Banyak orang tua sebenarnya tidak suka dengan seremoni kelulusan yang berlebihan terutama untuk mereka yang lulus SD, SMP dan SMA/K. Hanya saja, beberapa tahun terakhir seolah sekolah berlomba-lomba, mengadakan acara perpisahan yang penuh gengsi, diselenggarakan di hotel-hotel dan gedung pertemuan yang mewah.
Namun karena pandemi Covid 19 akhirnya tanpa advokasi dari pihak-pihak yang peduli pada pendidikan, acara kelulusan yang wah dengan sendirinya tak bisa dilaksanakan. Acara yang mulai mentradisi dengan segala pernak-perniknya ditiadakan.
Mungkin saja banyak yang kesal karena telah punya rencana, tapi pasti tak sedikit yang bersuka. Acara kelulusan dengan pernak-perniknya untuk lulusan SD, SMP dan SMA/K memang kerap terlalu berlebihan mengingat rentang pendidikan mereka ke depan masih panjang.
Lain ceritanya dengan para lulusan sarjana. Mereka pantas saja kecewa karena tak bisa merayakan kelulusan dan pencapaian mereka di panggung dengan memakai toga.
Namun apapun itu, mereka yang lulus di masa pandemi Covid 19 patut diacungi jempol. Atas salah satu cara mereka telah menjadi pelopor. Pelopor dari pendidikan yang selama ini telah diperbincangkan dan diperjuangkan oleh banyak pihak.
Hanya saja banyak orang menyebut mereka yang naik kelas dan lulus di tahun 2020 ini sebagai generasi atau angkatan corona. Sebutan ini terasa meremehkan, seolah kenaikan kelas dan kelulusan adalah give away dari pemerintah dan otoritas pendidikan.
Padahal tidaklah pantas kalau kita merendahkan dan meremehkan mereka yang karena pandemi covid 19 kemudian harus belajar di rumah. Dan karenanya kemudian tidak bisa merayakan kenaikan kelas dan kelulusan seperti angkatan sebelumnya.
Bayangkan bertapa perihnya mereka yang bertahun-tahun belajar keras agar bisa memakai toga saat wisuda, berfoto ria dan selfi serta update status di sosial media ternyata kemudian urung.
Pun juga para lulusan SMA dan SMK yang tak bisa bersorak bersama dan corat-coret seragam terakhir mereka. Tak bisa konvoi berkeliling kota. Acara kelulusan semua disederhanakan.
Tegakah kita menyebut mereka sebagai angkatan corona atau bahkan angkatan virus?








