Berbeda dengan kalender masehi yang punya 7 hari dalam satu minggu, kalender Jawa hanya mempunyai 5 hari yang disebut sebagai pasaran. Kelima hari itu adalah Pahing, Pon, Legi, Wage dan Kliwon.
Entah kenapa dinama pasaran, namun yang saya tahu di masa kecil dulu memang ada pasar-pasar yang buka pada hari tertentu. Ada pasar pahing, pasar pon, pasar legi dan seterusnya.
Karena tidak buka setiap hari, otomatis pedagangnya adalah pedagang keliling, berpindah dari satu pasar ke pasar yang lain.
Nenek dan Bude saya adalah pedagang pasar seperti ini. Setiap malam mereka menyiapkan dagangannya dan pagi-pagi sekali mengangkut dagangan dengan kuda beban, menuju pasar yang buka pada hari itu. Jaraknya dari rumah bisa berkilo-kilo meter.
Saat liburan biasanya saya berlibur di rumah nenek. Dan setiap hari pasaran tiba, saya akan pergi ke pasar yang paling dekat dengan rumah nenek. Pasar itu adalah Pasar Pendem yang berjarak kurang lebih 1 – 2 kilometer dari rumah. Rasanya menyenangkan sekali pergi ke pasar.
Pergi ke pasar ibarat piknik, melihat keramaian yang menyenangkan. Saat itu memang belum banyak hiburan. Rumah yang punya televisi masih jarang, pesawat TV-nya juga masih hitam putih dan dihidupkan dengan aki. Sehingga kalau akinya habis dan tidak punya aki cadangan mesti menunggu lebih dari sehari untuk mengisinya.
Sampai dengan saat itu yang saya kenal sebagai tempat untuk membeli berbagai kebutuhan hidup adalah warung, pasar dan deretan toko yang berada di kawasan pecinan.
Baru sekitar tahun 1989, sewaktu menempuh pendidikan pada sekolah berasrama di Mertoyudan {Magelang}, untuk pertama kali saya masuk ke ritel modern. Supermarket yang pertama saya kunjungi adalah Gardenia, yang dibuka pertama kali di Magelang pada tahun 1988.
Supermarket tidak berbeda dengan pasar besar, menjual berbagai bahan makanan, barang rumah tangga dan kebutuhan sehari-hari dalam format toko tunggal. Perbedaan radikal dengan pasar tradisional penerapan self service dan harga tetap. Selain itu produk yang dijual di supermarket adalah produk industri yang dikemas dan bermerek.
Supermaket kemudian menjadi one stop shopping yang cocok dengan masyarakat modern, masyarakat yang sibuk, ingin nyaman dalam belanja, dan membeli barang yang terjamin mutunya. Varian lain dari supermarket dengan barang atau produk yang spesifik disebut sebagai Departement Store.
Dari Mertoyudan kemudian saya meneruskan pendidikan ke pinggiran Kota Manado. Sesekali saya main ke Pasar 45, sebutan untuk pusat kota Manado, disana ada Swalayan Jumbo dan Golden.
Menjelang tahun 2000, Matahari Dept. Store hadir di Manado dengan mengambil lokasi eks Kantor Gubernur Sulut di Jalan Sam Ratungi. Kantor Gubernur Sulut berpindah ke Jalan 17 Agustus.
Setelah itu ada Coco Supermarket di kompleks Stadion Klabat, yang terhubung dengan Hotel Century.
Reklamasi pantai di Teluk Manado kemudian menumbuhkan kawasan perbelanjaan dan bisnis baru di sepanjang Jalan Piere Tendean atau lebih dikenal dengan Boulevard Manado.
Tahun 2002, saya pindah ke Samarinda. Supermarket Ana sangat terkenal waktu itu. Selain itu ada juga Mall Lembuswana, Samarinda Central Plaza, dan Mesra Mall. Kemudian disusul oleh Samarinda Square, Plaza Mulia dan Big Mall.
BACA JUGA : Perang Antara Dua Pemimpin Yang Akrab Dengan Sandiwara
Evolusi belanja atau konsumerisme bertumbuh seiring dengan industrialisasi dan pertambahan jumlah penduduk secara ekponensial di perkotaan serta daerah pinggirannya.
Perbaikan kesejahteraan, pendapatan masyarakat yang umumnya meningkat sekaligus beriringan dengan semakin menurunnya kemampuan menghasilkan kebutuhan pokok sendiri, membuat pola belanja direkayasa untuk menghasilkan keuntungan.
