“Biar jo bodo’ di skolah, yang penting nyanda bodo’ makang” (Biar saja bodoh di sekolah yang penting nggak bodoh makan).
Dulu saya sering dengar perkataan seperti itu saat masih di Manado, entah maksudnya untuk bergurau atau apa. Mungkin juga yang mengatakan itu tengah jengkel karena setiap kali ke sekolah untuk mengambil raport anaknya, selalu ada pesan-pesan genting dari sang guru. Seperti “Anak bapak ini terlambat, pelan menangkap pelajaran”. Atau “Tolong ibu lebih menemani belajar, anak ibu sampai sekarang belum lancar membaca dan menulis,”.
Bagi sebagian besar orang tua pesan seperti itu jelas genting. Tapi ada juga yang menanggapinya biasa-biasa saja. Bahkan balik menasehati sang guru.
“Nda apa-apa anak saya belum bisa membaca, yang penting dia mau sekolah biar bisa bermain dan bertemu dengan banyak teman,”
Dan pasti guru tak bisa menerima nasehat itu dan akan berkata “Nanti raportnya jelek dan tidak naik kelas,”
Raport jelek dan tidak naik kelas tentu menjadi semacam aib bagi banyak orang tua. Tapi tetap saja ada orang tua yang menganggap biasa-biasa saja. “Iya, tidak apa-apa, nda naik kelas juga tidak apa-apa kalau memang tidak memenuhi syarat,”
Nah guru tentu saja makin jengkel dengan orang tua yang bergaya semacam ini. Masak tidak malu kalau raport anaknya jelek dan tidak naik kelas. “Anda ini serius menyekolahkan anak atau tidak?”
Orang tua yang rajin mengantar jemput anaknya sekolah, membayar biaya pendidikan, membelikan buku dan perlengkapan sekolah lainnya pasti serius menyekolahkan anaknya. Kalau dia tak khawatir dengan kemampuan anaknya dalam pelajaran bukan berarti dia tak punya perhatian. Kalau dia tenang-tenang saja dengan keadaan anaknya yang belum bisa lancar membaca atau menambah kurang dan kali angka itu karena dia sadar anaknya masih sekolah dasar.
“Bapak dan ibu guru, anak saya ini masih kelas 1 SD, saya tidak mau membebani dia terlalu banyak. Biar saja dia belajar bermain dan berteman dengan benar. Masa sekolahnya masih panjang, pasti dia nanti bisa membaca dan menjumlahkan angka. Dia belum akan bekerja, dia belum akan menikah, dia belum akan berbisnis, dia masih mulai belajar, termasuk belajar gagal.”
Pendidikan adalah tentang proses, kecepatan anak untuk menangkap atau menerima sesuatu yang diajarkan tidak sama. Yang terpenting dalam pendidikan adalah menjaga dan mengelorakan rasa ingin tahu pada diri peserta didik. Termasuk tahu dirinya sendiri, mengenali siapa dirinya, kelemahan dan kelebihannya. Pendidikan adalah tentang kesadaran diri.
Pendidikan diyakini sebagai sebuah alat untuk perubahan. Pendidikan ditujukan untuk menghantar orang pada sukses kehidupan. Dan berbagai penelitian yang kemudian disarikan dalam tulisan-tulisan ahli, syarat untuk menjadi orang yang sukses dan berhasil misalnya 1. Disiplin, 2. Mandiri, 3.Bertanggungjawab, 4. Kreatif, 5. Rasa Ingin Tahu, 6. Pandai Bergaul/Percaya Diri, 7 Komitmen, 8. Mawas Diri, 9. Fokus, 10. Pantang Menyerah, 11. Berani, 12. Integritas, 13. Berpikir Positif, 14. Cekatan.
Nah dari 14 syarat pertama itu tidak ada soal pintar membaca dan menulis sejak kelas 1 SD atau bahkan sejak TK, tidak ada syarat selalu juara atau rangking pertama, pun juga soal IPK yang sekurangnya 3,4 keatas.
Sayangnya syarat menjadi orang sukses juga berbeda dengan syarat untuk mendapat beasiswa. Makanya pernah mendapat beasiswa bukan merupakan salah satu penyebab orang menjadi sukses.
kredit foto : Dmitry Ratushny








