kedigdayaan motor buatan Jepang di ajang moto GP makin melempem.
Tahun 2020 Johan Mir memang merengkuh juara dunia dengan Suzuki dan disusul Fabio Quartararo dengan Yamaha.
Namun sebenarnya sejak tahun 2019 mulai kelihatan bahwa Ducati dan motor pabrikan Eropa lainnya seperti KTM dan Aprilia mulai menunjukkan kelebihannya.
Marc Marquez kerap keteteran saat harus berpacu di track lurus dengan Dovisioso yang mengendarai Ducati. Di track lurus Ducati melesat seperti peluru.
Pun juga ketika di tikungan. Begitu keluar tikungan, Ducati dengan cepat bisa segera melesat, cornering speed-nya ajaib.
Meski jarang mengeluh, pembalap Honda selain Marc Marquez kerap mengatakan Honda mempunyai mesin yang garang tapi sulit untuk dibelokkan.
Ducati tinggal menunggu waktu untuk mengangkat trofi juara dunia.
Tahun 2022 akhirnya Francesco Bagnaia, pembalap didikan akademi balap VR 46 membawa Ducati menjuarai balapan moto GP.
Bersamaan dengan itu, Suzuki pabrikan asal Jepang mundur dari arena moto GP karena kesulitan keuangan untuk mengembangkan motornya.
Berhasil menjuarai moto GP di tahun 2020, tidak mengangkat angka penjualan motor Suzuki.
Pabrikan asal Eropa semakin serius dengan pengembangan motornya sementara Jepang makin surut. Selain mundurnya Suzuki, Yamaha hanya turun dengan dua pembalap, tidak punya tim satelit.
Dan Honda meski mempunyai 4 pembalap namun tanpa kehadiran MM 93, pengembangan motornya kocar-kacir.
Mundurnya Dani Pedrosa, pembalap utama Honda selain Marc Marquez, belum tergantikan.
Jorge Lorenzo, Alex Marquez, Pol.Espagaro dan Johan Mir kesulitan mengendarai Honda di lintasan balap.
Sementara motor Eropa turun full team, selalu mempunyai tim satelit. Bahkan Ducati mempunyai 8 pembalap.
Motor Eropa seperti mengeroyok motor Jepang di lintasan yang hanya menurunkan 6 motor di arena balapan pada tahun 2023 ini.
Format baru yang diperkenalkan di kelas utama moto GP, membuat motor Jepang makin menderita.
Balapan di kelas utama ada dua yakni Sprint Race di hari Sabtu dan Main Race di hari Minggu.
Turun dengan 8 motor, team Ducati merajalela, bukan hanya pembalap utama melainkan juga pembalap tim satelitnya.
Penunggang motor Eropa lainnya, KTM dan Aprilia juga terus unjuk gigi memperlihatkan perkembangan motor Eropa yang semakin jelas didepan, dibanding Honda dan Yamaha.
BACA JUGA : 25 Tahun Reformasi, Dari Wartawan Hingga Partai Bodrex
Regulasi teknis di motor GP mengisyaratkan penggunaan ban yang seragam. Saat ini ban yang digunakan adalah Michelin.
Dan sejak tahun 2016, ECU yang digunakan juga sama.
Meski tak diwajibkan, perangkat pengereman yang digunakan umumnya juga sama yakni buatan Brembo, Italia.
Sementara suspensi mengandalkan produk Ohlins dari Swedia dan knalpot Akraprovic.
Motor yang dipakai dalam balapan moto GP adalah motor prototype, motor yang hampir tak mungkin dikendarai di jalan raya atau tidak ditujukan untuk produksi massal.
Motor yang harganya amat mahal ini mempunyai sistem yang rumit, sebagian besar kendali motor diatur secara elektronis.
Perangkat untuk mengaturnya disebut Elektronic Control Unit atau ECU.
ECU yang dipakai produksi Magneti Marelli dari Italia.
Terlalu bertumpu pada ECU untuk menangkap data dari kurang lebih 56 sensor elektronis membuat para legenda moto GP mulai dari Giancomo Agustini, Casey Stoner hingga Valentino Rossi menyebut motor di kelas utama moto GP sebagai robot.
Kendali motor lebih banyak berada di dalam perangkat elektronis yang disetting oleh para teknisi berdasarkan data kinerja perangkat motor saat berada di lintasan.
Diantara tim-tim yang berlaga di moto GP nampaknya para insinyur Ducati yang paling piawai melakukan kalibrasi sehingga Ducati menjadi motor yang paling sempurna di lintasan moto GP.
Gap antara pembalap Ducati baik yang berada di tim pabrikan maupun tim satelit atau independen tidak terlalu jauh. Mereka bersaing secara kompetitif.
Meski semua motor bisa saja sama sama kencang namun motor Ducati lebih punya cornering speed yang baik, dengan cepat berakselerasi begitu keluar dari tikungan tanpa banyak goyangan.
Ban belakang dan ban depan Ducati seperti menapak kencang di aspal lintasan.
Meski belum sesempurna Ducati, motor Eropa lainnya yakni Aprilia dan KTM juga lebih baik dibanding dengan motor dari Jepang.
Honda dan Yamaha nampak jelas keteteran di seri 2023 ini.
