Sepulang liburan akhir tahun ketika dapur mesti kembali berasap, saya mulai sadar kalau harga minyak goreng dan gas ternyata naik. Soal gas, apa boleh buat, kenaikannya pasti terjadi atas restu pemerintah.
Tapi untuk minyak goreng sampai hari ini saya masih gagal paham kenapa harganya masih terus bertahan tinggi dan bahkan ketika pemerintah turun tangan menetapkan harga referensi, minyak dengan harga yang ‘wajar’ justru menghilang dari pasaran.
Kalaupun di tempat perbelanjaan tersedia stok maka akan terjadi ‘kericuhan’, antrian memanjang bukan mengular melainkan menaga.
Di media sosial setiap hari selama berminggu lebih beredar banyak rekaman video atau gambar yang membuat hati teriris, miris. Masyarakat terutama ibu-ibu berebut mendapat seliter minyak dalam kemasan. Ekpresi perjuangannya seperti para gerilyawan menyerbu benteng pertahanan penjajah untuk merebut kemerdekaan.
Selain itu muncul banyak ketidakpantasan, seperti operasi pasar dengan menjual minyak goreng di halaman kantor polisi. Republik ini tidak dalam keadaan darurat keamanan, sebab yang tengah perang itu Ukraina dan Rusia.
Yang tengah gaduh soal pemilu adalah para elit politik, jadi apa urusannya setelah membeli minyak goreng di pusat perbelanjaan, warga mesti mencelupkan jari dalam tinta seperti habis mencoblos kertas suara.
Untung saja ditengah banyak cerita tak sedap ada saja polah warga negeri ini yang bikin tawa meledak. Memanfaatkan isu minyak goreng ada arjuna yang melamar pujaan hatinya dengan memberikan mas kawin minyak goreng kemasan. Sebuah lelucon epik dari seseorang yang sama sekali tak punya bakat untuk menjadi komedian.
Salah satu ucapan Presiden Sukarno yang terus menerus dikutip dan diucapkan kembali adalah ‘jas merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Sayangnya meski setiap siswa selalu mendapat pelajaran sejarah, mereka yang mempunyai kuasa dan wewenang dalam mengatur negara lupa belajar dari sejarah karena sudah lama meninggalkan bangku sekolah.
Sejarah mengatakan bahwa belimpah tidak selalu mudah dan murah.
Memang perkecualiannya ada, seperti kelimpahan buah, sayur atau bumbu dapur lainnya. Jika kangkung, bayam, kol, cabe berlimpah maka harganya dipastikan akan murah meriah. Petani dan pedagangnya juga susah, sebab selain harganya murah tak juga mudah untuk menjual sampai habis.
Dan ketika harganya naik, persediaan sedikit, tak mungkin orang bakal ngantri sejak subuh di depan warung untuk membeli sayuran dan cabe-cabean.
Indonesia tercatat sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Kalimantan Timur menjadi salah satu provinsi yang mempunyai jutaan hektar kebun sawit. Namun nyatanya minyak kelapa sawit kemasan tak mudah ditemukan, kalaupun ada harganya juga tak murah untuk dibawa pulang.
Persis sama ketika Kalimantan Timur dianggap sebagai lumbung energi nasional, penghasil batubara kelas wahid di muka bumi. Nyatanya belum semua penduduknya menikmati listrik dari batubara yang telah menerangi dunia.
Kenapa demikian?. Batubara, kelapa sawit dan komoditas lainnya bukan kangkung atau cabe, yang akan mudah busuk jika disimpan diam-diam.
Lagipula batubara ditambang dan sawit ditanam bukan untuk diabdikan pada kepentingan rakyat Indonesia. Tujuan utama para investor adalah melayani kebutuhan masyarakat dunia, orientasinya adalah ekpor.
Ketika dipaksa untuk melayani kebutuhan negeri sendiri maka patokan harga yang dipakai adalah harga dunia. Harga yang tidak hanya mewakili nilai barang melainkan juga gejolak di pasar perdagangan komoditas berjangka alias trading.
BACA JUGA : Rakyat Yang Tersingkir Dari Tanahnya Sendiri
Semalam saya iseng bertanya kepada penjual tahu tek-tek soal gonjang-ganjing minyak goreng. Bagaimana dan dimana dia memperoleh minyak goreng agar tetap bisa berjualan.
“Ada persediaan mas di rumah untuk sepuluh hari. Saya dapat satu dos dari pedagang tempat biasa saya membeli minyak goreng,” jawabnya biasa saja seperti tak terpengaruh oleh kisruh minyak goreng di pasaran.
Saya tak sempat bertanya tentang harganya karena takut menganggu kesibukannya mengoreng tahu dan meracik bumbu untuk sebungkus tahu tek tek yang saya pesan.
Dalam hati saya berpikir penjual tahu tek tek itu merupakan salah satu pedagang keliling yang beruntung karena penjual minyak langganannya berbaik hati untuk tetap menyediakan kebutuhan minyak goreng yang bisa dipakai hingga sepuluh hari.
