KESAH.ID – Sebuah cangkir kopi di tepi Sungai Karang Mumus pagi itu tidak hanya mempertemukan saya dengan seorang pencari kabar dari hulu Bengalon. Ia juga membuka kembali ingatan kolektif yang panjang tentang bagaimana air—yang dulunya adalah rawa, danau, dan nadi peradaban kita di Benua Etam—perlahan-lahan dipaksa mengalah oleh semen dan estetika daratan yang asing. Seperti kopi, obrolan dan refleksi tentang ruang, waktu luang, dan peradaban air yang perlahan mati di sekeliling kita memang pahit.
Beberapa hari lalu ada sebuah pesan dari seseorang yang memperkenalkan diri sebagai mahasiswa S2 yang tengah melakukan penelitian di Sungai Bengalon dari konteks antropologi budaya. Dia bertanya kapan bisa bertemu.
Berbincang tentang sungai selalu menarik untuk saya maka saya bilang Hari Sabtu, jam berapapun. Namun kemudian saya tawarkan sekitar jam 10 sekalian ngopi pagi di sebuah warung kopi yang berada tak jauh dari tepian Sungai Karangmumus.
Dan hari Sabtu sekitar jam 10 pagi saya sudah ada di warung itu lalu memesan segelas kopi panas yang diseduh manual. Tak lama kemudian yang janjian dengan saya datang dan memperkenalkan diri. Lalu kami ngobrol kesana kemari, dia juga mengatakan akan datang 2 teman lain yang merupakan kenalan lama saya, dua orang yang dikenal sebagai pioner gerakan di Kalimantan Timur. Mereka berdua juga merupakan orang yang ditempatkan oleh sebagian masyarakat Kaltim sebagai budayawan.
Saya tak sempat bertanya kuliah S2 dimana. Karena ketika memperkenalkan diri juga tak menyebut universitasnya. Tapi nanti ketika berbincang santai di tepi Sungai Karang Mumus kemudian dia bercerita kalau S2-nya di Jepang, kalau tidak salah dengar kotanya adalah Fukuoka.
Sebenarnya Kalimantan Timur, terlebih Kutai Timur bukan daerah asing untuknya. Sebelum kuliah cukup lama dirinya tinggal dan bekerja di sebuah perusahaan ektraksi terbesar di Kalimantan Timur. Pekerjaan yang kemudian ditinggalkan karena ingin melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan yang jika nanti ditanya bisa dipakai untuk melamar kerja apa sepertinya cukup sulit.
Tapi sudahlah, setiap orang akan memilih jalannya sendiri toh ada banyak jurusan di perguruan tinggi yang lulusannya jika ditanya nanti bisa kerja apa, jawabannya lebih sulit daripada bikin skripsi atau tesis.
Ketika mengawali perbincangan saya lebih dahulu menceritakan kalau tidak lahir dan besar di sini, saya bagian dari kaum migran di Kalimantan Timur. Jadi apapun yang saya pelajari tentang Kalimantan Timur sebenarnya adalah hal yang relatif masih baru, masa sesudah reformasi.
Dan saya juga menceritakan kalau apa yang saya ketahui tentang beberapa aspek di Kalimantan Timur terutama air, kawasan atau badan air, semata-mata karena saya adalah PTT, Pekerja Tidak Tetap. Dengan status lebih banyak tidak bekerja, maka saya punya cukup waktu luang untuk memperhatikan apa yang tak terlalu diperhatikan oleh mereka yang punya kesibukan.
Kunci dari apa yang saya ketahui, apa yang menjadi pengalaman saya memang waktu luang.
Karena punya banyak waktu luang, saya mudah diajak jalan-jalan dengan jadwal yang tak ketat.
Waktu luang memang kunci peradaban.
Konon manusia meninggalkan dunia binatang karena waktu luang. Dengan dikuasainya api, manusia kemudian mengkonsumsi makanan yang dimasak. Makanan yang dimasak memangkas banyak waktu yang dihabiskan untuk mencerna makanan mentah.
Karena api pula manusia punya waktu luang di malam hari, api mengusir kegelapan dan dingin serta ancaman binatang. Bekumpul mengelilingi api di malam hari menjadi awal manusia mengalami revolusi kognitif, melahirkan dan mengembangkan bahasa dan dengan bahasa kemudian manusia mengembangkan imajinasi. Semua kemewahan karena api tak dimiliki oleh binatang-binatang lainnya, hingga akhirkan binatang tidak bisa melakukan lompatan evolusi.
