KESAH.ID – Sejak zaman ghibah di pagar tetangga hingga era flexing di layar kaca, hasrat manusia untuk mengintip dan memamerkan kehidupan orang lain tak pernah surut, ia hanya berganti rupa mengikuti kecanggihan teknologi. Kini, melalui fenomena reality show dan live streaming yang tak henti, privasi telah bertransformasi menjadi komoditas industri yang menjual fantasi kemaslahatan visual.
Orang selalu ingin tahu dan membahas kehidupan orang lain, siapa pun dia. Itulah kenapa yang namanya gosip, ghibah, dan bisik-bisik tetangga selalu ada di sepanjang zaman. Hanya modanya saja yang berubah seiring dengan perkembangan teknologi, terutama industri penyiaran.
Membicarakan orang lain bahkan telah menjadi industri besar; terbitlah media-media yang dikenal sebagai “media kuning”, hingga profesi penguntit bersenjata kamera yang dikenal dengan istilah paparazi. Seorang paparazi akan menguntit pesohor—entah itu selebriti, tokoh politik, atau sosok terkenal lainnya—untuk mengambil foto secara candid, tentu saja tanpa izin, untuk kemudian dijual ke media penerbitan. Seorang paparazi tidak selalu sembunyi-sembunyi karena mereka terkadang memburu objeknya secara agresif.
Ketika televisi masih menjadi sumber informasi utama, acara bincang-bincang tentang orang lain ini menduduki rating tinggi. Di televisi, ada banyak acara yang secara umum disebut sebagai infotainment—nama yang bagus, padahal isinya adalah gosip.
Dengan teknologi informasi, ketika semua orang bisa melakukan siaran, tren kemudian berubah. Kehidupan seseorang bukan lagi dikulik oleh orang lain, melainkan secara terbuka banyak orang menunjukkan kehidupannya sendiri. Karena yang ditunjukkan adalah kelebihan, terutama harta atau gaya hidup, fenomena ini kemudian disebut sebagai flexing.
Live atau siaran langsung dulu hanya dikenal di radio dan televisi. Beberapa memecahkan rekor karena disiarkan selama berjam-jam tanpa henti. Dulu, yang sering disiarkan secara langsung oleh televisi adalah acara hiburan tertentu, upacara kenegaraan, operasi penangkapan teroris, mudik Lebaran, hingga pemilu. Namun, lama-kelamaan siaran ini masuk ke ruang privat, seperti pernikahan artis dan lain sebagainya.
Pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina menjadi pelopor pernikahan artis yang disiarkan secara langsung. Setelah itu, menyusul artis-artis lainnya seperti Lesti Kejora dan Rizky Billar, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, Anang dan Ashanty, Ria Ricis dan Teuku Ryan, hingga Sule dan Nathalie. Acara siaran langsung seperti ini dikategorikan sebagai reality show.
Sepanjang sejarah televisi, ada banyak reality show terkenal di mana sekelompok orang hidup bersama dengan direkam kamera selama 24 jam. Ada yang disiarkan secara langsung, ada pula yang tunda. Reality show ini meliputi bidang seni, olahraga, gaya hidup, sampai percintaan. Kehidupan atau aktivitas sehari-hari ternyata bisa menjadi ladang bisnis dalam industri siaran.
Salah satu pionir yang mengubah kehidupan pribadi menjadi aset bisnis bernilai miliaran dolar adalah keluarga Kardashian-Jenner. Keluarga ini menjadikan keseharian mereka sebagai bahan siaran atau pertunjukan. Ditunjang oleh penampilan putri-putrinya, mereka memamerkan kehidupan mewah di layar. Apa yang ditunjukkan seolah-olah alami, padahal semua telah dikurasi, bahkan dimanipulasi secara selektif.
Dengan memamerkan kehidupannya, keluarga ini tumbuh menjadi keluarga kaya yang ditopang oleh anak-anak muda yang kaya raya karena bisnis masing-masing. Mereka menjual fantasi. Strategi membangun ilusi ini kemudian dikonversi atau dimonetisasi lewat produk, entah kosmetik atau fesyen, yang dibangun oleh anak-anak Kardashian-Jenner. Muda, cantik, dan kaya raya menjadi gambaran dari putri-putri keluarga ini; mereka menjadi keluarga impian karena dianggap membangun bisnis dari usaha sendiri (self-made billionaire).
Kelak, memang ada yang membongkar bahwa kemilau yang dipamerkan ternyata tidak seindah yang tampak di layar televisi. Ada banyak manipulasi yang menopang reputasi tinggi mereka. Reality show yang tumbuh dalam ekosistem televisi dan kemudian makin berkembang dalam media sosial melahirkan ilusi sebagai komoditas. Lewat live streaming, sosok-sosok ini menjual fantasi. Masyarakat akhirnya terbuai dan membeli produk yang mereka endorse bukan karena kualitas, melainkan karena ingin merasakan bagian dari gaya hidup mewah para pemengaruh (influencer).
Apa yang disebut sebagai kesejahteraan atau kebahagiaan di zaman media sosial sebenarnya merupakan kemaslahatan visual. Inilah yang lebih diutamakan, walaupun dalam realitas yang sebenarnya, bisa jadi kesehatan finansial mereka sedang berdarah-darah.
