KESAH.ID – Kenaikan harga gas dan bahan pokok pasca-Lebaran menjadi beban ganda bagi rakyat yang baru saja merayakan hari fitri. Di tengah hilangnya stok gas subsidi, pemerintah justru melontarkan imbauan penghematan kepada ibu-ibu di dapur, sebuah narasi yang terasa timpang saat gaya hidup pejabat masih sarat dengan konvoi mewah dan kantor-kantor pemerintah tetap benderang di malam hari.
Masih dalam suasana Lebaran, berita sendu sudah mulai terdengar. “Harga nasi goreng naik,” ujar seorang teman. Ternyata bukan hanya itu, harga gas melon juga mulai melambung dengan kenaikan mendekati seratus persen. Rasanya pedas sekali, karena pada saat yang bersamaan, harga lombok membuat para penjual makanan serba pedas jadi waswas.
“Lebaran terasa anyep,” ujar teman lainnya yang mengisi hari raya dengan liburan. Menurutnya, destinasi wisata di musim liburan kali ini mengalami penurunan; omzetnya turun jauh dibanding Lebaran yang lalu-lalu. Sungguh sebuah ujian berat bagi ibu-ibu, karena di hari-hari yang masih fitri ini, banyak warung menggantung pengumuman: “Gas 3 Kg Habis”.
Jika gas tidak ada, berarti dapur tidak mengebul. Pengeluaran rumah tangga bakal semakin meningkat ketika makanan harus dibeli jadi, sementara harga-harga kebutuhan lain mulai merangkak naik.
Perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel yang diributkan di Indonesia soal menang-kalahnya—padahal tidak jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah—sebenarnya membuat orang sedunia menderita. Di Amerika Serikat sendiri, walau tak ada satupun rudal Iran yang sampai ke sana, rakyatnya sudah mulai marah karena harga BBM makin mahal.
Di Filipina, para pekerja pergi ke kantor dengan jalan kaki atau “Walk to Work”. Tak apa-apa, mereka bisa menghemat BBM sekaligus berolahraga. Meski begitu, kebutuhan air di kantor akan meningkat karena banyak yang sampai di kantor dengan badan penuh keringat sehingga perlu mandi.
Di tengah situasi yang getir ini, Bahlil Lahadalia menyampaikan imbauan pencerahan yang sungguh mengharukan. Dengan nada yang soft-spoken, Bahlil mengingatkan ibu-ibu di dapur agar tidak boros energi saat memasak. Bahlil, melalui pernyataan resminya yang disampaikan dalam konferensi pers, meminta agar ibu-ibu segera mematikan kompor setelah selesai memasak.
Sungguh imbauan yang penuh perhatian. Namun nampaknya, imbauan ini hasil improvisasi Bahlil di atas podium. Faktanya, ibu-ibu memang sudah berlaku demikian; kompor pasti segera dimatikan begitu selesai memasak. Perilaku terhadap kompor gas berbeda dengan perilaku pada keran air. Saat mencuci, sering kali air mengucur terus walau sedang menggosok sabun, sehingga air terbuang-buang. Tapi tidak demikian dengan gas, karena umumnya ibu-ibu ingin segera mematikan gas karena takut bermain api.
Anggap saja kita memang sedang memasuki masa krisis; krisis energi terutama BBM dan gas gara-gara “ontran-ontran” yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan Israel di Iran. Begitu mengalami krisis atau keadaan darurat, pemerintah dengan cepat selalu menasihati rakyat untuk berhemat, seolah-olah rakyat selama ini berlaku boros. Soal boros, jelas rakyat tidak boros dalam urusan gas. Gas subsidi saja sering kosong.
Tentang gas, rakyat malah berusaha mengirit. Makanya air isi ulang yang sebenarnya mesti dimasak sebelum dikonsumsi, langsung diteguk saja, kecuali ketika mau membuat teh atau kopi. Maka imbauan yang disampaikan oleh Bahlil Lahadalia dengan ucapan yang lembut dan penuh kasih sayang itu bisa disebut sebagai tuduhan yang keji. Seolah perilaku masyarakat di dapur menggerogoti cadangan devisa. Mungkin para penasihat dan staf ahli Bahlil Lahadalia lupa membaca postur konsumsi energi nasional untuk melihat siapa yang paling rakus.
Rumah tangga mengonsumsi 12 persen energi nasional, sedangkan yang terbesar atau hampir separuh energi nasional dikonsumsi oleh industri. Pemerintah juga rakus energi; lihat saja kantor-kantor pemerintah sering kali terang benderang di malam hari walau tak berpenghuni. Di masyarakat, yang terbanyak adalah klub mobil LCGC, sementara pemerintah berlomba membeli mobil mahal dengan CC yang tinggi. Seorang teman menyebut mobil pemerintah sebagai “PDAM”, karena BBM-nya mengucur deras seperti keran air.
BACA JUGA : Kedai Merana
Konon, kambing PE atau Peranakan Etawa yang termahal adalah kambing jantan berbulu hitam. Bisa jadi ini merupakan simbol dari kebiasaan kita yang suka mencari “kambing hitam”. Ancaman kekurangan energi kali ini diarahkan ke konflik di Timur Tengah sebagai kambing hitamnya. Mirip penjual durian di Melak yang menaikkan harga sebutir durian dengan alasan pasar saham turun dan nilai tukar dolar naik.
