Tutup usia pada 28 November 2012 lalu, pria bernama lengkap Hilary Hinton Ziglar namun lebih dikenal dengan sebutan Zig Ziglar meninggalkan nasehat yang inspiratif dan selalu akan dikenang karena sesuai dengan jaman ini.
Salah satu nasehatnya yang amat terkenal adalah Stop Selling, Start Helping. Kepada para wirausahawan Zig Ziglar menghimbau agar berhenti menjual dan mulailah dengan membantu. Dia mengajak untuk meninggalkan cara kuno tentang menjual yang artinya membujuk-bujuk, menyakinkan dengan memberi keterangan berputar-putar atau melakukan cara apapun agar orang membeli.
Cara baru yang dianjurkan olehnya adalah memulai bisnis atau penjualan dengan cara mendidik, mengajar, memberi tantangan, nasehat dan membantu pelanggan, pengguna barang atau jasa. Bisnis adalah tentang hubungan sosial.
Dengan demikian secara etik bisnis bukanlah pertama-tama mengejar keuntungan melainkan memberikan layanan yang didasari atas nilai-nilai tertentu. Profit atau keuntungan dengan sendirinya akan datang ketika sebuah bisnis peduli pada People (manusia) dan Planet (bumi/lingkungan hidup).
Kriya Inovasi Mandara
Prihatin melihat tumpukan sabut kelapa yang dibiarkan dan kemudian dibakar karena khawatir akan menjadi sarang ular, Rusni memutar otak untuk mencari cara memanfaatkannya.
Rusni kemudian mencari informasi tentang pengolahan sabut kelapa hingga kemudian terhubung dengan mereka yang lebih dahulu telah melakukannya. Singkat cerita kemudian terwujudlah pabrik pengolahan sabut kelapa di daerah Tanjung, Penajam Paser Utara.
Bermitra dengan Koperasi Dana Amanah Masyarakat dan investor dari Samarinda, pabrik pengolahan sabut kelapa yang pernah terbakar itu kini menghasilkan coco fiber untuk keperluan eksport.
Tak berhenti disitu, kehadiran pabrik pengolah sabut kelapa belum cukup membuat Rusni tenang. Masih banyak potensi yang bisa digali dari apa yang selama ini terbiar, masih ada banyak orang yang perlu dilibatkan.
Lahirlah Koperasi Kriya Inovasi Mandara (KIM) yang kini beranggotakan kurang lebih 300 orang dengan berbagai kegiatan mulai dari kegiatan sosial, olahraga hingga pengembangan ekonomi kreatif.
Di kantor KIM terpajang berbagai hasil produksi dan karya dari KIM dan anggotanya. Yang paling mencolok adalah wadah atau pot dari coco fiber, vas dari kayu ulin, bonsai kelapa dan lain sebagainya.
Sementara di belakang kantor, berdiri pabrik pengolahan pupuk organik yang berbahan coco peat, sekam bakar, kotoran ayam dan tepung ikan.
“Semua ini hasil belajar sendiri, seperti pot coco fiber bagaimana cara membuatnya dipelajari dari internet, dari youtube,” terang Rusni.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana memasarkannya. Seperti pupuk organik yang sekali produksi dalam rentang waktu satu bulan bisa menghasilkan kurang lebih 600 karung.
“Jika produksi ini tidak terserap, maka kami belum punya gudang untuk menumpuk atau menyimpan pupuk yang sudah jadi,” lanjut Rusni.
Apa yang dilakukan Rusni bersama dengan KIM menjadi perhatian banyak pihak. Kantor dan pabriknya serta workshopnya kerap dikunjungi oleh pemerintah daerah dan OPD yang terkait. Bahkan apa yang dihasilkan oleh KIM sering disebut sebagai komoditas unggulan Penajam Paser Utara.
Disebut sebagai unggul tidak membuat Rusni dan KIM menjadi besar kepala, mereka justru menagih komitmen dari para pihak untuk membantu agar apa yang dihasilkan oleh KIM bisa dipasarkan secara meluas atau diserap oleh warga di Penajam Paser Utara sendiri.
“Kami berharap kita semua menghargai produk daerah sendiri, produk yang diolah dari bahan-bahan yang selama ini dibiarkan atau dibuang begitu saja,” harap Rusni.
Sebuah harapan yang tidak mengada-ada. Sebab sebagian besar masyarakat Penajam Paser Utara adalah petani yang butuh pupuk agar tanamannya tumbuh subur, berbunga dan berbuah.
Dan andai saja para petani memakai pupuk yang berbahan organik, selain menyuburkan tanaman, pupuk organik juga akan menambah atau menganti permukaan tanah yang tererosi. Sebab tugas petani bukan hanya memanfaatkan lahan tanam melainkan juga menjaga dan memuliakan tanah.
kredit foto : kriyainovasimandara.com








