Biskuit hitam gurih dengan isi krim putih ditengah bikin heboh. Oreo yang dikenal dengan iklan diputer terus dijilat itu terus bikin kejutan. Selain mengembangkan berbagai rasa yang unik seperti rasa semangka, gingerbread, fruit punch, sampai rasa kue ulang tahun. Yang paling baru dan mencuri perhatian adalah oreo merah, red velved yang disebut sebagai Oreo Supreme.

Yang bikin heboh bukan soal warnanya melainkan harganya. Konon harga aslinya hanya sekitar 8 USD tapi di situs lelang atau e-commerse bisa puluhan atau bahkan ratusan kali lipat.

Kenapa harga biscuit yang biasa hanya sekitar 10.000 itu menjadi berlipat-lipat?. Muasalnya karena ada nama Supreme di biscuit oreo itu. Oreo Supreme adalah kerjasama antara biscuit oreo dengan perusahaan streetwear Supreme.

Supreme adalah streetwear yang berawal dari toko skater kecil di Manhattan, New York. Didirikan dan dibuat oleh James Jebbia pada tahun 1994. Supreme kemudian berkembang dan membesar, tersebar ke berbagai negara.

Setahun yang lalu dengan mudah kita temui orang memakai kaos dan topi dengan tulisan supreme. Supreme menjadi penanda pop culture karena teknik marketing yang jitu. Untuk mempertahankan brandnya, supreme kemudian berkolaborasi dengan berbagai perusahaan. Salah satunya adalah Oreo dan melahirkan Oreo Supreme. Sebetulnya taka da yang special selain bungkusnya yang merah dan ada tulisan supreme.

Kalau kemudian harga Oreo Supreme jadi mahal itu karena eklusifitas. Diproduksi dalam jumlah sedikit dan dijual melalui reseller. Dan siapa pasar dari produk semacam ini?.

Mereka yang memburu barang semacam ini disebut sebagai kaum Hypebeast. Mereka adalah orang-orang yang menggilai produk tertentu agar terus dianggap sebagai orang kekinian. Maka barang yang sebenarnya sederhana kemudian harganya bisa berlipat-lipat.

Dan apakah barang biasa saja yang dibeli dengan harga selangit itu akan dimakan?. Mungkin saja enggak. Sebab rasanya pasti tak akan sebaik harganya.

Tapi inilah harga yang harus dibayar oleh mereka yang memuja gaya hidup. Yang tak mau dianggap sebagai orang yang out of date, ketinggalan jaman. Mereka yang merasa sebagai orang kekinian memang harus membayar ongkos yang tidak murah. Sebab yang dibeli bukan harga yang sesungguhnya melainkan label yang menyertai benda itu.

Saya jadi ingat seorang teman yang memakai kaos biasa-biasa saja. Saat ditanya berapa harga kaosnya, dia menjawab 450 ribu.

Mahal sekali!

Dan seorang teman lain yang tahu tentang merk T-Shirt kemudian mengatakan bahwa harga mahal itu harus dibayar karena ada logo yang menempel di kantong sebelah kiri. Itulah harga yang harus dibayar karena memasang merk tertentu.

Jadi pada dasarnya kita sering membayar lebih banyak dari yang seharusnya dan kita rela. Karena dengan ongkos tersebut kita beroleh percaya diri karena memakai segala sesuatu yang sesuai dengan jaman. Kita merasa menjadi istimewa karena memakai barang bermerk.

Dan merk yang popular akan berganti setiap saat. Selalu mengikuti mungkin akan membuat kita bahagia. Tapi jangan sekali-kali menyangka bahwa kita akan istimewa karena apa yang kita makan atau kita pakai. Belum lagi akibat ketidakmampuan mengikuti gaya hidup sesuai jaman kemudian kita membeli barang bermerk yang palsu atau KW.

Ada nasehat bijak yang perlu kita ingat. Jangan besar pasak dari tiang. Jangan sampai hanya karena ingin bergaya lalu kita melupakan kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting lainnya.

Sewaras-warasnya orang adalah tidak layak jika harus membayar 500 ribu untuk 3 biji biscuit kering. Nggak worth it banget deh ya.