KESAH.ID – Masyarakat memang punya wakil untuk bersuara. Hanya saja dalam skema koalisi para wakil rakyat kerap kali kehilangan keberanian untuk menyuarakan keresahan rakyat atas kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada mereka yang paling menderita.
Rabu dan Jum’at lalu sebelum kenaikan harga BBM diumumkan sudah ada demo sekelompok mahasiswa untuk menolak kenaikan harga BBM.
Isu kenaikan masih desas-desus dan sekelompok mahasiswa yang demo di depan kantor Gubernur Kaltim yang konon jumlahnya tak banyak berhasil memblokir salah satu jalur jalan. Arus lalu lintas dialihkan oleh polisi, menyebabkan macet di beberapa titik.
Dan seperti biasa di media sosial mulai berseliweran aneka selonongan postingan mengomentari aksi mahasiswa yang oleh sebagian masyarakat dianggap tidak perlu.
Sabtu {3/9/2022} lewat tengah hari Presiden Jokowi mengumumkan penyesuaian harga untuk Solar dan Pertalite. Kenaikan akan berlaku sejak jam 14.30, satu jam setelah diumumkan.
Kebijakan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi tak bisa lagi dihindari oleh Presiden Jokowi setelah sekian bulan berakrobat menahan dampak ekonomi akibat perang Rusia Ukraina.
Awalnya BBM berkasta tinggi yang dinaikkan dan diiringi dengan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi. BBM bersubsidi harus dibeli dengan aplikasi MyPertamina.
Pemerintah pasti ingin BBM bisa dinikmati secara murah meriah oleh masyarakat. Namun kemampuan uang negara selama lama semakin lemah untuk menahan beban subsidi.
Subsidi dan kompensasi untuk BBM di tahun 2022 ini sudah melampaui angka 500 trilyun. Angka yang besar dan dianggap tidak tepat sasaran karena yang menikmati justru mereka yang mampu.
Artinya subsidi ternyata tidak tepat sasaran.
Maka menurut Presiden Jokowi jauh lebih tepat jika subsidi atau kompensasi BBM dialihkan lewat bantuan yang lebih tepat sasaran. Yakni Bantuan Langsung Tunai untuk keluarga yang tidak mampu dan para pekerja yang gajinya dibawah 3,5 juta rupiah.
Alasan subsidi yang tidak tepat sasaran adalah alasan lama, yang sejak lama pula tidak ditemukan cara mengatasinya. Pun yang disebutkan dengan Bantuan Langsung Tunai baik untuk keluarga maupun pekerja, apakah tepat sasaran atau tidak juga bisa dipertanyakan.
Soal BBM sepertinya hitungannya rumit atau memang sengaja dibikin ruwet hingga tak pernah jelas bagaimana menghitungnya, demikian juga harga keekonomiannya, sehingga tak perlu lagi membebani anggaran negara sampai berdarah-darah.
Tapi urusan BBM seperti melepas kepala tapi memegang ekornya, naik-naik ke puncak gunung terus namun tetap saja beban subsidi tak pernah lepas.
Jadi jangan dikira Pertalite yang harganya kini jadi 10 ribu dan Solar yang seliternya lebih dari 6 ribu tidak merupakan harga subsidi lagi.
Andaikan tidak disubsidi lagi maka harga BBM akan mengikuti harga pasar, sehingga tidak hanya naik terus melainkan juga akan turun jika harga minyak dunia turun.
Sayangnya berapa harga keekonomian BBM hitungan dari badan atau kementerian yang berbeda, berbeda pula angkanya.
Maka wajar jika setiap kali ada kenaikan harga BBM banyak yang mempertanyakan. Sebab kenaikan harga BBM akan selalu memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Beban kenaikan harga BBM berbeda dengan kenaikan harga rokok, sepatu, uang sekolah dan lain sebagainya.
Segala-gala bisa naik gara=gara kenaikan harga BBM, hanya harga diri yang turun.