Tapi tak semua pedagang mempunyai keberuntungan yang sama, sebagian besar yang lainnya mesti meluangkan lebih banyak waktu, bahkan mungkin ada yang membentuk pasukan pemburu minyak goreng murah agar tetap bisa membuka kios, kedai atau warungnya.
Semua kesibukan itu kalau dihitung-hitung malah tidak menghasilkan untung. Bayangkan untuk antri berjam-jam dan hanya dibolehkan membeli satu dua bungkus diperlukan bekal. Paling tidak bensin untuk menuju tempat yang menjual minyak, belum lagi uang parkir, uang minum jika haus dan bahkan uang makan. Semua kalau dihitung mungkin tak sebanding dengan apa yang didapat. Mencari minyak murah ternyata selain tak mudah, ongkosnya juga tidak murah.
Dalam situasi yang sulit selalu saja ada orang mengambil untung, seperti yang dikatakan oleh pepatan “ambil kesempatan dalam kesempitan’ atau orang Jawa kerap mengatakan dengan kalimat “tulung mentung’.
Melalui pesan berantai atau postingan di media sosial seseorang menawarkan minyak dalam paket tertentu. Bernilai antara 100 sampai 200 ribu. Yang berminat diminta untuk mentrasfer lebih dahulu dan kemudian barang diantar.
Saat ada yang memvalidasi kebenaran lebih lanjut, umumnya tidak dijawab dengan benar. Yang mengirim pesan selalu mengatakan transfer saja nanti barang akan diantar. Sebuah tawaran yang meragukan, sebab setelah ditransfer besar kemungkinan nomor atau akunnya susah dihubungi.
Ada juga pusat perbelanjaan tertentu yang mengenakan syarat agar bisa membeli seliter minyak goreng. Minyak bisa diperoleh jika masyarakat bisa menunjukkan struk perbelanjaan barang lainnya senilai 50 ribu.
Nampaknya peraturan ini terinspirasi oleh kios-kios makan minum di bandara, yang akan mengijinkan orang untuk merokok dalam smoking room setelah membeli minuman dan makanan senilai 50 ribu.
Namun yang paling jahat adalah mereka yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menimbun barang. Menyimpan minyak goreng yang ‘disubsidi’ pemerintah dalam gudang untuk kemudian dijual kepada mereka yang mau membeli diatas harga yang ditentukan oleh pemerintah. Atau besar kemungkinan disimpan untuk nanti dijual pada saat menjelang perayaan lebaran, saat orang mau tak mau harus membeli berapapun harganya.
Dan masih banyak kelakuan-kelakuan lainnya untuk mencari keuntungan ditengah penderitaan banyak orang. Para pencari untung tahu persis bahwa suatu saat masyarakat akan menyerah, tak mau lagi antri atau bersusah payah hanya demi satu dua liter minyak goreng. Dan pada saat itu minyak goreng berharga 20-an ribu seliter akan laku terjual.
BACA JUGA : Ayam Geprek ‘Pedaskan’ Paris Fashion Week
Dua atau tiga tahun terakhir ini atmosfer perbincangan kita diwarnai oleh kisah tentang anak-anak muda, kaum millennial yang kaya raya. Ada yang dijuluki sebagai crazy rich, namun tak sedikit pula yang dilabeli sebagai sultan.
Gosip dan sepak terjang mereka lebih menarik ketimbang daftar puluhan orang yang selalu dirilis oleh Forbes setiap tahunnya dengan tajuk orang-orang terkaya di Indonesia.
Dari lima puluhan orang kaya atau terkaya di Indonesia dalam sepuluh atau lima belas tahun terakhir ini jumlah orang yang kaya karena batubara dan kelapa sawit makin meningkat. Seperempat orang terkaya di Indonesia, pundi-pundi kantong uangnya berasal dari batubara dan kelapa sawit.
Duet orang terkaya di Indonesia yang memuncaki daftar selama puluhan tahun, semakin kaya hingga tak tergoyahkan juga karena sawit.
Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, trilyuner pemilik Djarum Group juga memasuki bisnis kelapa sawit.
Masalah harga yang tak terkendali dan kelangkaan minyak sawit di pasaran sebenarnya bukan hal yang sulit untuk diatasi oleh kaum kaya raya yang uangnya bahkan lebih dari cukup jika sebagian disumbangkan untuk membangun Ibu Kota Negara baru di Sepaku, Kalimantan Timur.
Kekayaan mereka tak akan berkurang seujung kuku andai mau ikut campur tangan mengatasi gejolak harga minyak goreng di dalam negeri.
Namun jangan terlalu berharap pada mereka, sebab saking kayanya dan banyak urusan bisa jadi mereka sudah lupa kalau punya kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit.
Mereka bisa jadi tak tahu kisruh soal harga minyak goreng, sebab kesibukan mereka adalah goreng mengoreng tanpa minyak. Level mereka bukan lagi mengoreng makanan melainkan mengoreng-ngoreng harga saham. Termasuk diantaranya adalah saham minyak goreng.








