Ada banyak tempat mendapat julukan seribu. Sebutan seribu itu untuk menunjukkan banyak. Misalnya Kota Banjarmasin disebut Kota Seribu Sungai, lalu Singkawang disebut sebagai Kota Seribu Vihara, Jepara selain dikenal sebagai Kota penghasil furniture atau ukiran kayu jati, tetapi Jepara juga dikenal sebagai Kota Seribu Pesantren. Pacitan juga mempunyai julukan yang unik karena disebut sebagai Kota Seribu Gua. Ada lagi sebutan yang unik yaitu Jember yang disebut sebagai Kota Seribu Bukit.
Kota Tangerang dikenal sebagai pusat industri sehingga Kota yang tak jauh dari Ibukota Negara ini dijuluki Kota Seribu Industri. Lombok dikenal sebagai daerah dengan pantai yang indah untuk destinasi wisata namun Lombok disebut sebagai Kota Seribu Masjid. Julukan seribu juga diberikan kepada Pulai Seribu sebagai Pulau dengan Seribu Pulau Kecil. Dan di Semarang ada sebuah gedung yang dijuluki sebagai Seribu Pintu (Lawang Sewu).
“Eh, Mumus kalau di kota kita ini adakah yang dijuluki seribu?”
“Ada, Bondan. Daerah Pinang Seribu,”
“Oh iya ya yang ada air terjunnya itu kah?”
“Betul, air jatuh,” ujar Bondan sambil tertawa.
“Menghina kamu ini Bondan, kota kita ini kota ajaib, kota seribu satu wajah,”
“Kok bisa Mumus?”
“Ya bisa lah, bagaimana nggak ajaib, sedikit pohon saja dibilang hutan kota,”
“Ha..ha…. lalu ada sekolah dan lapangan jadi taman kota, tapi tamannya biasa-biasa saja padahal yang disingkirkan itu luar biasa,”
“Luar biasa?”
“Iya luar biasa, itu sekolah dulu didirikan sebagai syarat berdirinya Provinsi Kalimantan Timur,”
“Oh begitu kah?”
“Ya iyalah,’
“Ajaib memang ya. Tapi ada lho yang pantas lagi disebut sebagai seribu,”
“Aku tahu pasti kamu mau bilang Sungai Karang Mumus,”
“Eh…iya … kan Sungai Karang Mumus pantas dijuluki sebagai Sungai Seribu Sampah,”
“Pernah kamu hitung sampahnya Mumus?”
“Ya nggak pernah, makanya dari pada dihitung lebih baik dijuluki saja sebagai seribu sampah, itu artinya buanyak sekali,”
Sungai Karang Mumus adalah sungai yang membelah sebagian besar wilayah Kota Samarinda. Dahulu sungai ini identik dengan Kota Samarinda. Urat nadi Kota Samarinda ada di sungai ini. Namun seiring dengan berkembangnya jalan raya, sungai ini surut fungsinya secara sosial ekonomi. Kawasan pinggir sungai di daerah perkotaan tumbuh menjadi slum area. Permukiman pinggir sungai bertumbuh pesat karena menyediakan ruang hunian murah meriah yang berada di tengah perkotaan.
“Selain sampahnya banyak, sampah Sungai Karang Mumus itu seribu macam,”
“Kelakuan sampah juga macam-macam kok di Sungai Karang Mumus,”
“Apa itu kelakuan sampah Bondan?”
“Lihat saja di bawah-bawah jembatan itu. Ada yang nyabu, ada juga anak-anak ngelem sama pacara usia dini,”
“Iya sampah yang berhubungan dengan zat-zat yang bikin nge-fly mulai kelihatan di Sungai Karang Mumus. Banyak sampah botol alkohol medis dan bungkus obat batuk cair sachet, belum lagi suntikan,”
“Eh, ada juga pampers sekarung. Pasti itu bukan buangan dari rumah. Mana ada anak-anak pakai pampers sehari sekarung,”
Bicara soal karung pembuang sampah di Sungai Karang Mumus memang serius dalam mengemas sampahnya. Setiap hari selalu terlihat karung mengapung. Beberapa bahkan di jahit dengan rapi. Kalau isinya bisa macam-macam, tapi yang paling sering adalah bulu-bulu ayam.
“Tapi kalau karung itu masih kecil Bondan. Ada banyak yang lebih besar, kasur,sofa,lemari bahkan sampai sping bed,”
“Sungai Karang Mumus ini memang supermarket sampah. Apa yang ada di toko ada semua disini tapi setelah dipakai atau rusak dan tidak dipakai lagi,”
“Memang begitu, kalau mau lihat apa yang lagi terkenal disini lihat saja sampahnya di Karang Mumus,”
“Lalu apa yang nda dibuang di Sungai Karang Mumus?”
“Yang tidak dibuang di Sungai Karang Mumus itu jabatan, Makanya belum ada yang nemu jabatan dari Sungai Karang Mumus,”
“Tapi ada lho Mumus, yang rajin nonggol dan selfa-selfi di Sungai Karang Mumus lalu dapat jabatan. Tapi sama seperti Mahasiswa yang bikin paper, begitu paper selesai di submit ke intersional meeting lalu diterima nggak datang-datang ke Karang Mumus lagi karena tujuannya sudah tercapai,”
“Masuk kategori sampah jugalah kelakuan seperti itu?”
“Iya banyak yang begitu, tapi biar sajalah. Masing masing orang kan beda-beda.Ada yang serius mungut, ada yang main-main tapi ada yang juga menyembunyikan tujuan,”
Memang peduli sering kali hanya jadi sebuah label. Jadi cukup datang sekali dua kali, foto-foto lalu mengatakan diri sebagai peduli. Padahal peduli itu bukan soal event, peduli itu sikap dan konsistensi serta melakukan dengan benar.
Banyak masyarakat di tepian sungai peduli pada kebersihan tetapi kebersihan kolong rumahnya sendiri sehingga sampah dibersikan dengan cara didorong ke aliran sungai sehingga menjauh dari rumahnya. Itulah kenapa ada kegiatan pungut sampah, sampah dibersihkan dengan cara diangkat dari sungai dan dibuang di tempat yang disediakan untuk membuang.
“Jadi gimana biar Sungai Karang Mumus gak jadi Sungai Seribu Sampah?”
“Gampang, kurangi satu saja nanti kan jadi 999,”








