tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Puisi diatas berjudul Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang saya baca di awal bulan Juli. Muasalnya hujan di awal bulan Juli membuat saya batuk dan pilek hingga kemudian menularkan pada beberapa teman lainnya yang sebagian masih tidak enak badan sampai hari ini.
Di saat badan terasa tak karuan, ada panas ada dingin, hidung mampet, rongga perut sakit karena terguncang-guncang batuk yang tiada henti, membaca puisi yang kalimatnya tidak panjang-panjang ini terasa menyejukkan. Ada pesan tentang kesabaran dan kebijaksanaan di dalamnya.
Karenanya saya tak jadi mencerca hujan di awal bulan Juli meski hujannya memang agak aneh. Saat cuaca terang benderang dan panas tiba-tiba saja rintik hujan turun dan kemudian menderas. Namun saat mendung bergayut dari pagi, hujan yang diduga ternyata tidak runtuh.
Kawan saya bilang ini musim pancaroba atau musim peralihan. Ada dua musim peralihan yaitu dari musim kemarau ke musim penghujan, dari musim penghujan ke musim kemarau.
Soal pranata mangsa itu kemudian saya ingat pitutur dari Simbah ketika saya masih di Jawa dulu. Beliau ternyata juga mengatakan dua musim perubahan. Perubahan dari musim kemarau ke musim penghujan disebutnya sebagai mangsa mareng, sementara dari musim penghujan ke musim kemarau disebutnya sebagai mangsa labuh.
Konon mangsa mareng terjadi antara bulan Maret dan April, sementara mangsa labuh antara bulan Oktober hingga Desember.
Apakah sampai sekarang masih berlaku seperti itu?. Nampaknya tidak karena semua ahli iklim sudah sepakat bahwa kita telah mengalami perubahan iklim. Dan iklim tak lagi berlaku universal, jangankan satu dunia, satu negara bahkan satu pulau saja perilaku iklimnya bisa berbeda. Kini hampir tak jelas lagi mana musim kemarau dan mana musim penghujan. Lebih ekstrim lagi bahkan musim kemarau kini disebut sebagai musim kekeringan dan musim penghujan sebagai musim kebanjiran.
Tapi apapun musimnya, sehubungan dengan batuk dan pilek yang saya alami, setiap perubahan musim memang berisiko membiakkan penyakit tertentu.
Penyakit yang umum berkembang di musim peralihan adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Adapun penyakit yang rentan menyerang di musim pancaroba adalah :
Influenza atau gangguan pernafasan karena virusnya menyerang hidung dan tenggorokan. Dibiarkan saja akan sembuh sendiri namun jika sering terjadi lama kelamaan akan menyebabkan gangguan di paru-paru dan infeksi saluran pernafasan.
Diare atau gangguan pencernaan. Bukan sebagai akibat langsung melainkan musim peralihan bisa menyebabkan perubahan pada air. Air yang kemudian kita konsumsi. Diare atau buang air besar lebh dari biasanya, bisa sampai lima kali atau lebih bisa menyebabkan dehidrasi mulai dari ringan sampai berat sehingga berisiko jika tidak ditangani dengan benar.
Sakit Mata, umumnya disebabkan oleh bakteri yang akan membuat mata menjadi merah, banyak kotoran mata, gatal-gatal dan menganggu pandangan.
Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam masa peralihan selain DBD yang perlu diwaspadai juga adalah Chikungunya. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini disebarkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus.
Maka entahlah apakah saat ini musim pancaroba atau tidak, yang paling penting adalah jaga kesehatan, apalagi kita masih berada di tengah pandemi covid 19 yang jumlah penderitanya belum menunjukkan kurva menurun.
Dan membaca puisi berjudul Hujan di Bulan Juni, meskipun indah dan syahdu namun tidak akan mencegah kita dari serangan penyakit apabila kita tidak waspada dan menerapkan cara hidup yang bersih serta sehat.
kredit foto : Vhisal Bhutani – unsplash.com








