KESAH.IDDi media sosial, istilah hidden gems jadi mantra sakti: warung kopi di pinggir kuburan dianggap unik, kedai di puncak bukit disebut romantis, kios di gang sempit dipuja eksotis. Namun, ketika pemerintah membangun Koperasi Merah Putih di lokasi serupa, publik justru mencemooh. Ironi ini menyingkap standar ganda: absurditas diterima untuk kuliner, tapi ditolak mentah-mentah untuk kebijakan.

Cafe hidden gems bernuansa klasik dan old money di Samarinda, keren banget nih cafe hidden gems di Samarinda. Masih banyak lagi judul lain di postingan media sosial yang ‘mewartakan’ permata tersembunyi.

Istilah hidden gems seolah menjadi mantra sakti dalam dunia kuliner, food and beverage. Sebuah warung kopi yang lokasinya nyeleneh—di pinggir kuburan, di bawah jembatan, di puncak bukit yang harus ditempuh dengan napas ngos-ngosan—justru dianggap unik. Semakin sulit dicari, semakin eksotis. Semakin absurd lokasinya, semakin viral. Istilah hidden gems tidak melulu untuk kafe, kedai, atau coffee shop, tapi juga untuk kios nasi goreng dan jajanan lainnya.

Di Samarinda ada banyak contoh lokasi yang sering disebut sebagai hidden gems. Tempat-tempat yang tidak membuat orang jeri atau takut, malah justru membuat mereka rela antre. Ada kedai atau kafe di puncak bukit, untuk pergi ke sana perlu motor dengan tenaga prima dan rem yang pakem. Nyali pengendara pun diuji. Destinasi seperti ini kemudian jadi bahan konten dengan caption “worth the struggle.”

Bukan hanya tanjakan dan tebing yang menantang, ada juga kios yang viral karena tersembunyi di dalam gang kecil. Tak ada petunjuk jalan, tapi justru itu yang membuat pengunjung semakin tertantang. Adrenalin terpacu hanya demi seporsi mihun beralaskan kerupuk puli.

Fenomena hidden gems ini menunjukkan betapa masyarakat kita punya selera unik: kalau kuliner, lokasi nyeleneh dianggap romantis. “Wah, hidden gems banget!” kata netizen sambil mengunggah foto di Instagram. Lokasi yang absurd justru jadi nilai jual.

BACA JUGA : Menyembah Uang

Namun, ketika pemerintah berencana membangun Koperasi Merah Putih secara serentak, fenomena hidden gems mendadak berubah jadi bahan olok-olok. Begitu lokasi koperasi disebut dekat kuburan, pinggir tebing, atau puncak bukit, masyarakat langsung menilai: “Aneh, tidak tepat, buang-buang anggaran.” Reaksi ini menunjukkan betapa cepat publik menolak sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan nalar umum, padahal dalam konteks kuliner, lokasi-lokasi absurd justru dipuja dan dianggap romantis.

Padahal, kalau warung kopi di pinggir kuburan dianggap unik, kenapa koperasi di lokasi serupa dianggap salah? Kalau restoran di puncak bukit dianggap romantis, kenapa koperasi di puncak bukit dianggap tidak masuk akal? Kita seolah punya standar ganda: kuliner boleh nyeleneh, koperasi tidak boleh. Padahal, koperasi juga bisa menjadi hidden gems ekonomi. Bayangkan koperasi di pinggir kuburan: selain menjual sembako, bisa sekalian menjual bunga tabur, peti mati, kain kafan, dan lain-lain. Koperasi di puncak bukit: selain menjual beras, bisa sekalian jadi rest area pendaki. Bahkan koperasi di pinggir tebing bisa jadi tempat singgah yang menawarkan pemandangan spektakuler sambil membeli kebutuhan pokok.

Fenomena ini menunjukkan bias publik yang begitu jelas. Kita memuja keanehan ketika berhubungan dengan makanan, tapi mencemooh keanehan ketika berhubungan dengan kebijakan. Padahal, keduanya sama-sama soal kebutuhan dasar: perut dan ekonomi. Kuliner dianggap sah untuk bermain dengan absurditas, sementara koperasi dianggap harus tunduk pada logika kaku. Ironisnya, masyarakat lupa bahwa koperasi bukan sekadar bangunan, melainkan wadah ekonomi rakyat yang bisa tumbuh di mana saja, bahkan di lokasi yang dianggap “tidak lazim.”

Lebih jauh, penolakan terhadap koperasi di lokasi nyeleneh juga memperlihatkan bagaimana publik sering terjebak pada simbol. Kuburan dianggap menyeramkan, tebing dianggap berbahaya, bukit dianggap terlalu jauh. Tetapi ketika simbol itu dipakai untuk kuliner, semua berubah jadi eksotis. Kita rela antre demi secangkir kopi di pinggir makam, tapi menolak membeli beras di koperasi yang berdiri di lokasi serupa.

Publik lebih mudah menerima absurditas ketika perut yang dihibur, tapi menolak absurditas ketika dompet yang diatur. Padahal, koperasi yang ditempatkan di lokasi unik bisa menjadi daya tarik baru sekaligus solusi ekonomi. Jika kuliner bisa viral karena lokasinya nyeleneh, kenapa koperasi tidak bisa viral karena menawarkan sembako murah di tempat yang tak biasa?

BACA JUGA : Pala – Rempah Nusantara yang Merubah Dunia

Fenomena hidden gems kuliner versus koperasi merah putih adalah cermin bangsa. Kita lebih mudah menerima absurditas ketika perut yang dihibur, tapi menolak absurditas ketika ekonomi yang diatur. Kita lebih rela antre di warung kopi pinggir kuburan daripada antre di koperasi pinggir kuburan.

Jelas bahwa bangsa ini punya standar ganda. Lokasi nyeleneh dianggap romantis kalau untuk makan, minum, atau destinasi kongkow, tapi dianggap bodoh kalau untuk kebijakan. Padahal, keduanya sama-sama bisa jadi cerita unik.

Jika koperasi merah putih benar-benar dibangun di lokasi-lokasi absurd, mungkin suatu hari akan muncul konten viral: “Koperasi hidden gems di pinggir tebing, view-nya keren banget, sembakonya murah.” Atau: “Koperasi di dekat kuburan, vibes-nya spooky tapi harga berasnya bikin hidup lebih tenang.”

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa bangsa ini sering lebih sibuk menertawakan daripada memahami. Kita menertawakan koperasi merah putih karena lokasinya nyeleneh, padahal kita memuja warung kopi yang berada di lokasi serupa.

Sakit memang, karena sepuluh ditambah enam hasilnya tujuh belas.

note : sumber gambar – KOMPAS