Karena merasa tak percaya diri memakai jam tangan maka saya lebih suka menghiasi tangan dengan gelang. Dulunya saya suka memakai gelang karet, sekalian sebagai cadangan untuk mengikat rambut, namun biar kelihatan lebih aksi kemudian saya ganti dengan gelang manik dan kayu hingga sekarang.

Pernah sekali waktu ada yang bertanya apakah gelang yang saya pakai bermanfaat untuk kesehatan. Tentu saja saya menjawab tidak karena gelang yang yang saya beli atau dikasih orang itu memang bukan gelang kesehatan seperti yang diiklankan di TV.

Bahwa setiap benda yang kita pakai atau berada di sekeliling kita kemudian berpengaruh pada diri, saya percaya hal itu karena setiap benda mempunyai unsur-unsur tertentu dalam dirinya. Tapi soal pengaruhnya misalnya menyehatkan, membuat kita kuat atau kebal, menjadi menarik untuk orang lain atau kemudian mencegah penyakit saya ragu kalau soal itu.

Maka ketika ada klaim soal obat antivirus corona berupa kalung oleh Badan Penelitian Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan) yang bikin heboh itu, saya tak mau ikut-ikutan heboh apalagi percaya.

Sebab klaim serupa sudah sering muncul bahkan dari orang atau lembaga yang sama sekali tak berurusan dengan penelitian. Seperti beberapa kepala pemerintah dan kepala daerah yang merasa menemukan formula entah untuk mencegah atau mengobati corona.

Kenyataannya covid 19 adalah pandemi yang kompleks sehingga ada yang menduga virusnya mempunyai jenis atau varian yang berbeda antar negara, virus cepat bermutasi. Jadi penelitian untuk mengembangkan formula bagi pencegahan atau pengobatannya pasti sangat kompleks.

Sementara adalah biasa di negeri kita, penelitian-penelitian sederhana dengan specimen terbatas dan masih dalam skala laboratorium sudah bikin heboh. Contoh terakhir yang masih ada sisanya misalnya soal bajakah.

Yang dilakukan oleh peneliti baru kajian awal, yang mesti ditindaklanjuti lagi ke tahap yang lebih serius, lebih kompleks dan memakan banyak biaya. Dan biasanya ketika sudah berhubungan dengan biaya, segala penelitian di republik ini langsung bermasalah.

Bahwa Balitbang Kementan mungkin sudah menemukan kandidat bahan yang punya potensi mencegah atau mengobati Covid 19 adalah benar. Tapi melakukan uji klinis, diuji ke tubuh manusia, berbagai jenis manusia untuk dikenali dampak khasiatnya dan dampak lainnya itu yang belum. Padahal justru uji klinislah yang amat menentukan apakah bahan itu kemudian bisa dikembangkan menjadi obat dan kemudian diklaim mencegah atau menyembuhkan penyakit.

Tidak perlu diterangkan betapa rumit dan panjangnya perjalanan penelitian untuk menemukan obat atau bahkan vaksin. Para peneliti mulai dari yang magang, asisten, peneliti pemula, peneliti madya, peneliti utama, dari yang belum punya gelar hingga yang Doktor dan Professor pasti mengerti dan memahami hal itu. Di bagian dunia manapun peneliti adalah orang yang paling sabar, untuk tidak segera mengabarkan kabar yang belum mereka pastikan sendiri secara berulang-ulang.

Peneliti bukanlah politisi, bukan presiden, bukan kepala daerah yang kerap kali berlaku sebagai buzzer, endorser dan influencer bagi sebuah potensi yang belum pasti pada implementasi. Menyemangati, memberi harapan (yang kerap kali adalah harapan palsu) bukanlah tugas peneliti.

Di luar ambisi atau tekanan politik dari para atasan peneliti, heboh soal kalung pencegah corona bisa jadi merupakan cermin dari dunia penelitian kita. Dimana peneliti kita nampaknya kurang prestasi dan gatal publikasi.

Sebuah penelitian pasti akan menghasilkan sebuah hasil. Hasilnya bisa berguna dan tidak berguna. Bisa dilanjutkan dan bisa juga tidak diteruskan. Namun baik yang beguna maupun tidak, yang dilanjutkan atau tidak semuanya bernilai.

Untuk menguji hal itu, maka penelitian harus dipublikasi. Publikasinya di sebuah jurnal agar kemudian bisa ditanggapi oleh peneliti-peneliti lain, sehingga diperoleh kesimpulan sebagai sahih atau tidak. Jadi sebuah penelitian tidak boleh langsung disebarkan ke masyarakat umum, lewat press release atau konperensi pers.

Maka di media-media kita terutama media daring banyak tulisan atau artikel yang berisi klaim-klaim sepihak tentang ini dan itu yang bisa mengobati, menyembuhkan atau mencegah penyakit tertentu. Tidak sedikit diantaranya yang bohongnya keterlaluan, dengan menyertakan sosok tertentu yang dianggap sebagai penemu padahal kalau ditelusuri lebih jauh, jangankan temuannya, sosoknya saja tidak ketemu. Tapi diklaim setinggi langit sampai dikabarkan sebagai calon penerima hadiah nobel.

Kita kerap menyebut riset, riset dan riset. Tapi pada akhirnya ketahuan bahwa kita semua hampir tak paham apa itu riset. Maka jangan heran jika kemudian kita mempercayai aksesories kesehatan sebagai obat penyembuh atau pencegah penyakit. Sama seperti banyak orang yang percaya bahwa gelang yang saya pakai punya ‘isi’.

kredit foto : tirto.id