KESAH.ID – Festival Jurnalis Warga Surosowan di Rumah Dunia, Serang, bukan sekadar ajang seni dan temu komunitas. Ia menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan suara-suara warga, jurnalis, akademisi, dan pegiat lingkungan untuk membicarakan isu besar: kebebasan pers dan transisi energi berkeadilan. Dari panggung orasi hingga pameran foto, festival ini menegaskan bahwa jurnalisme warga bukan hanya aktivitas menulis, melainkan gerakan sosial yang berakar pada pengalaman nyata masyarakat.
“Kita ke Rumah Dunia,” ujar seorang kawan usai sesi foto di depan Rumah Singgah Fesbuk Bantennews.
Saya tak punya bayangan apa-apa tentang tempat itu, bahkan sempat menduga hanya penamaan untuk sekretariat Jurnalis Warga Surosowan.
Mobil perlahan meninggalkan halaman, melewati Gang Glatik, lalu menyusuri jalan protokol Kota Serang yang panasnya terasa menyengat. Beberapa waktu kemudian, kendaraan berbelok ke jalanan permukiman dan masuk ke sebuah kompleks dengan halaman cukup luas.
Di kompleks itu berdiri beberapa bangunan yang teduh meski matahari terik. Pohon dan rumpun bambu meneduhi bagian ampiteater. Pandangan saya segera tertuju pada bangunan utama bertuliskan Rumah Dunia. Seketika saya menangkap bahwa kompleks ini memang ditujukan sebagai ruang literasi.
“Tempat siapa ini?” tanya saya kepada semua yang ada di mobil.
Salah satu menjawab, “Gola Gong.”
“Oooo… ohhh,” hanya itu yang keluar dari mulut saya, tanda penerimaan yang penuh makna.
Pantas saja kompleks ini tampil berbeda dari sekitarnya, karena dimiliki oleh Gola Gong, penulis cerita remaja yang kemudian dikenal sebagai aktivis literasi. Sayang, ia tidak ada di tempat. Kalau ada, tentu saya ingin berfoto dengannya sekadar bergaya.
Di panggung ampiteater terpampang backdrop bertuliskan Festival Jurnalis Warga Surosowan. Untuk acara inilah saya hadir di Serang, bertemu dan mendengar kisah serta curhatan komunitas Jurnalis Warga yang tumbuh dari Gerakan Banten Bersih. Festival ini sudah berlangsung beberapa hari, dan hari itu adalah puncaknya, diisi musik, puisi, curhat, dan orasi.
Penampil pertama, Ukat Saukatudin, perwakilan JW Surosowan, menegaskan dalam orasinya bahwa transisi energi berkeadilan tidak bisa dilepaskan dari jurnalisme merdeka. Transparansi informasi hanya mungkin jika jurnalis bebas dari intimidasi dan tekanan.
Kebebasan pers pun menjadi sorotan utama. Media arus utama dinilai sering gagal mengungkap konflik lingkungan secara utuh. Azzumar Adhitia, dosen Ilmu Komunikasi Untirta, menekankan peran jurnalis warga sebagai garda depan. Kamera ponsel, tulisan di media sosial, dan laporan langsung dari tapak konflik menjadi “media pencerahan” yang merekam jeritan rakyat ketika televisi memilih berpihak pada modal dan kuasa.
Selain itu, Wahyu Arya dari BantenNews menyoroti tekanan finansial yang dialami perusahaan media, yang berimbas pada sempitnya ruang kebebasan pers. Festival ini pun menjadi wadah bagi jurnalis warga untuk menyampaikan keresahan sekaligus memperkuat solidaritas.

BACA JUGA : Jurnalis Warga 1

Isu sentral Festival Jurnalis Warga Surosowan kali ini adalah transisi energi. JW Surosowan aktif mengadvokasi rencana pembangunan Pembangkit Listrik Panas Bumi, sebuah proyek energi terbarukan yang justru menimbulkan kekhawatiran warga.
Percakapan tentang transisi energi memang belum jelas arahnya. Pemerintah punya rencana dan target, namun sering kali hanya diukur dari angka produksi listrik atau penurunan emisi. Meski ditujukan untuk energi bersih dan berkelanjutan, transisi selalu melahirkan kelompok rentan.
Temuan JW Surosowan membuktikan bahwa masyarakat adat dan kelompok rentan sering menjadi korban proyek energi, kehilangan tanah, ruang hidup, dan akses sumber daya. Selama ini percakapan tentang transisi energi jarang dilihat dari perspektif HAM. Karena itu, Rizal Hakiki dari LBH Pijar menegaskan bahwa transisi energi berkeadilan adalah bagian dari pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Ekosob). Negara wajib memastikan langkah nyata, memaksimalkan sumber daya, dan menjamin hak masyarakat agar tidak dikorbankan demi kepentingan industri.
Di sisi luar ampiteater, dipajang pameran foto tentang transisi energi di Indonesia, khususnya di Banten. Puluhan foto itu memvisualisasikan bagaimana proyek transisi energi berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, sekaligus mengingatkan bahwa transisi energi harus berpihak pada keadilan sosial.

BACA JUGA : Jurnalis Warga 2

Festival Jurnalis Warga Surosowan membuktikan bahwa jurnalisme warga bukan sekadar aktivitas menulis. Berbeda dengan jurnalisme arus utama, jurnalisme warga adalah gerakan sosial. Contoh paling jelas terlihat dari aktivitas JW yang berkembang menjadi gerakan lewat Fesbuk Bantennews.
Dalam kegiatan yang didukung Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dan Climateworks Foundation, festival ini mempertemukan pekerja media, pegiat lingkungan, akademisi, NGO, dan masyarakat sipil dalam satu panggung.
Festival juga diwarnai pembacaan puisi oleh penyair dan sastrawan Banten, seperti Qizink La Aziva, Toto ST Radik, dan UKM Belistra Untirta, serta penampilan musik dari Gesbica UIN Banten. Seni dan budaya menjadi medium untuk menyampaikan pesan bahwa kebebasan pers dan transisi energi berkeadilan adalah isu yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
JW Surosowan telah menjadi gerakan yang menunjukkan masyarakat tidak pasif menghadapi tekanan media dan proyek energi. Mereka aktif merekam, menyuarakan, dan mengorganisasi diri. JW Surosowan menjadi simbol bahwa jurnalisme warga mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan media arus utama, sekaligus memperkuat demokrasi di tingkat lokal.
Festival JW Surosowan di Serang adalah cermin dinamika sosial-politik Indonesia hari ini: kebebasan pers yang terhimpit, transisi energi yang belum berkeadilan, dan masyarakat yang berjuang merebut ruang suara.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM








