KESAH.ID – Patal pernah menjadi nama yang melekat dalam ingatan generasi 70–80-an, sebuah simbol kemandirian sandang yang kini tinggal kenangan. Dari bangunan tua di Secang hingga kabar terbaru tentang rencana Danantara membangun pabrik tekstil, cerita ini adalah perjalanan panjang mimpi industri sandang Indonesia: dari kejayaan, kejatuhan, hingga harapan baru untuk bangkit kembali.
Bagi anak-anak era 70–80-an, Patal adalah nama yang akrab. Ia tercantum dalam buku Himpunan Pengetahuan Umum (HPU), bersama daftar pesawat, senjata, dan pabrik-pabrik strategis. Generasi itu terbiasa menghafal, menjadikan pengetahuan ensiklopedis sebagai tanda kepintaran. Saya sendiri termasuk yang doyan menghafal, sehingga Patal—Pabrik Pemintalan—mudah melekat di kepala.
Sesekali saya melewati Patal Secang, bangunan tua di jalur Magelang–Semarang. Pabrik itu dibangun sekitar tahun 1960-an sebagai bagian dari proyek besar pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sandang nasional. Kala itu, PT Industri Sandang Nusantara (ISN) menjadi kebanggaan BUMN tekstil, dengan jaringan pabrik di berbagai daerah: Banjaran (Bandung), Cilacap, Tegal, Secang (Magelang), Lawang (Malang), Grati (Pasuruan), hingga Makassar
Industri Sandang Nusantara berawal dari Komando Proyek Sandang (Koprosan) yang didirikan pemerintah pada 1961 untuk membangun pabrik pemintalan dan pertenunan. Pada 1967, lahirlah PN Industri Sandang, yang kemudian diubah statusnya menjadi persero pada 1977. Perusahaan ini sempat terbagi menjadi dua entitas, lalu digabung kembali pada 1999 dengan nama PT Industri Sandang Nusantara (Persero).
Produk ISN beragam: benang tenun (cotton, rayon, polyester), kain mentah, kain kanvas, hingga karung plastik. Pada masa jayanya, ISN menjadi tulang punggung swasembada sandang, mendukung program pembangunan nasional. Namun, memasuki era 2000-an, banyak unit pabrik tutup. Lima dari sembilan pabrik berhenti beroperasi, ribuan pekerja dirumahkan, dan pendapatan perusahaan hanya bertumpu pada jasa maklun (penjahitan) yang tidak mampu menutup biaya operasional
Patal Secang, yang dulu berdiri gagah di jalur Magelang–Semarang, kini hanya menyisakan bangunan tua. Ia menjadi monumen bisu tentang masa lalu industri tekstil Indonesia. Di masa Orde Baru, pabrik ini adalah bagian dari strategi besar swasembada sandang. Namun, seiring waktu, ia tak mampu bersaing dengan produk impor murah, terutama dari Tiongkok.
Pada Maret 2023, Presiden Joko Widodo resmi membubarkan PT Industri Sandang Nusantara melalui Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2023. Proses likuidasi ditetapkan paling lambat enam tahun, dengan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebagai pelaksana. Dengan keputusan itu, Patal Secang dan unit-unit lain benar-benar menjadi bagian dari sejarah, bukan lagi masa depan.
Patal adalah simbol mimpi besar yang pernah dimiliki bangsa: kemandirian sandang, industri tekstil yang berdiri di atas kaki sendiri. Namun, ia juga menjadi pelajaran pahit tentang bagaimana BUMN bisa runtuh oleh manajemen yang boros, ketidakmampuan beradaptasi, dan persaingan global.
BACA JUGA : Reshuflle Bahlil
Kini, kabar datang dari Danantara. Perusahaan ini berencana membangun pabrik tekstil, sebuah langkah yang seakan menghidupkan kembali gema lama dari Patal. Dahlan Iskan menulis bahwa Danantara ingin menghadirkan denyut industri sandang, bukan sekadar nostalgia, melainkan strategi masa depan.
Rencana ini lahir dari kenyataan pahit: Indonesia masih menjadi pasar besar tekstil, tetapi sebagian besar kebutuhan benang dan kain bergantung pada impor. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa ekspor tekstil Indonesia hanya sekitar USD 4 miliar per tahun, jauh tertinggal dibanding Vietnam yang mencapai lebih dari USD 30 miliar. Danantara membaca celah itu: membangun pabrik tekstil berarti menghidupkan kembali rantai produksi dari hulu ke hilir, sekaligus membuka jutaan lapangan kerja baru.
Namun, membangun pabrik tekstil di era sekarang bukan sekadar soal mesin pemintal. Ini soal keberanian menghadapi persaingan global, soal efisiensi energi, soal keberlanjutan. Industri tekstil dunia kini bergerak ke arah smart manufacturing, penggunaan energi terbarukan, dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Danantara ingin menegaskan bahwa industri tekstil Indonesia tidak harus sekadar menjadi konsumen, tetapi bisa kembali menjadi produsen yang kompetitif.
