KESAH.IDDari kepul kopi arang hingga guncangan bursa efek, tulisan ini memotret bagaimana krisis global dan retorika Donald Trump mendarat di meja-meja warung kopi Samarinda. Di sela aroma roti srikaya, obrolan warga mengungkap kecemasan nyata: tentang harga emas yang fluktuatif, bayang-bayang perang nuklir, hingga rapuhnya ekonomi digital yang kini hanya berjarak satu cangkir kopi dari keseharian kita.

Minggu pagi itu, kaki saya baru saja tuntas menjajal lereng Gunung Steling sebelum akhirnya berlabuh di tiga warung kopi berbeda. Persinggahan pertama adalah sebuah kesengajaan; saya menemani seorang kawan yang mendamba sarapan ringan namun berkarakter. Kami berhenti di depan deretan toko emas, di mana trotoarnya riuh oleh kios-kios jual-beli logam mulia.

Beberapa kawan menjuluki tempat ini sebagai “Kopi Kalcer”. Julukan itu bukan tanpa alasan. Di tengah kepungan mesin espresso modern, kedai ini adalah anomali yang masih setia menjerang air di atas bara arang. Aroma karbon yang khas itu meresap ke dalam seduhan kopi, juga pada roti bakar selai srikaya dan roti telur yang dipanggang manual. Suasananya tak terlalu bising, namun magnetis bagi mereka yang punya “koneksi” dengan emas. Pengunjung tetapnya adalah para tukang dan pedagang emas kawakan.

Di sini, Anda tak perlu repot nimbrung di meja mereka. Cukup pasang telinga baik-baik. Dinding keramik yang melapisi setengah tembok ruang sempit itu memantulkan obrolan mereka dengan jernih ke telinga siapa pun yang menyimak. Saat saya tiba, seorang pelanggan setia nampak asyik menyantap roti telur, lengkap dengan botol-botol penyedap di sisinya, sambil berbincang akrab dengan cici dan koko pemilik kedai.

BACA JUGA : Jalan Tikus

Meja-meja mulai terisi. Suasana menghangat. Setengah berbisik, saya berujar pada kawan saya, “Sebentar lagi, kita akan mendengar koor tentang emas.” Prediksi itu bukan tanpa alasan, sebab sebelumnya kawan saya sempat galau bertanya soal instrumen investasi terbaik antara tanah atau saham. Saya hanya bisa berteori: tanah itu stabil tapi likuiditasnya macet, sementara saham—di mata kawan saya—sedang porak-poranda.

Tiba-tiba, sebuah suara menyambar dari meja sebelah, “Harga emas jatuh! Turun dua ratus ribu lebih setelah sempat menyentuh tiga juta.” Obrolan kami mendadak senyap. Ramalan “nguping” saya terkonfirmasi telak. Seketika, isu emas mendominasi ruangan. Di satu sudut, seorang pria bahkan melakukan act out, berdiri sembari memamerkan gelang rantai emas di pergelangan tangannya. Kawan saya, yang semula ragu, akhirnya ikut terseret arus obrolan. Gelang seberat 30-an gram itu berpindah tangan untuk difoto. Di atas meja warung kopi ini, angka 90 juta rupiah terasa begitu enteng diucapkan, seolah-olah inflasi hanyalah dongeng sebelum tidur.

Matahari mulai menyengat saat kawan saya pamit. Saya melanjutkan misi pulang dengan pesanan Roti Bakar Srikaya dan Nasi Hainan di tangan. Rute berikutnya adalah kedai dekat pelabuhan yang tersohor karena roti tawar buatan sendiri. Di sana, aromanya bukan lagi soal keuntungan emas, melainkan bau anyir krisis.

Saya menangkap percakapan yang mulai membanding-bandingkan era Jokowi dengan Presiden Prabowo. Ada satu orang yang nampak mendominasi, seorang loyalis fanatik Jokowi yang litani pujiannya terasa agak berlebihan. Baginya, tanpa Jokowi, Samarinda tak akan punya bandara, mungkin juga tak punya tol atau jembatan megah. Saya menelan keinginan untuk menyanggah. “Suka-suka dialah,” gumam saya dalam hati.

Namun, di balik fanatisme itu, tersembunyi kecemasan ekonomi yang nyata. Kebijakan era lalu dianggap lebih bersahabat, sementara setahun kepemimpinan Prabowo dituding telah membawa Indonesia ke jalur krisis. Black Weekend di penghujung Januari 2026 ini menyisakan luka; pasar saham kolaps dan perdagangan dihentikan sementara. Pengunduran diri massal pejabat OJK dan BEI menambah horor situasi. Siapa yang akan menjinakkan badai pasar uang jika para nakhodanya ramai-ramai melompat dari kapal? Biarlah semesta yang bekerja.

BACA JUGA : Senjakala Tuyul

Anehnya, saat pasar saham kacau, harga emas yang sempat melambung justru ikut mendingin. Tapi aroma krisis ini bukan hanya soal angka di layar bursa; ada ancaman Perang Dunia Ketiga yang kian santer di-spill oleh Presiden Prabowo. Sang pemuja Jokowi tadi nampak yakin betul nuklir akan segera bicara. Saya hanya membatin, meski dunia dihuni banyak pemimpin “ajaib”, tombol rudal nuklir sejauh ini masih menjadi monopoli penulis skenario Hollywood.

Jika harus mencari kambing hitam secara serampangan, Amerika Serikat di bawah Donald Trump adalah tersangka utamanya. Begitu dilantik, Trump langsung menebar krisis pertemanan; bahkan Elon Musk pun tak sanggup bertahan di sisinya. Trump bergerak atas nama “Make America Great Again” dengan cara yang primitif: memusuhi siapa saja, termasuk Kanada yang sudah seperti saudara.

Trump seolah bertindak sebagai polisi dunia yang bisa mencokok pemimpin negara lain, seperti Nicolas Maduro, layaknya kriminal jalanan. Di tangannya, Amerika kembali ke mode pemburu-pengumpul yang bertumpu pada Petro Dollar. Ini adalah masa Wild Wild West modern, di mana pistol diganti dengan sanksi dan ancaman militer. Iran nampaknya menjadi target berikutnya, bukan karena ancaman langsung, tapi karena Iran adalah musuh bebuyutan Israel—dan bagi Trump, siapa pun yang memusuhi Israel adalah musuhnya.

Apakah serbuan ke Iran akan memicu kiamat global? Rasanya tidak. Peta dunia sudah bergeser. Tak ada lagi blok militer kaku yang akan saling pasang badan secara membabi buta. Kutukan dan kecaman mungkin akan tumpah ruah, tapi bantuan militer nyata untuk Iran kemungkinan besar akan nihil. Banyak negara kini sudah cukup bijak untuk tetap berada di jalur Non-Blok, atau setidaknya, tidak mau bertindak “Go Blok”.

note : sumber gambar – GEMINI