BACA JUGA : King COTA
Flexing atau pamer tumbuh subur dalam ekosistem media sosial; seolah media sosial memang berfungsi untuk unjuk gigi memamerkan apa saja, termasuk kekonyolan bahkan ketololan. Hebatnya, apa yang dipamerkan itu bisa dimonetisasi menjadi uang.
Di media sosial, banyak orang memamerkan “gaji” dari platform tertentu karena kontennya sukses dimonetisasi. Beberapa di antaranya menunjukkan diri masuk kategori Crazy Rich dan rajin membagi-bagi kekayaan. Konten “memberi” pun menjadi fokus utama.
Manusia sesungguhnya belajar dengan meniru, terutama hal-hal yang terlihat enak, seperti menjadi kaya dengan mudah. Dan sudah menjadi hal biasa bahwa orang yang rajin memberi lebih mudah dipercaya ketimbang orang pelit, walaupun orang pelit itu lebih mendidik. Padahal, para pelaku flexing sebenarnya menjadikan kepercayaan sebagai komoditas. Masyarakat atau pengikut yang percaya itulah yang kemudian akan dimonetisasi.
Dengan kepercayaan yang besar itu, beberapa dari Crazy Rich ini kemudian menawarkan produk atau apa pun untuk menarik uang dari mereka yang terpana, entah lewat skema investasi bodong atau judi online. Dampak sosiologis dari fenomena ini menjadi destruktif. Terpana oleh ilusi yang dipamerkan, banyak orang tertipu. Banyak yang ingin ikut kaya dengan cepat, namun berakhir dengan hidup lebih miskin dan sengsara.
Crazy Rich memang suka memakai narasi from zero to hero, sebuah narasi yang sangat disukai masyarakat Indonesia. Kemaslahatan visual memberi bukti instan yang dianggap sebagai realita. Begitu menyaksikan kehidupan para Crazy Rich yang amat gampang memperoleh uang sekaligus berbelanja tanpa khawatir, nalar kritis netizen Indonesia langsung tumpul.
Netizen lupa bahwa Crazy Rich yang datang ke showroom mobil mewah dan main tunjuk mobil seolah membeli pisang goreng, sebenarnya sedang melakukan pertunjukan. Transaksi yang ditunjukkan—ada uang yang ditransfer dan bukti pembelian—tak pernah dicurigai sebagai rekayasa. Padahal faktanya, tidak semua sungguh-sungguh transaksi jual-beli. Bahkan mobil yang diantar ke rumah pun bisa merupakan sebuah properti syuting.
Kelak juga terbukti, aksi pemberian kepada orang lain pun sering kali rekayasa. Tumpukan uang yang diberikan hanyalah kemaslahatan visual. Ketika kamera mati, uang dikembalikan, dan sosok yang bersujud-sujud karena mendapat segepok uang hanyalah aktor yang sedang menjalankan perannya.
BACA JUGA : Menang Perang
Muda, kaya, dan bahagia nampaknya menjadi inspirasi baru di media sosial. Semua berlomba menunjukkan sukses tanpa kerja keras; sebuah standar hidup yang nyata-nyata tidak realistis. Namun, kepalsuan itu tervalidasi karena apa yang dipertontonkan diterima begitu saja. Penonton lupa bahwa realitas media sosial hanyalah secuplik pilihan dari kehidupan nyata, meski disiarkan secara live berjam-jam.
Baru-baru ini, Marapthon menjadi sangat terkenal. Ini adalah model streaming kehidupan sekelompok orang yang diinisiasi oleh Reza Arap yang disiarkan penuh selama beberapa hari. Apapun yang mereka lakukan bisa dilihat oleh pemirsa. Bahkan, beberapa orang yang menjadi bagian dari Marapthon dikabarkan bisa membeli rumah dari acara live streaming ini.
Orang membayar atau memberi gift untuk menyaksikan kehidupan orang lain, sosok yang mungkin dikagumi atau bahkan dibenci. Tontonan yang disaksikan banyak orang memancing yang lainnya untuk ikut menonton karena takut dibilang ketinggalan zaman. Padahal, Marapthon jelas adalah ilusi visual. Yang bisa sejahtera karena melakukan live streaming ala Marapthon pun tak banyak. Namun kisah sukses semacam ini selalu memancing pengikut, padahal sosok yang punya nilai jual seperti Reza Arap sangatlah langka.
Media sosial memang panggung—panggung yang kerap mengguncang rasa aman banyak orang. Karena media sosial pula, dorongan konsumerisme menjadi lebih tinggi. Orang ingin ikut pamer, padahal tak tahu bahwa yang dipertontonkan bukan milik sendiri; barang mewahnya sewaan, makanan berlimpahnya hasil endorse.
Bukan sekali dua kali jejak busuk para Crazy Rich terbongkar; kredibilitas mereka ternyata dibangun dari kebohongan. Yang asli tersembunyi di balik kamera yang tidak menyala. Belajar menjadi konsumen atau investor yang cerdas makin mendesak saat ini. Curigailah semua yang menjanjikan kekayaan dengan cara yang instan. Tetaplah membumi, karena tak ada yang benar-benar mudah di dunia ini; semua perlu diperjuangkan. Bahkan yang berjuang keras seumur hidup pun belum tentu berhasil.
Jangan tergiur dengan yang palsu, apalagi menormalisasi jalan pintas menuju kebahagiaan. Sekali lagi, tak ada jalan pintas dalam hidup, kecuali jika kita sedang sangat beruntung.
note : sumber gambar – TAN