Rencana ini juga menyentuh dimensi sosial. Industri tekstil dikenal sebagai sektor padat karya: menurut BPS, lebih dari 3,6 juta tenaga kerja langsung terserap di sektor ini. Jika pabrik baru benar-benar berdiri, maka peluang kerja bagi perempuan, generasi muda, dan masyarakat pedesaan akan terbuka lebar. Dengan demikian, pabrik tekstil bukan hanya mesin ekonomi, tetapi juga instrumen sosial untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan.
Seperti Patal dulu, pabrik tekstil ini diharapkan menjadi simbol kebangkitan. Tetapi kali ini, dengan tantangan yang lebih kompleks: teknologi modern, pasar global, dan tuntutan ramah lingkungan. Dahlan Iskan menyebut bahwa Danantara menyiapkan investasi sekitar USD 6 miliar (Rp106 triliun), dengan target ekspor naik sepuluh kali lipat dalam satu dekade. Angka itu bukan sekadar ambisi, melainkan pertaruhan besar: apakah Indonesia mampu kembali menjadi pemain utama di industri sandang, atau justru terjebak dalam siklus kegagalan seperti Patal dan BUMN tekstil lain yang pernah runtuh.
Dengan demikian, kabar dari Danantara bukan hanya tentang pabrik baru, melainkan tentang mimpi lama yang ingin dihidupkan kembali. Sebuah mimpi bahwa Indonesia bisa berdiri tegak sebagai produsen sandang, bukan sekadar pasar bagi produk impor. Sebuah mimpi yang menuntut keberanian, inovasi, dan konsistensi agar tidak berakhir menjadi monumen bisu seperti Patal Secang di jalur Magelang–Semarang.
BACA JUGA : Hutan Adat
Rencana Danantara membangun pabrik tekstil memang terdengar seperti kabar kebangkitan. Namun, sebagaimana Dahlan Iskan menulis dalam catatan hariannya, industri tekstil Indonesia adalah sektor yang sudah lama sakit. Banyak pabrik tutup, BUMN sandang hancur, bahkan ikon besar seperti Sritex pun tumbang. Dahlan menyebut bahwa industri ini pernah menjadi “tulang punggung” ekonomi, tetapi kemudian kehilangan daya saing karena boros, tidak efisien, dan kalah oleh produk murah dari Tiongkok serta Vietnam.
Danantara hadir dengan ambisi besar: investasi USD 6 miliar, target ekspor naik sepuluh kali lipat, dan konsep kawasan industri tekstil terintegrasi dari hulu ke hilir. Dalam kerangka besar, ini bukan sekadar membangun pabrik, melainkan membangun ekosistem. Dahlan menekankan bahwa kekuatan industri tekstil modern tidak lagi bertumpu pada mesin pemintal semata, melainkan pada jaringan produksi yang efisien, teknologi ramah lingkungan, dan kemampuan membaca pasar global.
Namun, pertanyaan yang menggantung adalah apakah mimpi ini bisa bertahan. Sejarah Patal memberi pelajaran pahit: pabrik yang dulu berdiri gagah bisa runtuh oleh manajemen yang boros dan ketidakmampuan beradaptasi. Dahlan mengingatkan bahwa industri tekstil adalah sektor padat karya, menyerap jutaan tenaga kerja, tetapi sekaligus rentan terhadap guncangan harga bahan baku, fluktuasi permintaan global, dan tekanan kompetisi.
Di sisi lain, peluang sosial yang ditawarkan tidak kecil. Industri tekstil bisa menjadi pintu masuk bagi perempuan dan generasi muda di pedesaan untuk memperoleh pekerjaan layak. Jika Danantara berhasil, ia bukan hanya mesin ekonomi, tetapi juga instrumen sosial untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, jika gagal, ia hanya akan menambah daftar panjang mimpi industri yang berakhir sebagai monumen bisu seperti Patal Secang.
Dahlan Iskan menulis dengan nada reflektif: “Industri tekstil kita pernah mati suri, kini ada tanda-tanda recovery. Tapi recovery itu rapuh. Danantara harus berani, harus efisien, harus modern. Kalau tidak, ia akan menjadi Patal jilid dua.” Kalimat itu seakan menjadi peringatan keras bahwa mimpi besar bisa runtuh jika tidak diiringi konsistensi dan inovasi.
Dengan demikian, kabar dari Danantara bukan hanya tentang pabrik baru, melainkan tentang pertaruhan besar bangsa. Apakah Indonesia mampu kembali berdiri tegak sebagai produsen sandang, atau justru terjebak dalam siklus kegagalan yang sama? Patal adalah kenangan, Danantara adalah harapan. Di antara keduanya, ada garis panjang sejarah yang menuntut keberanian, inovasi, dan konsistensi agar mimpi kemandirian sandang tidak lagi berakhir sebagai nostalgia.
note : sumber gambar – INTERNET