Alex Rins pembalap HRC Honda sempat menunjukkan perlawanan di sirkuit COTA Amerika Serikat, namun lebih karena sirkuit tersebut merupakan sirkuit kesukaannya.
Marc Marquez dari Tim Repsol Honda yang baru mengikuti dua dari 5 balapan yang diselenggarakan, juga sempat menunjukkan perlawanan.
Pembalap yang suka menggeber motor seolah tidak ada hari esok ini, terpaksa juga menyerah. Bersama rekan satu timnya, Marc Marquez dan Johan Mir menjadi pembalap yang kerap jatuh di lintasan. Mir seperti gagal menguasai motor Honda sementara Marc mesti memaksa motornya dengan prinsip menang atau jatuh.
Setiap kali menyelesaikan balapan tanpa jatuh, wajah MM 93 akan nampak kelelahan. Tenaganya terkuras karena selama balapan harus mengerahkan tenaga untuk mengendalikan motor yang goyang sepanjang balapan.
Motor bergiyang karena Marquez harus terus menjaga kecepatan, gas pol lalu mengerem dengan sangat dalam di tikungan agar tak kehilangan kecepatan.
Meski berupaya keras dan mampu menyajikan saling salip dengan pembalap lainnya namun menjelang akhir balapan Marc Marquez akan kehabisan grip ban yang membuatnya tak mungkin memacu motor sekencang mungkin karena sedikit kesalahan saja akan membuatnya mencium aspal.
Kini walau poin yang diperolehnya tergolong buncit namun tanpa Marc Marquez motor GP terasa hambar. Kehadiran Marquez selalu membuat lintasan balap jadinlebih manusiawi, pembalap lain jadi sering emosi sehingga ada drama di lintasan.
Tanpa Marquez, lintasan balap moto GP seperti menjadi ajang unjuk hebat motor, bukan persaingan antar pembalap.
Balapan moto GP dari tahun 2020 hingga 2022, saat MM 93 banyak istirahat menjadi seri balapan paling sopan dalam sejarah moto GP. Tak ada pembalap saling memaki atau marah-marah pada pembalap lainnya.
BACA JUGA : Pencitraan Politik
Fabio Quartararo, pembalap dari Perancis dianggap menjadi suksesor Valentino Rossi di Yamaha.
Pembalap dengan gaya berkendara halus ini merupakan penantang paling utama dari Francesco Bagnaia untuk memperebutkan trofi juara dunia 2023.
Namun Fabio gagal memanfaatkan kesempatan, termasuk kala Marc Marquez dan Enea Bastianini absen karena cidera
Ketidakhadiran dua pembalap yang juga dianggap sebagai penantang Bagnaia tidak mampu membuat Fabio Quartararo kompetitif.
Fabio yang kalem dan tenang menjadi pembalap yang paling sering meneguhkan motornya di ajang balapan 2023 ini.
Saking frustasinya, Fabio bahkan sampai meminta motornya dikembalikan ke spek dan setting tahun 2021, saat dia berhasil membawa Yamaha menjadi juara dunia.
Situasi ini membuat paddock Yamaha jadi panas. Seolah pengembangan motor Yamaha menjadi sia-sia. Keluhan Fabio seperti mengulang kembali keluhan Rosi saat masa akhir-akhir menunggang Yamaha.
Bedanya, meski Rosi tak lagi merengkuh trofi juara setelah kedatangan Marc Marquez di kelas utama Moto GP. Namun Rosi tetap bisa mendongkrak penjualan motor Yamaha.
Sementara Fabio, walau berhasil meraih gelar juara dengan Yamaha namun penjualan motor Yamaha secara global cenderung menurun. Fabio tak mampu mengangkat brand Yamaha.
Maka Rosi baru-baru ini diangkat menjadi brand ambassador Yamaha meski tak lagi membalap. Bahkan Yamaha mengesampingkan kenyataan bahwa Rosi mempunyai tim balap yang memakai motor Ducati.
Seperti kehilangan arah, masa depan Yamaha di moto GP kemudian dipertanyakan. Ada banyak pihak yang menduga Yamaha bisa menyusul Suzuki meninggalkan ajang moto GP.
Senjakala motor-motor Jepang di ajang balap moto GP mulai terlihat. Tahun 2023 dan 2024 menjadi tahun yang krusial, jika Honda dan Yamaha tak mampu keluar dari kesulitan, mungkin moto GP akan didominasi oleh motor-motor Eropa.
Ada yang mengusulkan biar lebih seru, motor-motor yang berlaga di kelas utama moto GP dikurangi perangkat elektronis dan aerodinamikanya, agar kepiawaian pembalap menjadi yang utama untuk mengendalikan motornya.
Motor yang serba canggih membuat balapan moto GP menjadi amat mahal.
Andai saja ongkos untuk membangun tim balap di motor GP tidak terlalu mahal mungkin ada banyak pabrikan lain yang bisa ikut serta.
Alangkah serunya jika balapan moto GP juga diikuti oleh motor Piaggio, BMW, Triumph, MV Agusta, Kawasaki dan lainnya.
Bahkan akan lebih asyik lagi jika Bajaj dari India dan Benelli dari China bisa ikut serta.
note : sumber gambar – SPORTSTARS.ID







