Vicky Prasetyo mulai dikenal saat berhubungan dengan Zaskia Gotik. Berada dalam lingkungan dan berhubungan dekat dengan artis membuat Vicky kerap diwawancarai oleh media dengan label infotainment sebagai sumber berita.
Menjelang acara lamarannya dengan Zaskia, Vicky dirundung masalah. Polisi hendak menciduknya karena kasus penipuan. Situasi itu membuatnya tertekan sehingga ketika diwawancarai oleh awak media, Vicky Prasetyo kerap memberi jawaban yang dipenuhi kata-kata atau kalimat yang ajaib.
Semenjak saat itu gaya bicara Vicky dikenal sebagai Vickynisasi. Latar belakang dan pengalaman hidupnya yang penuh kontroversi dipadu dengan gaya bicara yang bombastik, mengantar Vicky menjadi seorang penampil di layar kaca selepas keluar dari penjara.
Vicky menjadi seorang artis tidak melalui serangkaian audisi, dia meroket karena momentum.
Dan itu dimanfaatkan dengan baik olehnya dengan terus menciptakan berbagai kontroversi, terutama dalam dunia percintaannya. Hubungannya dengan beberapa perempuan terus diwarnai oleh berbagai drama.
Diuntungkan oleh keadaan, Vicky tak sekedar menikmati keberuntungan itu melainkan juga mengekploitasi dengan penuh usaha. Termasuk harus berlatih tinju untuk manggung melawan anak dari mantan istrinya.
Vicky pintar memanfaatkan keberuntungan meski caranya kadang-kadang seperti orang tidak tahu diuntung.
Dalam dunia hiburan tanah air, pola-pola pesohor semacam Vicky bukanlah pola tunggal. Ada banyak pesohor lain yang atas salah satu cara berlaku seperti dirinya. Pola ini dimungkinkan karena dunia hiburan mempunyai saluran dan gaya sendiri dalam pemberitaan.
Jauh sebelum dunia selebritas akrab dengan kanal infotainment, dunia pemberitaan terutama media cetak juga pernah akrab dengan istilah Koran Kuning. Koran yang kata seorang teman jika digulung dan diremas keras maka akan meneteskan darah, air mata dan cairan tubuh lainnya karena isi beritanya yang bombastik. Bombastik karena mengekplotir penderitaan, kejahatan dan seksualitas manusia.
Bersamaan dengan maraknya Koran Kuning, layar perak Indonesia juga sedang bergairah. Film Indonesia sedang jaya-jayanya dengan temanya tak jauh berbeda dengan isi koran. Di bioskop yang posternya masih dilukis dengan tangan setiap hari diputar film-film yang judulnya amat bombastik.
Wajah dan pose yang menggoda dari Eva Arnaz, Enny Beatrice, Sally Marcellina, Gitty Srinita, Meriam Bellina, Inneke Koesherawaty, Dyah Permatasari, Ayu Azhari, Kiki Fatmala, Lela Anggraeni, Windy Chindyana, Malvin Shayna dan lain-lain membuat anak-anak remaja rajin ke bioskop memanfaatkan kartu osis untuk dapat potongan harga.
Membaca judul film seperti Selingkuh, Bergairah di Puncak, Intan Perawan Kubu, Perawan di Sarang Penyamun, Ranjang Ternoda, Misteri Janda Kembang, Pencet Sana Pencet Sini, Pergaulan Ranjang Pemikat, Cinta di Balik Noda, Wanita dalam Gairah, Kenikmatan Tabu, Bercinta dalam Badai, Permainan di Balik Tirai, Bunga Pramuria dan lain-lain, sulit bagi anak-anak muda yang tengah bergelora untuk tak tergoda menyaksikannya.
Film dengan judul yang bombastik dan berisi rangkaian adegan yang mengumbar paha serta belahan dada biasanya membuat penonton yang mengebu-ngebu kecewa. Yang dicarinya tidak ada atau dipotong oleh gunting sensor.