BACA JUGA : Menjemput Hak Atas Transum – Mengapa Samarinda Mesti Belajar Pada Bacitra
Membicarakan sungai, bagaimanapun juga semua peradaban besar punya relasi yang kuat dengannya.
Peradaban Mesir Kuno, wilayah yang terletak di bagian timur laut Afrika yang dikenal dengan warisan arsitektur Piramida yang tiada dua ini terhubung dengan Sungai Nil. Banjir tahunan dari sungai ini menyisakan endapan yang subur untuk pertanian. Bangsa Romawi tertarik untuk mengkoloni Mesir Kuno untuk memenuhi kebutuhan gandumnya.
Bangsa Mesopotamia, yang kini dikenal sebagai wilayah Irak dan sekitarnya melahirkan peradaban yang disebut Bulan Sabit Subur. Wilayah yang berada di lembah Sungai Efrat dan Tigris ini berhasil mengembangkan sistem irigasi awal untuk mengendalikan banjir.
Bangsa India Kuno juga mengembangkan peradabannya di sekitar aliran Sungai Indus. Di masa itu India berhasil mengembangkan tata kota yang sangat maju, Kota Mohenjo Daro dan Harrapa telah dilengkapi dengan sistem sanitasi yang terencana.
Peradaban lain yang tumbuh dari tepian sungai adalah Tiongkok Kuno yang berkembang disekitar lembah Sungai Kuning. Kebudayaan dan ekonomi agraris tumbuh di sekitar Sungai Kuning {Huang He} dan Yangtze.
Dan di Nusantara, wilayah yang kemudian dikenal sebagai Indonesia, kebudayaan air atau yang berbasis pada badan air berupa sungai, danau dan rawa atau sadar berserak dari Sabang sampai Merauke. Kerajaan-kerajaan umumnya tumbuh dan berkembang dari pinggiran sungai. Mulai dari Sungai Bengawan Solo, Musi, Batanghari, Mahakam dan lain-lain.
Di Kalimantan Timur jejak hubungan antara masyarakat dan kebudayaannya dengan badan air masih terasa hingga sekarang. Yang natural dan spiritual terhubung lewat air, baik air sungai, danau maupun rawa.
Sungai Mahakam yang hulunya ada di Kabupaten Mahakam Hulu, mengalir melalui Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Samarinda menjadi nadi kebudayaan Kalimantan Timur, kebudayaan Kalimantan Timur sedikit banyak identik dengan Mahakam.
Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur bahkan mesti disebut sebagai Kota di Tepi Aliran Sungai {KITAS}. Di kedua sisi Sungai Mahakam, Samarinda berkembang.
Di aliran Sungai Mahakam ini berkembang kebudayaan pesisir, keraton dan pedalaman yang dihubungkan oleh aliran air sungai yang terhubung dengan danau dan rawa-rawa.
Kebudayaan ini secara tegas tidak memisahkan antara daratan dengan air, daratan dan air dipahami sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
Banjir, genangan air atau air naik adalah keniscayaan, sehingga kondisi ini diadaptasi lewat model infrastuktur, arsitektur rumah tinggal dan pola pertanian tanaman pangan.
Relasi kuat antara masyarakat Kalimantan Timur dengan sungai juga tercermin dari politik pemerintahan. Pusat pemerintahan pertama dalam bentuk kerajaan juga berdiri di pinggir sungai. Kerajaan Martadipura atau biasa dikenal sebagai Kutai Mulawarman ada di Muara Kaman, sementara Kerajaan Kutai Kartanegara pertama kali didirikan di Kutai Lama, Jahitan Layar, lalu berpindah ke Jembayan dan kemudian ke Tangga Arung, yang kini dikenal sebagai Tengarong, Tepian Sungai Mahakam.
Nama-nama daerah di Kalimantan Timur juga banyak berhubungan dengan sungai atau badan air lainnya, nama yang didahului dengan Lung, Long, Luah, Loa, Muara, Tepian, Teluk, Kedang, Karang, Rapak, Sei, Kenohan dan lain-lain.
BACA JUGA : Ruang Uang
Kedekatan dengan sungai, danau dan rawa juga ditemukan dalam bentuk mitos, legenda serta cerita urban legend lainnya. Kisah tentang raja dan ratu pertama dari Kerajaan Kutai Kartanegara juga ada hubungan dengan sungai. Aji Batara Agung Dewa Sakti jatuh dari atas langit di lingkungan dekat sungai, Sementara Putri Karang Melenu muncul dari buih-buih air sungai.