Belanja bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan fisik atau biologis semata melainkan juga aspek emosional. Belanja menjadi gaya hidup karena dikaitkan dengan gengsi, trend dan rekreasi.
Lokasi dan cara belanja kemudian berubah. Ritel modern tumbuh dengan gedung dan display barang yang menghadirkan kenyamanan. Namanya disesuaikan dengan besar kecilnya ruangan, ada yang dinamakan minimarket, supermarket dan hypermarket dengan berbagai variannya.
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan, saat belanja juga menjadi kesempatan untuk rekreasi hadirlah shopping mall. Sebuah komplek perbelanjaan tunggal yang maha luas dimana didalamnya ada dept store, supermarket, minimarket, hypermarket dan penyedia jasa lainnya seperti kuliner, hiburan, bioskop, bank, hotel bahkan tempat ibadah.
Asal punya uang dan waktu, orang bisa tahan berada di dalam atau berpindah dari satu mall ke mall lain selama seharian.
Perubahan gaya hidup lewat belanja ini kemudian menumbuhkan pengembang-pengembang besar yang berlomba membangun kompleks perbenjaan besar. Sampai dengan tahun 2019 sekurangnya ada 321 pusat perbelanjaan dari berbagai kelas dan dan ukuran yang beroperasi di Indonesia.
Yang terbesar bukan di Jakarta melainkan di Surabaya yakni Pakuwon Mall atau sering disebut sebagai Supermall Pakuwon dengan luas 180.000 meter persegi.
Kemudian disusul oleh Tunjungan Plaza, Summarecon Mall Kelapa Gading, Grand Indonesia dan Mal Taman Anggrek.
Di luar itu ada juga deretan nama lain yang tak kalah keren yakni Mall Kota Kasablanca di Jakarta Selatan, Central Park Mall di Jakarta Barat, AEON Mall di Tangerang, Trans Studio Mall di Bandung, PVJ Resort Lifestyle Place di Bandung, Paragon City Mall di Semarang, Beachwalk Shopping Mall di Bali dan Ambarukmo Plaza di Yogyakarta.
Di dalam shopping mall beroperasi berbagai macam brand supermarket seperti Matahari Dept Store, Ramayana, Robinson, Galael, Galael Grande, Hero, Giant, Carrefour, Ranch Market, Farmers Market, The Foodhall, Grandlucky, Kem Chicks, Sogo, Seibu, Hypermart, Centro, Golden Trully, Ikea, Ace Harware dan lain-lain.
Berbagai brand atau jejaring yang menjual produk kuliner, fashion, sepatu, gadget dan lain-lain juga membuka gerai di shopping mall.
Pendek kata shopping mall bisa diibaratkan sebagai hutan lebat yang menarik mata untuk singgah dan menguras isi dompet untuk mereka yang lapar mata.
Di Kalimantan Timur, super shopping mall tumbuh di Kota Balikpapan. Tak mengherankan jika kemudian Balikpapan sering menjadi pilihan bagi warga Kalimantan Timur untuk menghabiskan waktu di akhir pekan.
Mempunyai beberapa pantai yang tak jauh dari pusat kota, Balikpapan kemudian tumbuh menjadi metropolitan pertama di Pulau Kalimantan. Dan pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur niscaya akan membuat Balikpapan menjadi megapolitan layaknya Kota Jakarta.
BACA JUGA : Jalan Pintas Microsoft Menyalip Meta Menuju Metaverse
Dipicu oleh Pandemi Covid 19, mulai terlihat adanya perubahan cara belanja masyarakat. Pembatasan sosial dan berbagai macam prosedur kesehatan membuat masyarakat tak ingin berlama-lama di sebuah tempat.
Format belanja bulanan di supermarket atau hypermarket mulai berkurang. Masyarakat lebih memilih berbelanja di minimarket-minimarket yang tak jauh dari rumahnya.
Dan jauh sebelum pandemi, jaringan minimarket tumbuh bak cendawan. Awalnya muncul dalam format kios kecil yang buka 24 jam seperti Cirlce K, namun kemudian muncul dalam format yang lebih besar lewat Indomaret, Alfamart dan banyak jaringan lainnya baik intenasional, nasional maupun lokal.
Bersamaan dengan itu muncul juga marketplace-marketplace yang menjual apa yang ada di supermarket atau hypermarket secara online. Memadukan berbagai macam teknologi, belanja di marketplace menjadi semakin mudah, cepat dan aman.