Kita sering lupa bahwa bahkan tanpa krisis global pun, saat Timur Tengah adem sekalipun, tata kelola energi kita sudah bermasalah. Seperti hal-hal lainnya, ada banyak kebocoran energi di negeri kita. “Bocor… bocor… bocor,” kata Pak Prabowo dulu ketika masih berkampanye sebagai calon presiden.
Maka aneh kalau tiba-tiba saja rakyat yang selalu dijadikan garda depan untuk semua program yang menghimbau pengetatan ikat pinggang. Padahal setiap hari rakyat selalu melihat para pejabat negeri membuang-mbuang BBM. Hanya untuk mengantar sang pejabat dari rumah jabatan ke kantor, iringan mobil pengantarnya panjang mirip pawai atau konvoi. Padahal kebanyakan pejabat bukanlah aktivis yang terancam disiram air keras di jalanan.
Atas nama efisiensi, belanja pemerintah memang dipotong. Namun hasil efisiensinya justru diboroskan untuk hal-hal “gratisan” yang tidak terlalu perlu. Dan yang gratis-gratis itu terbukti banyak bocornya juga. Menasihati rakyat untuk berhemat bisa jadi perlambang bahwa pemerintah sebenarnya tidak tahu mesti berbuat apa.
Padahal kita tahu, Presiden Prabowo yang baru pulang dari menandatangani piagam BOP sebelum Amerika Serikat dan Israel merudal Iran, begitu “dar-der-dor” terjadi, langsung menawarkan diri menjadi penengah. Niat yang baik dan mulia, tapi yang lebih diperlukan adalah berunding dengan Iran agar kapal-kapal yang membawa minyak bumi untuk Pertamina bisa melaut melewati Selat Hormuz dengan aman. Tapi nyatanya, dalam daftar negara yang kapalnya boleh lewat, nama Indonesia tidak tercantum di sana.
Lupakan sejenak keinginan untuk merasa bisa mendamaikan konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat; kebencian antar mereka itu sudah meresap sampai ke dalam sumsum tulang. Sehebat-hebatnya pendamai, tetap butuh waktu yang panjang. Para perunding negeri ini mestinya lebih memfokuskan agar problem tersebut sekecil mungkin memberikan dampak negatif bagi negeri kita. Jadi, janganlah terlalu mudah memberi nasihat pada rakyat untuk berhemat, sementara pemimpin atau petingginya pelit memberi teladan.
BACA : Sungkem Ortu
Tugas rakyat memang berkorban, karena sejarah kemerdekaan memang mencatatkan pengorbanan rakyat yang besar; melawan penjajah hanya berbekal semangat juang. Dan rakyat terus-menerus diminta berkorban. Mengorbankan tanah dan lahan penghidupannya untuk direndam menjadi waduk atau bendungan, menjadi konsesi tambang atau perkebunan, bahkan ada yang menjadi hutan lindung.
Sudah diminta berkorban, masih diancam-ancam pula. Seperti Bahlil Lahadalia yang dengan keras memperingatkan rakyat agar tidak menimbun BBM. Barangnya saja langka, bagaimana mau ditimbun? Kalau kelangkaan itu karena ditimbun, yang menimbun bisa dipastikan bukan rakyat kecil. Menimbun BBM butuh fasilitas, dan siapa yang punya fasilitas itu? Penimbunan yang berdampak jelas hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya infrastruktur dan akses pada rantai distribusi mulai dari pusat.
Soal kejahatan dalam distribusi BBM dan gas, jelas pemain besar atau menengah yang bisa bermain; rakyat kecil hanya menikmati remah-remah. Apa yang disebut mafia migas sudah lama berkuasa sejak zaman Orde Baru, dan coba diurai di zaman Presiden Jokowi, namun sampai saat ini kaki tangannya belum berhasil diamputasi.
Soal subsidi, sudah lama masalahnya tetap sama yakni tidak tepat sasaran. Ambil contoh subsidi gas LPG 3 kg, siapa yang sebenarnya menikmati? Atau subsidi solar, ke mana solar subsidi dijual jika di SPBU antreannya selalu mengular dan terdapat papan pengumuman “Solar Habis”?
Yang punya kuasa selalu mudah menudingkan jari pada rakyat. Padahal dalam setiap tudingan satu jari ke rakyat, ada empat jari lainnya yang mengarah pada dirinya sendiri. Data menunjukkan jumlah kelas menengah menurun dan daya beli masyarakat melemah. Artinya, tanpa disuruh pun rakyat sudah mulai berhemat, bukan karena rajin menabung, melainkan karena pendapatannya tidak cukup.
Maka sungguh tidak bijaksana dalam kondisi seperti ini meminta rakyat untuk menjadi pahlawan. Hentikan dulu semua kebocoran di level atas rakyat, baru setelah itu minta ibu-ibu untuk segera mematikan kompor di dapur. Jangan dibolak-balik, karena tugas negara dan pemerintah adalah membahagiakan rakyatnya. Dan setelah hampir seratus tahun merdeka, kapan pemerintah negeri ini benar-benar berhasil membahagiakan rakyatnya? Bahkan janji-janji serba gratis sekalipun malah membuat masyarakat makin “ngenes” hati; terlalu mudah bagi para petinggi negeri ini untuk ingkar janji dan terlalu pintar mencari alasan pembenaran atas pengingkaran tersebut.
note : sumber gambar – RRI