BACA JUGA : Beribu Cerita Hantu Yang Laris Difilmkan
Di dalam negara demokrasi masyarakat bebas mengomentari atau beropini atas kebijakan pemerintah. Keputusan Presiden Jokowi untuk menaikkan harga BBM-pun tidak haram untuk dipuji, misalnya sebagai sebuah keputusan yang berani.
Tapi tidak mengapa juga jika ada yang berpendapat bahwa keputusan ini merupakan bentuk penumbalan rakyat, uang untuk rakyat dikurangi agar bisa digunakan untuk membangun IKN yang gagal menarik investor luar negeri.
Dan di media sosial perang opini atas naiknya harga BBM pun terjadi.
Sepanjang argumennya kuat, baik menolak atau mendukung tetap enak dibaca. Masalahnya tidak semua punya nalar yang tertib, hingga kemudian bikin perut mules saat membacanya.
Seperti status nyinyir yang membandingkan antara kenaikan harga rokok dan harga BBM. Yang mana si penulis status kesal pada perokok yang tetap membeli rokok walau harga rokok terus naik, nggak ada yang protes atau demo besar-besaran untuk menentang kenaikan harga rokok.
Tapi begitu harga BBM naik, ributnya bukan main, seolah dunia akan kiamat lalu mengajak semua orang untuk demo mendesak pemerintah untuk membatalkan keputusannya.
Nyinyiran kesal pada penentang kenaikan harga BBM tentu saja sah, tapi salah besar jika membandingkan apple to apple antara rokok dan BBM.
Rokok itu urusan privat walau dalam beberapa tahun terakhir mulai ada intervensi besar secara politik dan publik. Sedangkan BBM adalah urusan wajib negara atau pemerintahan, kewajiban umum yang harus dipenuhi.
Naiknya harga rokok tertentu hingga tembus diatas 25 ribu tidak membuat perokok kehilangan arternatif. Masih ada rokok lain yang murah meriah, karena tidak diproduksi oleh pabrik raksasa.
Sejak tahun 2018, rokok-rokok yang diproduksi oleh perusahaan kecil atau bahkan industri rumahan kemudian mulai mendapat tempat.
Memang tak semuanya legal, tapi bukan berarti kualitasnya abal-abal. Beberapa merek yang beredar di pasaran dan laris manis, jika diperhatikan betul cukainya kerap tidak cocok. Rokok yang isinya 20 dilabeli dengan cukai untuk rokok 10 atau 12 batang.
Lain rokok lain pula BBM. Ketika BBM naik tentu tidak ada alternatif lain, tidak ada penjual BBM lain yang memproduksi dan menjual BBM nya lebih murah dari Pertamina. Kalau ada yang menjual lebih murah pasti akan diperingatkan oleh pemerintah, seperti yang dilakukan oleh Vivo, yang mempunyai jaringan SPBU di beberapa kota besar.
Andaipun bisa membuat sendiri, misalnya mengolah sampah plastik menjadi BBM ya hanya bisa dipakai sendiri, kalau dijual bisa dipersoalkan oleh pemerintah, karena tidak punya ijin mengolah dan mendistribusikan BBM.
Makanya penambang minyak bumi tradisional kemudian disebut sebagai penambang illegal oleh pemerintah karena tidak berijin.
Jadi siapapun yang gundah soal kenaikan harga BBM, jangan mulai membuat perbandingan yang tidak selevel. Membandingkan dua hal yang secara substansial berbeda dengan keyakinan yang super tinggi akan membuat kita jatuh dalam sesat pikir.
Sesat pikir yang membuktikan bahwa kebodohan memang tak punya batas.
BACA JUGA : Jokowi Presiden Ketujuh Telah Tujuh Kali Menaikkan Harga BBM
Sejak kemarin saya sudah mendengar akan ada demonstrasi kelompok mahasiswa dalam jumlah yang cukup besar di depan Kantor Gubernur Kaltim pada hari Selasa, 6/9/2022.
Seperti biasa saya ikut memantau dari warung kopi.
Kali ini sambil menyeruput segelas kopi hitam, saya ditemani sebungkus Sigaret Kretek Tangan bermerek Juara.
Rokok ini sudah lama saya cari-cari, namun di warung yang memasang spanduknya sekalipun penampakannya tak ada.
