KESAH.ID – Samarinda hari ini hidup dalam paradoks: kota yang berdiri di tepian Mahakam, sungai besar yang dulu disebut tirta amarta, justru diguncang oleh krisis air. Wifi lelet, listrik byarpet, dan air mati hanyalah gejala kecil dari petaka yang lebih besar. Ketika kemarau panjang datang, sungai surut, kadar garam meningkat, dan air bersih pun lenyap. Di tengah hiruk pikuk kota, Mahakam yang mestinya menjadi berkah kini berubah menjadi ancaman, menyingkap rapuhnya ketergantungan Samarinda pada satu sumber kehidupan.
Wifi lelet, sinyal melemah, air mati, listrik byarpet. Deretan gangguan ini belakangan jadi keluhan rutin warga Samarinda, berderet di linimasa media sosial. Pagi-pagi sudah ada yang absen: siapa yang mati air, siapa yang mati listrik.
Hari makin muram ketika ramalan hujan dari BMKG yang muncul di notifikasi ponsel tak terbukti. Langit tetap kering, udara berubah jadi sauna. Tak lama kemudian, berita kebakaran datang silih berganti: rumah terbakar, lahan terbakar. Saudara tiri musim kemarau di Samarinda memang api, tak ada hari tanpa kebakaran.
“Karangmumus tak lagi bisa dilewati perahu, dari hilir ke arah Bendung Lempake,” ujar Pak Iyau, penjaga setia pangkalan pungut GMSS SKM. “Kalau pas air pasang bisa naik sampai Betapus, tapi begitu sulit mesti segera kembali ke bawah,” tambahnya. Saya pun mengurungkan niat untuk menyusuri sungai bersamanya. Kemarau panjang membuat Karangmumus tak lagi bisa dinikmati. Samarinda jelas sedang berada dalam krisis: krisis air.
Pedagang makanan menutup lapak karena tak ada air untuk mencuci. Beberapa sekolah beralih ke daring, sanitasi tak terjamin. Sekolah berasrama bahkan diliburkan, pasokan air tak cukup untuk siswa. Harga air melonjak, tanpa jaminan sumbernya aman. Ada yang diambil dari tandon, ada pula yang langsung disedot dari rawa atau sungai, sekadar untuk MCK.
Sungai di Samarinda kebanyakan bukan sungai permanen, bergantung pada air hujan. Hanya Mahakam yang selalu ada, tapi sifatnya unik: terhubung langsung ke laut, membawa air balik dengan kadar garam tinggi. Sayangnya, instalasi pengolahan air di Samarinda tak dibangun dengan teknologi desalinisasi. PDAM terpaksa menghentikan produksi kala kadar garam Mahakam meninggi. Beberapa instalasi tak lagi beroperasi penuh. Air yang seharusnya berkah kini berubah jadi petaka.
BACA JUGA : Marc Misano
Delapan puluh persen kebutuhan air bersih Samarinda bergantung pada sistem Mahakam, dengan tabungan air dari danau-danau di Mahakam Tengah. Namun di hulu, Mahakam mulai surut. Sungai bisa diseberangi dengan berjalan kaki. Pulau kerikil muncul, tepiannya berpasir jadi pantai. Sungai yang dulu gagah kini jadi tempat piknik.
Debit menurun, danau-danau mengering, daya dorong air melemah. Air balik dari laut makin kuat, kadar garam Mahakam meningkat. Kejadian berulang ini belum diantisipasi. Pemerintah lebih sibuk menormalisasi alur sungai ketimbang memulihkan fungsinya sebagai penabung air.
Petaka air pun terasa. Jika tak segera diatasi, krisis ini akan merusak kesehatan fisik dan mental warga. Samarinda sudah lama diperingatkan soal ketergantungan pada air permukaan, tapi langkah yang diambil justru membuat kota ini semakin rentan.
Alih-alih memperkuat sistem sungai, pemerintah membangun Teras Samarinda di tepian Mahakam. Padahal sungai bukan sekadar teras. Ia ruang kehidupan, tempat bernaung, bersaung, melamun, menyaksikan ponton batubara lalu lalang. Petaka rakyat sering kali justru jadi citra baik pemerintah. Di kala rakyat menderita, pemerintah tampil sebagai penyelamat dengan mobil tangki. Tapi ini hanya solusi jangka pendek. Ketika kekurangan air meluas, distribusi dengan tangki justru memicu konflik antarwarga.
Status tanggap darurat kekeringan mungkin penting. Namun lebih penting lagi refleksi menyeluruh atas intervensi terhadap sungai. Tanpa perubahan paradigma, derita kemarau panjang hanya akan mengulang kesah lama.
BACA JUGA : Prabowo Sosialis
Sudah saatnya petaka air ini jadi perhatian utama. Samarinda tak boleh tunduk pada intrusi air laut lewat Mahakam. Pelajaran dari alam sudah terlalu banyak diabaikan.
Kota Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Mahakam Hulu, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mesti berhenti berpikir eksploitatif. Paradigma sungai harus berubah: bukan hanya badan air, tapi juga daerah aliran sungai. Manajemen DAS mesti diperkuat, dari hulu hingga hilir.
Pemerintah daerah yang dimanjakan Mahakam mesti menumbuhkan sumber air baru. Diversifikasi penting, meski kapasitas terbatas, jumlah yang cukup bisa menopang bila Mahakam bermasalah. Teknologi pengolahan air kini tersedia luas. Pemerintah mestinya meningkatkan kapasitas, bukan sekadar menghimbau warga untuk irit air.
Air adalah hak rakyat. Krisis ini bukan sekadar teknis, melainkan soal hak ekosob yang wajib dipenuhi negara. Memberi makan bergizi tak berarti bila air bersih tak tersedia. Bangsa tak akan sehat tanpa air.
Samarinda kini menghadapi petaka air nyata. Mahakam, yang dulu disebut tirta amarta, air kehidupan, kini berubah jadi sumber krisis. Jika pemerintah gagal memuliakan kembali Mahakam, maka sungai ini bukan lagi anugerah, melainkan kuburan. Mahakam akan kembali ke asal katanya: meekam, makam.
note : sumber gambar – PUBLIKKALTIM