Tapi seperti orang yang percaya dukun, begitu menemui dukun tak manjur bukannya kapok melainkan mencari dukun lain yang dianggap lebih ampuh. Pun begitu dengan penontong film Indonesia saat itu, begitu ada judul yang heboh ya nonton lagi.
Judul-judul yang bombastik selalu membuat orang tergoda dan terperdaya.
BACA JUGA : Selamat Menempuh Hidup Baru Maudy Ayunda, Istirahat Dalam Damai Buya Maarif
Bombastic Words atau kata-kata bombastik jika dirunut ke belakang sebenarnya sudah akrab dengan peradaban manusia sejak semula manusia bisa menguasai bahasa.
Sebagian besar percakapan antar manusia dengan medium bahasa memang penuh dengan nuansa mengatakan hal-hal yang tidak sebenarnya.
Salah satu yang mencerminkan hal-hal yang tidak sebenarnya adalah kata-kata bombastik.
Dalam berbagai kamus bahasa, bombastik diartikan sebagai kata muluk-muluk. Seseorang mengucapkan kalimat yang dipenuhi dengan kata-kata tinggi tapi maknanya tak ada. Umumnya orang melakukan hal ini agar kelihatan hebat.
Selain dalam pergaulan, kata-kata bombastik dengan mudah ditemui dalam iklan-iklan penjualan. Iklan biasa dipenuhi dengan segala sesuatu yang melebih-lebihkan. Ditangan seorang ahli marketing, barang atau jasa yang nggak bermutu dan sebenarnya tidak diperlukan amat bisa saja amat laku karena narasinya.
Bombastik sendiri tidak sekedar berhubungan dengan bahasa lewat kata-kata atau kalimat. Perilaku bombastik juga ditemukan lewat gesture tubuh. Di panggung pertunjukan atau layar televisi dengan mudah kita temui berbagai macam penampilan atau acara yang dipenuhi dengan gesture bombastik. Tingkah dan polah para pelakonnya terasa berlebihan atau seperti dipaksakan. Hanya saja yang menonton tetap tersenyum meski tak lucu-lucu amat.
Kebiasaan yang sudah teramat lama ini dalam khasanah bahasa Indonesia telah diingatkan lewat perumpaan “Tong Kosong Nyaring Bunyinya,”, yang biasa diartikan sebagai orang bodoh biasanya banyak bualannya.
Banyak orang sering mengira bahwa makin banyak kata atau kalimat maka akan makin menyakinkan, atau biar dianggap mengerti maka harus memberi keterangan panjang lebar. Mirip dengan para pelajar atau mahasiswa yang merasa hebat kalau skripsinya tebal.
Padahal yang terjadi sebenarnya kayak balon, mengelembung tapi isinya angin atau bantalan kapas, begitu ditekan akan kempes.
Bombastis meski bernuansa negatif sebenarnya tidak selalu demikian. Dalam kesempatan tertentu perilaku ini bisa diterima. Para orator misalnya kerap memakai kata-kata bombastis untuk memompakan semangat, begitu juga para motivator yang kerap mengulang yel-yel agar pendengarnya tetap terjaga.
Hanya saja bombastik yang tidak pada tempatnya bisa memakan korban. Terlebih di masa kini, saat arus pertukaran informasi begitu lancar dengan adanya internet dan media sosial.
Saat ini yang kerap menampilkan perilaku bombastik bukan hanya pesohor, para pembuat berita, penampil di pertunjukan dan tokoh-tokoh lainnya. Kini semua orang bisa dengan mudah mengobral perilaku bombastik atau turut menyebarluaskannya.
Angkasa atau atmosfir informasi kita saat ini dipenuhi dengan kata-kata bombastik yang tidak fantastik apalagi romatik.
BACA JUGA : Contradictio in Actu
Salah satu korban dari maraknya bombastic words baik di media massa dan media sosial adalah orang-orang pintar yang kemudian kelihatan menjadi dungu.