Hingga ketika tak sengaja saya melihatnya di sebuah warung maka langsung saya beli.
Terus terang saya penasaran karena beberapa teman menyebut rokoknya berbau dan berasa teh manis.
Dan betul ketika saya buka bungkusnya, aroma jasmine tea-nya tercium kuat, saat saya lekatkan sebatang dihidung rasa manisnya juga tercium.
Unik sekali, flavoringnya berbeda dengan kebanyakan SKT lainnya yang umumnya tercium aroma kreteknya yang spicy.
Dilihat dari harganya tidak terbilang murah-murah amat, kelas mediumlah walau kemungkinan memang pasar yang disasar adalah perokok kelas menengah ke bawah.
Dari kejauhan kemasan berwarna kuning kecoklatan sepintas seperti SKT Djarum 76. Tapi kalau diperhatikan dengan seksama akan kelihatan jauh berbeda nuansanya.
Detail desain bagian depan dan belakang kemasan rokoknya rapi, ada corak ragam hias yang bernuansa heritage yang dibatasi oleh bingkai dengan efek emboss tipis. Jika disapu dengan tangan tekstur embossnya akan terasa.
Jika digerak-gerakkan bingkai dan tulisan JUARA akan berpendar seperti hologram. Dan keseluruhan kertas kemasannya ternyata mempunyai patern garis bergelombang.
Rokok ini dibuat oleh PT. Trisakti Purwosari Makmur, Pasuruan Jawa Timur yang konon bekerja sama dengan KT&G {Korea Tobacco & Ginseng – Korea Tomorrow & Global Cooporation}, perusahaan konglomerasi dari Korea Selatan yang punya portofolio dalam penjualan tembakau dan banyak bisnis lainnya.
Sebelum dibakar dan disedot asapnya rasa manis sudah terasa di bibir. Sepertinya pemanis bukan hanya di kertas rokok tapi juga dalam tembakaunya.
Nyala pertama dan kepulan asapnya segera terasa betapa kuat aroma tehnya. Mirip seperti tengah menyesap dan membaui segelas teh manis.
Sebagaimana segelas kopi yang dalam sesapannya kerap menyertakan sensasi buah atau fuity, sedotan asap kretek Juara juga lamat-lamat menyisakan memori rasa pada buah lecy. Spicy atau pedas rempah yang biasa kuat pada sebatang kretek tidak terlalu dominan. Hampir tak tertangkap bauan cengkeh, yang lebih terasa justu adas dan kayu manis.
Rasanya hangat dan segar di mulut, walau masih menyisakan sedikit kelat di langit-langit rongga mulut, tapi tidak mengapa toh teh memang biasa menyisakan rasa itu.
Pukulan asapnya di tenggorokan terasa lembut tidak menyentak seperti mau tersedak. Tarikannya juga tidak berat-berat amat, mantap namun masih cukup nyaman.
Hanya saja karena terbiasa merokok SKM bold, tetap saja setelah beberapa batang mulut terasa berat dan lelah.
Rasanya tak mampu untuk terus menerus menghisap SKT beraroma unik ini tanpa selingan rokok filter yang ringan.
Tapi rokok SKT Juara memang juara. Seperti para mahasiswa yang berdemo sejak mentari bersinar terik hingga kemudian surup di ufuk barat. Tetap bertahan di depan kantor Gubernur Kaltim menyuarakan penolakan atas keputusan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.
Sore sebelum magrib, saya sempat lewat di tengah kerumunan mahasiswa yang masih semangat berorasi. Terus bersuara meski saya yakin sebagian besar menahan haus dan lapar juga badan yang terasa jenggah karena perlu segera mandi.
Sampai lewat jam 7 malam masih ada kiriman gambar di group yang menunjukkan mereka masih bertahan disana, disertai pesan “Lanjut sampai turun BBM”.
Saya melihat-lihat foto yang dikirimkan sambil menghisap dalam-dalam sebatang rokok SKT Juara sisa di bungkus siang tadi.
Teruslah bersuara para juara karena wakil rakyat kita diam semua.
note : sumber gambar FLICKR.COM








