Mendengar gema suara takbiran dari berbagai penjuru membawa ingatan melayang ke masa kecil dahulu.
Menyambut datangnya lebaran yang kerap kami sebut Bada atau Bakda. Bada atau Bakda artinya selesai. Satu hal yang mesti disiapkan adalah penampilan rumah yang bersih, berwajah baru.
Ritual memperbaharui wajah rumah itu dilakukan dengan Labur. Mengecat dinding rumah yang umumnya terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Baik penuh maupun setengah karena dikombinasi dengan dinding batu atau istilahnya rumah setengah batu.
Cat rumah yang terkenal waktu itu adalah kapur atau gamping. Maka mengecat akan disebut sebagai melabur atau mengoleskan cairan hasil adukan air dengan batu gamping.
Labur karena yang dipakai untuk mengoles bukan kuas, melainkan batang tangkai padi atau batang ilalang yang diikat seperti sapu kemudian ditumbuk pada pangkal yang keras.
Pada cairan hasil adukan batu gamping dan air kerap dimasukkan tepung kanji, agar cairan menjadi kental dan kemudian menutup pori atau celah pada anyaman bambu atau retakan di kayu dan dinding.
Sesekali juga ada yang menambahkan Blau dalam adukan agar berwarna putih kebiruan.
Selain hari lebaran, ritual melabur biasanya juga dilakukan menjelang peringatan hari kemerdekaan. Namun yang dilabur menjelang Agustusan adalah pagar dan gapura di pinggir jalan.
***
Dalam sejarah peradaban manusia, putih memang suprematif.
Rasisme lahir dari perasaan orang berkulit putih yang merasa paling mulia, paling manusiawi diantara manusia yang bermacam warna kulitnya.
Entah dari mana mulanya putih kemudian identik dengan kesucian, kebersihan, kemuliaan dan rentetan kebaikan lain dibanding dengan warna lainnya.
Labur, adukan gamping dengan air juga meninggalkan jejak putih. Dan kemudian menjadi penanda wajah baru, rumah dan seisinya yang siap untuk merayakan hari nan Fitri, hari sesudah (lebar) menunaikan puasa. Saat lahir kembali menjadi manusia baru yang suci.
Manifestasi putih sebagai suci dan bersih yang juga dekat dengan realita masa kecil saya adalah pupur (bedak).
Dari bayi dan kanak-kanak setiap habis mandi selalu dilumuri pupur atau bedak putih.
Penampilan sehabis mandi yang berbalut pupur selalu dianggap sebagai pertanda kebersihan, kepolosan, suci dan murni.
Bayi dan kanak-kanak dengan wajah dan badan berbalur pupur selalu menyenangkan hati siapapun yang melihatnya.
Itulah putih secara maknawi.
Padahal kepentingan pupur atau bedak bagi bayi dan kanak-kanak sejatinya untuk mengurangi kelembaban di lipatan-lipatan tubuh yang beresiko menimbulkan iritasi.
Selain mendinginkan, pupur juga berfungsi sebagai pelindung kulit yang masih peka terhadap gesekan.
Bagi bayi,.pupur yang wangi juga berfungsi untuk merangsang indra penciuman.
Namun yang terpenting, ritual melulurkan pupur di sekujur tubuh dengan lembut menjadi pelajaran bagi sang bayi dan kanak-kanak betapa orang tua dan keluarganya sangat mencintai mereka.
Dengan demikian putih pupur bukanlah soal penampilan, soal cantik atau ganteng.
***
Rasialisme kulit putih perlahan menurun. Tapi supremasi putih tetap menguat dalam dunia kosmetik. Putih identik dengan cantik.
Kini yang lebih diputihkan bukan dinding atau pagar melainkan kulit. White washing atau pelaburan tak lagi pakai kapur atau gamping melainkan whitening yang dicampur dalam aneka krim pengoles kulit wajah dan badan.
Pada smartphone berbagai aplikasi dipasangi filter yang akan membuat wajah autoputih.
Penampilan yang serba diputihkan memang menarik mata namun tak seindah, secantik dan seganteng realitanya.
Putih mengalami pergeseran maknawi. Dari kemurnian dan kesucian menjadi kepalsuan.
Putih menjadi penebar harapan palsu.
Selamat merayakan Hari Raya Idulfitri, mari kembali kita putihkan hati dengan saling maaf memaafkan.
Sumber gambar : alodokter.com