Peradaban sosial media membuat kita banjir informasi. Informasi saling bertempur untuk meraih perhatian. Dan bombastic words dalam bentuk yang disebut click bait kemudian menjadi marak.
Salah satu watak dasar manusia adalah ingin tahu, terutama ingin tahu kehidupan orang lain. Hal ini membuat orang sering kali jatuh dalam perilaku ‘Gila Urusan’.
Nah agar mengklik sebuah konten, maka seseorang akan diberi umpan, umpan yang mengobarkan keingintahuannya sehingga begitu membaca judul maka akan meng-klik sebuah tautan.
Sayangnya selain suka ingin tahu, manusia kemudian juga sering sok tahu. Sehingga belum tuntas membaca dan menelaah isinya sudah menyimpulkan bahwa tautan itu perlu diketahui oleh banyak orang lainnya. Dan dibagilah tautan itu tanpa diperiksa sebelumnya, soal kesesuaian antara judul dan isi serta substansinya.
Akibatnya banyak orang kemudian membagikan konten atau tautan tanpa disaring terlebih dahulu.
Dan perilaku ini berulang, karena yang jatuh dalam lubang yang sama sebenarnya bukan keledai melainkan manusia.
Lubang yang sama itu dalam dunia psikologi dikenal sebagai ‘curiousity gap’. Manusia selalu bisa membedakan antara yang diketahui dan ingin diketahui. Maka membuka setengah atau memperlihatkan celah selalu akan menimbulkan keingintahuan.
Orang yang penasaran selalu akan melangkah untuk membuka. Karena manusia adalah mahkluk pencari informasi.
Sebuah studi telah membuktikan bahwa iklan-iklan yang memberi penjelasan dengan tuntas perihal apa yang diiklankan ternyata jauh tidak menarik ketimbang iklan-iklan yang hanya memberi penjelasan sepenggal. Yang sepenggal itu justru menarik perhatian, membuat keinginan untuk membuka tabir bertumbuh.
Kepentingan yang berkaitan dengan orang banyak selalu mengekoloitasi rasa penasaran atau keingintahuan ini. Dunia bisnis, politik, hiburan dan media kemudian menjadi akrab dengan hal ini.
Namun kini meraih massa bukan hanya kepentingan insitusi atau industry melainkan kepentingan sehari-hari banyak orang. Di media sosial orang ingin populer, meraup banyak pengemar atau follower, kalau perlu kemudian berkembang menjadi fans.
Dengan banyak fans maka seseorang bisa menjadi influencer, aktivitas di media sosialnya bisa dimonitisasi. Bermain media sosial kemudian dari hobby akan berkembang menjadi karir, karena menerima banyak endorse atau iklan.
Internet, sosial media, banjir informasi, bombastic words, click bait dan hoax adalah ciri peradaban kita saat ini. Semuanya sudah memakan korban dan terus akan memakan korban.
Berbagai upaya literasi dan gerakan lain untuk menangkalnya terus dilakukan, tapi itu semua tak berguna jika kita sebagai warga dari peradaban ini tak menentukan pilihan untuk menjadi cerdas dengan keingintahuan tahu.
Memenuhi rasa ingin tahu selalu membahagiakan karena kita ingin kejutan, ingin tahu lebih dalam tentang segala sesuatu. Yang perlu disadari bahwa ada banyak orang lain yang punya kepentingan tertentu dan gemar memasang umpan agar ditelan oleh keingintahuan kita. Padahal yang disajikan bukanlah sesuatu yang berguna untuk kita dan sama sekali tidak menjawab keingintahuan kita.
Maka bijaksanalah ketika sedang online, dan berpikirlah sebelum berbagi atau saring sebelum sharing agar kita tak ikut-ikutan menjadi manusia bombastik.
note : sumber gambar Rachit Tank on Unsplash