Penetrasi e-commerce dalam pasar ritel menjadi semakin tak tertahankan. Jika sebelum pandemi masyarakat mulai terbiasa membeli barang sekunder, ketika pandemi masyarakat kemudian mulai beramai-ramai membeli kebutuhan primer lewat transaksi online.
Kini masyarakat terbiasa menyebut Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Lazada, Zalora, Bibli, Elevania dan lain-lain.
Meningkatnya penetrasi pasar ritel online dan perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja membuat ritel-ritel besar yang bercokol di shopping-shopping mall bertumbangan.
Sebetulnya angin perubahan terjadi jauh sebelum pandemi. Karena teknologi informasi dan komunikasi, pelanggan menjadi sangat perkasa. Brand-brand kemudian sulit untuk mendikte kemauan pelanggan. Nasib brand kini berada di ujung jempol pelanggan yang dengan mudah menekan tombol kebangkrutan lewat layar smartphonenya.
Dan pandemi secara radikal telah merubah perilaku masyarakat secara masiv.
Format hypermarket sebenarnya sudah mulai kewalahan sejak tahun 2014/2015, untuk menarik pelanggan yang dilakukan hanya perang harga. Tidak nampak ada inovasi baru untuk membuat pengalaman belanja menjadi lebih menarik.
Maka penutupan gerai-gerai supermarket dan hypermarket tak terhindarkan. Hero kemudian menutup seluruh gerai Giant di akhir Juli 2021. Hero kemudian akan fokus pada gerai-gerai kecil dan mengembangkan layanan khusus lewat Guardian, Ikea dan Hero Supermarket.
Matahari juga menutup banyak gerainya, di Kota Samarinda, Hypermart yang ada di Plaza Mulai telah ditutup. Sejak tahun 2019, Matahari memang menutup puluhan gerainya per tahun, hingga hari ini.
Sejak awal 2020, Ramayana juga mulai menutup beberapa gerainya, pun demikian dengan Centro.
Bukan hanya ritel penjual kebutuhan pokok atau gaya hidup yang mulai berguguran. Toko ritel besar yang menjual buku, keperluan pendidikan, peralatan kantor dan lainnya juga bertumbangan. Gramedia juga mulai menutup beberapa ritelnya.
Tidak semua yang tutup berarti bangkrut. Sebagian menutup karena ingin merubah model bisnis dengan melakukan penyesuaian pasar. Hero, nampaknya memilih untuk fokus menata bisnisnya melayani kebutuhan konsumen kelompok menengah ke atas.
Sedangkan Matahari mengembangkan kanal penjualan yang memadukan antara offline dan online {omnichannel}. Selain itu Matahari juga membangun kolaborasi dengan berbagai market place lainnya seperti grab mart, jd.id dan tokopedia.
Keseriusan Matahari membangun ekosistem bisnis omnichannel ditunjukkan dengan pembelian saham Bank Nobu. Dengan demikian Matahari akan bisa memberi pengalaman bukan hanya pembayaran digital melainkan juga pinjaman baik untuk pelanggan atau mitranya. Layanan yang bisa menjadi sumber pendapatan baru untuk Matahari.
Akankah perubahan orientasi dari pasar general ke pasar khusus, atau dari offline ke online akan berhasil?.
Tidak ada jaminan. Namun ada beberapa kisah sukses transformasi dari offline ke online seperti yang ditunjukan oleh Freshmart, lewat kerjasama dengan berbagai marketplace dan penjualan langsung melalui aplikasi perpesanan seperti Whatsapp.
Strategi gerai-gerai kecil juga berhasil di Indomaret serta Alfamart. Selama tahun 2020 Alfamart berhasil menambah gerainya sebanyak 1004 gerai, sedangkan Indomaret bertambah sebanyak 614 gerai.
Adagium terkuat dalam perdagangan barang konsumsi adalah ‘Ikuti Pelanggan Anda’. Bisnis konsumsi adalah bisnis layanan, jadi bisnis utamanya adalah pelanggan. Kemana pelanggan bergerak harus diikuti. Dan bisnis besar dengan ruang besar serta beban yang berat akan sulit untuk beradaptasi, bergerak dari satu ayunan ke ayunan yang lain.
Maka melakukan resizing dan fokus pada layanan tertentu adalah sebuah cara untuk bisa bergerak dengan cepat dan mempermudah untuk membaca data kecenderungan arah serta gerak pelanggan.