Kelak putra yang tampan dan putri yang cantik ini menikah serta menjadi Raja dan Ratu Kutai Kartanegara.
Kisah itu beriringan dengan kisah lain yang kemudian menjadi bagian dari upacara erau, dimana ada kisah tentang naga yang diabadikan dalam upacara mengulur naga.
Air sungai menjadi bagian penting dari ritual erau, dimana sebelum rangkaian upacara akan dilakukan pengambilan air tuli di Kutai Lama. Air kemudian akan dibawa ke Tenggarong dan dipakai untuk mensucikan.
Dalam rangkaian upacara erau ada tradisi belimbur, saling siram air sebagai pertanda pembersihan diri.
Selain kisah naga, budaya sungai atau air di Kalimantan Timur juga melahirkan cerita tentang buaya yang biasa dipanggil nenek atau datu, kisah tentang buaya sebagai saudara kembar atau gampiran. Ada juga cerita tentang hantu banyu atau hantu air. Juga tentang pesut, mamalia air yang dianggap sebagai binatang suci atau mitologis.
Namun yang paling penting dari budaya air di Kalimantan Timur justru pengetahuan lokal terkait adaptasi pada air yang ditunjukkan dengan pola atau model kendaraan air, seperti perahu. Bentuk perahu di Sungai Mahakam menjadi khas, yakni ramping agar bisa bergerak lincah mengikuti arusnya.
Adaptasi juga tercermin dalam arsitektur vernakular, model rumah yang dibangun oleh masyarakat berdasarkan pengetahuan lokal. Rumah di Kalimantan Timur di lingkungan badan air ada dua yakni rumah panggung dan rumah apung.
Arsitektur rumah yang kemudian menunjukkan sifat egelitarian masyarakat Kaltim dimana tingginya rumah panggung bukan untuk menunjukkan strata sosial, melainkan mengacu pada tinggi rendahnya genangan air saat banjir atau pasang.
Dan rumah apung juga tidak membedakan antara rumah bangsawan atau rumah orang biasa, rumah apung akan sama tinggi dan sama rendah tergantung pada naik turunnya air.
Karena tanah atau daratan di tepian sungai atau darah pasang surut sering terendam air, maka insfrastruktur jalan yang dibangun oleh masyarakat adalah jembatan panjang. Dengan jembatan masyarakat bisa tetap berhubungan atau tidak terhambat mobilitasnya saat daratan digenangi air.
Namun pencapaian pengetahuan terkait adaptasi pada air ini kemudian surut seiring dengan model pembangunan dari pemerintah orde baru yang berorientasi pada daratan.
Mulai akhir tahun 70-an, Samarinda dan kota-kota lain di Kalimantan Timur berubah. Pembangunan kota lebih berparadigma daratan, kota dibangun dengan gaya arsitektur yang tidak berangkat dari kondisi geo hidrologi Kalimantan Timur, kota dibangun dengan konsep estetika daratan.
Akhirnya pembangunan kota di Kalimantan Timur cenderung tidak ramah atau tidak sesuai dengan air. Kawasan air bahkan dimusuhi, dianggap mencoreng wajah kota karena tumbuh menjadi pusat-pusat kekumuhan, slum area.
Masalah sungai, danau dan rawa yang sebenarnya berkurang ruangnya kemudian didekati dengan pendekatan teknik keairan. Sungai yang bermasalah karena terlalu kotor, terlalu sedikit air di musim kemarau dan terlalu banyak air di musim hujan diatasi dengan normalisasi.
Pendekatan pembangunan sungai dengan cara membersihkan kanan kiri sungai dari rumah penduduk, mengeruk lumpur sungai, melebarkan badan sungai, meluruskan dan kemudian membeton kanan kiri sungai sebenarnya tidak menyelesaikan masalah.
Pendekatan normalisasi sungai secara kebudayaan justru menimbulkan sekat antara sungai dan daratan. Sekat yang kemudian membuat masyarakat Kalimantan Timur tidak lagi merasa dekat dengan badan air alami. Sikap yang kemudian membuat Kalimantan Timur makin hari makin mengalami persoalan dengan air.
Pinggiran sungai terus dipercantik, namun peradaban sungai telah mati di benua etam ini.
note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM








