KESAH.ID – Sebuah undangan sederhana tanpa penjelasan detail membawa saya menempuh perjalanan dari Samarinda menuju Serang, Banten. Dari percakapan singkat dengan teman, pertemuan tak terduga di Bandara Soekarno-Hatta, hingga akhirnya mengetahui tujuan sebenarnya: menghadiri Festival Jurnalis Warga Surosowan. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan rangkaian cerita yang mengalir dari satu kejutan ke kejutan berikutnya.
Minggu lalu saya menerima pesan dari seorang teman di Jakarta yang berisi pertanyaan: apakah tanggal 7–9 Agustus saya ada agenda atau tidak. Saya tidak langsung menjawab ada atau tidak, melainkan hanya menuliskan, “Bisa diatur.” Biasanya memang jadwal kegiatan diatur di awal bulan, sehingga jika ada agenda tambahan, masih bisa menyesuaikan. Karena itu saya balik bertanya, “Memangnya kenapa tanggal itu?” Teman saya menjawab singkat, “Saya mau undang ke Serang, Banten.” Saya pun segera menegaskan kembali, “Bisa diatur.”
Setelah itu tak ada informasi lebih lanjut mengenai untuk apa saya diundang ke Serang. Saya pun tidak bertanya-tanya, karena tanpa penjelasan berarti saya hanya diminta hadir. Komunikasi berikutnya justru datang dari kawan lain yang menanyakan saya akan berangkat dari Samarinda atau Balikpapan, serta jam keberangkatan. Karena sudah lama tidak terbang dari Samarinda, saya memilih berangkat dari Samarinda pada siang hari.
Sesaat sebelum berangkat, sambil merokok di salah satu kedai kopi dan teh yang harganya termahal di Samarinda, saya mengirim pesan kepada teman yang mengundang. Saya bertanya, setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, saya harus menuju ke mana. Tak lama kemudian ia membalas dengan tautan Google Maps yang menunjukkan alamat sebuah hotel. Nama hotel itu tidak asing, sebuah brand lama yang salah satu pemilik sahamnya adalah Ciputra. Tujuan saya ke Serang, Banten semakin jelas, meski acaranya masih belum saya ketahui.
Sebenarnya ini perjalanan pertama saya ke Serang. Namun tak ada kekhawatiran, sebab dari Bandara Soekarno-Hatta ke arah mana pun selalu ada angkutan Damri yang bisa diandalkan. Sejak dari Samarinda, saya sudah menetapkan perjalanan ke Serang akan ditempuh dengan Bus Damri. Perjalanan udara dari Bandara APT Pranoto Samarinda ke Bandara Soekarno-Hatta memakan waktu sekitar dua jam lebih. Begitu mendarat, yang saya perlukan hanyalah tempat nyaman untuk merokok. Di pintu keluar, baik sisi kanan maupun kiri, tersedia banyak tempat untuk merokok sambil menguyur tenggorokan yang kering. Karena belum makan siang, saya memilih sebuah kedai besar yang menjual makanan berat. Kalau tidak salah, namanya Djakarta.
BACA JUGA : Latihan Empati
Saat mencari tempat duduk yang pas untuk menikmati sebatang rokok, sekilas saya mengenali sosok yang tengah bersantap. Sudah lama tak bertemu, namun karena dulu saya lama mengenalnya di Manado, saya yakin mata saya tak salah. Saya mendekat, menepuk pundaknya, dan berkata, “Ba, apa ngana di sini?” Ia pun terkaget. “Keode, kiapa le kong baku dapa ngana disini. Mau dapa soe kwa ini,” ujarnya spontan. Kami tertawa bersama.
Ia masih ingat kebiasaan lama saya. “Ngana musti cari tampa ba roko to.” Saya memesan makanan lalu duduk di sampingnya. Kami mulai bernostalgia, mengabsen sahabat dan teman-teman lama di Manado. Dalam catatan kami, ada beberapa teman yang kemudian sukses menjadi pejabat bahkan pemimpin daerah di Sulawesi Utara. “Biasa jo kalau so jadi pejabat, dorang so nda batemang deng torang,” katanya. Saya tahu itu bukan keluhan, melainkan realita yang sering ditemuinya. Sebagai perempuan pejuang yang aktif mendampingi warga berkonflik dengan perusahaan dan kebijakan pemerintah, ia tahu persis watak teman-temannya yang berubah medan permainannya.
Dari sekian nama yang saya sebut, nampaknya hanya dia yang masih bertahan di jalan perjuangan. Kini ia menjadi pucuk pimpinan sebuah ornop yang melahirkan banyak ornop di masanya. “Kita so nembole lari kasiang,” katanya. Itu bukan keluhan, melainkan kesadaran bahwa jalan yang dipilih sejak awal tak memberi pilihan lain. Ia pernah ingin berhenti demi memikirkan nasib diri dan keluarga. “Maar nembole, mau apa lagi kalau dorang datang ka rumah. Mau usir pa dorang. Mo dapa kutuk kita,” ujarnya lagi.
Ketika yang lain mulai beristirahat, menikmati hidup, ia masih harus bepergian ke sana kemari memperjuangkan masyarakat adat, kelompok perempuan, dan masyarakat rentan lainnya. Siapa dia? Silakan ketik Jull Takaliuang, banyak tautan di Google yang bisa menceritakan siapa dia.
BACA JUGA : Makan Enak
“Sudah sampai di hotel kah mas?” Saya membalas, “Belum, masih di Bandara Soeta.” “Lho, pesawatnya delay ya?” Ah, saya lupa mengabarkan bahwa saya sudah tiba sejak tadi, hanya saja belum bergerak ke Serang karena bertemu teman dan asyik berbincang.
Ternyata hampir dua jam saya habiskan bertukar cerita di Bandara Soekarno-Hatta. Saya pun segera melangkah menuju terminal Bus Damri di ujung sisi kanan pintu keluar kedatangan. Dalam perjalanan, saya melihat booth penjualan tiket. Saya mampir membeli tiket sekaligus bertanya jam keberangkatan Bus Damri ke Serang. Petugas menjawab, “Jam 16.15.” Tepat, 15 menit lagi berangkat. Tapi seperti biasa, jadwal hanyalah formalitas.
Di terminal pemberangkatan, saya masih sempat merokok dua batang sebelum Bus Damri akhirnya tiba. Bus kemudian menyusuri jalan tol, meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta menuju Serang. Perjalanan lancar, namun begitu keluar dari tol dan memasuki jalan perkotaan di Serang Baru, laju bus melambat karena jalanan padat. “Serang Baru, Serang Baru,” ujar sopir memberi tanda penumpang bersiap turun. Ternyata bus tidak berhenti di pool atau terminal, melainkan di tepi jalan.
Saya agak terkejut. Lebih terkejut lagi ketika turun, banyak orang menawarkan jasa antar. Di Serang ternyata masih banyak ojek biasa, atau mungkin ojek online sengaja tidak menyalakan aplikasi. Namun karena bertemu teman dari pulau lain yang juga diundang, kami memilih kendaraan roda empat untuk menuju hotel. Dalam perjalanan, saya baru mendapat informasi bahwa undangan ini ternyata untuk menghadiri Festival Jurnalis Warga Surosowan, sebuah komunitas jurnalis warga yang berkembang dari gerakan Banten Bersih.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM








