Jika diminta dengan cepat untuk menjawab pertanyaan apa beda antara laki-laki dan perempuan, umumnya akan muncul jawaban laki-laki rasional dan perempuan emosional. Tentu saja bisa dibantah atau dipersoalkan.

Dalam berbagai pengujian neuroscience memang ada kecenderungan perbedaan reaksi pada pusat memori dan emos antara laki-laki dan perempuan jika dihadapkan pada gambar-gambar yang emosional. Kesimpulan umumnya adalah perempuan lebih reaktif pada gambar yang ditunjukkan. Sementara lakiplaki lebih rasional dalam mengelola emosi.

Nah pertanyaannya apakah itu bersifat bawaan?. Ternyata tidak, hal itu berhungan dengan latihan dan juga karena tempaan sosial budaya di masyarakat. Secara sosial masyarakat kita memang menuntut laki-laki lebih rasional, tidak cenggeng, menyembunyikan perasaan. Sementara harapan untuk perempuan sebaliknya.

Saya ingat sejak kecil dulu perlakukan keluarga untuk anak laki-laki dan perempuan berbeda, misalnya saat jatuh. Waktu jatuh laki-laki selalu diajar untuk tidak menangis, kuat menahan sakit. Pun ketika kehilangan sesuatu atau tengah meminta sesuatu. Meminta dengan menangis-nangis akan dikatakan memalukan, laki-laki kok menangis-nangis.

Akibatnya ketika menceritakan ditinggal kawin oleh kekasih hatinya, laki-laki akan cenderung menceritakannya sambil tersenyum dan kalau perlu tertawa meski hatinya berdarah-darah.

Coba saja ceritakan dengan menangis-nangis, kawan yang menjadi teman cerita pasti segera akan berpaling muka dan mengatakan “Cewek begitu saja kau tangisi, seperti nggak ada cewek lainnya,”.

Belum puas dengan kata-kata itu kemudian dia melanjutkan “Mungkin kamu kehilangan cewek yang baik, tapi ini jalan untuk memperoleh yang lebih baik,”

Nampaknya bijaksana, padahal mungkin saja teman yang memberi nasehat itu juga tengah menahan tangis.

Beruntung di bumi yang serba patriarkal untuk urusan tangis menangis ini kemudian ada laki-laki yang bisa menjadi tempat bersandar bagi laki-laki lainnya untuk menumpahkan tangis yang dipendam dan disembunyikan.

Saya sekurangnya mencatat laki-laki yang berjasa itu bernama Pance Pondaag, Tommy J Pisa, Obbie Mesakh dan terakhir adalah Didi Kempot.

Didi Kempot yang berpulang pada masa jaya-jayanya pantas menjadi monumen kebebasan bagi para laki-laki yang dinamakan sobat ambyar untuk melebur bersama laki-laki dan juga perempuan lainnya menangis, meluapkan isi jiwa saat menyanyikan lagu bersama dengan The Goodfather of Broken Heart.

Tahu atau tidak tahu, paham atau tidak paham dengan bahasa Jawa yang dinyanyikan oleh Didi Kempot para laki-laki yang masuk golongan sad boy terasa bebas tanpa takut stereotype atau intimidasi segera meluapkan kesedihannya seolah sebagai penghayatan atas lagu yang dinyanyikan Sang Pangeran.

Untuk banyak orang pemandangan laki-laki gagah berani meluapkan emosi di depan mata umum (dalam konser) bisa terasa menjijikkan, banyak yang risih memandang peristiwa indah itu.

Saya memang belum pernah berada dalam kerumunan para sobat ambyar untuk ikut bertahkluk dalam paying kebebasan emosi, meluapkan tangis tanpa rasa takut dianggap cengeng. Tapi melalui youtube, saya bisa menyaksikan hal itu dan saya bersyukur ada kesempatan untuk meratap bersama dalam kegembiraan dan goyangan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan oleh Sang Maestro.

Sekali lagi benar dalam berbagai penelitian soal perempuan lebih banyak menangis dibanding dengan laki-laki. Menangis bukan sekedar soal kebiasaan, faktor sosial melainkan juga faktor biologis.

Meski demikian di negara-negara yang sangat menghormati kebebasan berekspresi dan mempunyai modal sosial yang besar, konon perbedaan ekpresi menangis antara laki-laki dan perempuan adalah tipis.

Beruntunglah kita selalu mempunyai seseorang semacam Didi Kempot yang mempu mendeskontruksi stigma tangisan laki-laki. Ambyar atau hancur lebur bukanlah sesuatu yang memalukan melainkan sesuatu yang netral.

Soal emosi atau rasional mestinya tidak perlu dipisahkan antara laki-laki dan perempuan karena keduanya memiliki secara bersama keduanya. Buat laki-laki menahan-nahan tangis, padahal hati sedang rapuh agar terlihat kuat salah-salah malah bisa menghantar ke jalan mendadak meninggal.

Pun juga perempuan yang kemudian kuat secara emosional bukan berarti mereka kemudian menjadi miskin secara rasional. Toh bukan tak mungkin mereka melawan dan membuang stereotype itu. Dengan meyakinkan diri bahwa setiap orang bisa mengendalikan emosi. Bagaimanapun soal rasional atau emosional itu adalah pikiran, dan kita adalah pemilik atau penguasa pikiran. Proaktif akan membuat kita mampu menyeimbangkan antara rasio dan emosi.

Maka mau jadi emosional atau rasional semua ada dalam kendali kita, berlaku untuk siapa saja dan tidak tergantung pada jenis kelamin.

kredit foto : urbanasia.com