KESAH.ID – Kecerdasan buatan atau teknologi untuk membantu manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya berkembang sangat pesat. Kaki sebagai alat transportasi alami menjadi tergantikan. Manusia semakin malas jalan kaki, padahal jalan kaki penting untuk kesehatan tubuh dan mental. Selain karena malas, jalan kaki juga menjadi tantangan sebab jalan raya lebih berpihak kepada pengendara kendaraan bermotor. Hak pejalan kaki di jalan kerap tak dihormati bahkan dirampas. Jalan kaki menjadi semakin tak menyenangkan.
Mensana in Corpore Sano, dalam badan yang sehat ada jiwa yang sehat pula. Kalimat berbahasa latin yang pertama dicetuskan dalam Satire X karya Decimus Iunius Juvenalis ini menjadi hafalan pertama murid-murid sekolah pada pelajaran Kesehatan dan Olahraga.
Entah darimana Juvenalis mendapat pengetahuan bahwa kesehatan fisik akan mempengaruhi kesehatan jiwa atau mental, karena dia bukan ahli biologi melainkan seorang pujangga.
Dan pujangga bukanlah orang yang mengandalkan kerja otot. Mereka bukanlah orang yang banyak melakukan aktifitas fisik. Pujangga seperti halnya filsuf pada waktu itu mungkin lebih banyak merenung, duduk diam sambil tongkat dagu, menunggu ilham dan inspirasi.
Walau begitu apa yang dikatakan memang terbukti benar. Faktanya sekarang ini banyak penelitian yang menghasilkan temuan bahwa aktifitas fisik yang cukup akan membuat orang lebih bugar, tidak stress, bahagia dan bersemangat.
Presiden Suharto di masa orde baru yang teramat giat membangun nampaknya juga sadar kalau kesehatan fisik akan menentukan kesehatan mental. Maka untuk membangun mental dan jiwa yang kuat atau sehat, Suharto kemudian mencetuskan slogan “Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat”.
Selain membangun berbagai infrastruktur untuk olahraga, masyarakat pada hari tertentu diminta untuk berolahraga bersama. Olahraga bersama yang dipilih adalah senam, namanya Senam Pagi Indonesia.
Namun politik olahraga ala Suharto ini lama kelamaan luruh setelah masa reformasi. Fokus pembangunan memang masih pada fisik, tapi bukan fisik masyarakat melainkan infrastruktur.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, teknologi yang memungkinkan orang bisa kemana saja tanpa bergerak atau berpindah tempat membuat istilah mager atau malas gerak semakin kuat.
Rebahan, gabut, mager dan istilah-istilah lain yang menunjukkan orang malas-malasan semakin menguat. Faktanya memang demikian. Jangankan berolah raga, berjalan kaki dari rumah ke warung sebelah saja malas.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Stanford University pada tahun 2022 mengungkapkan orang Indonesia termasuk sebagai orang termalas berjalan kaki. Rata-rata orang Indonesia sehari hanya berjalan 3.531 langkah.
Penelitian yang dilakukan lewat Argus, aplikasi pemantau aktivitas yang ada di telepon seluler ini menemukan bahwa orang Hongkong yang paling rajin jalan kaki. Masyarakat Hongkong rata-rata berjalan kaki sejauh 6 kilometer atau setara dengan 6.880 langkah sehari.
Masyarakat berikutnya yang rajin jalan kaki adalah orang China, Ukraina, Jepang dan Rusia.
Sementara orang Indonesia jauh berada di bawahnya. Bahkan lebih malas dibandingkan dengan orang Malaysia, Arab Saudi dan Philipina yang rata-rata jalan kakinya dibawah 4.000 langkah.
Fakta bahwa orang Indonesia termasuk malas berjalan kaki ditunjukkan dengan banyaknya keluhan merasa kelebihan berat badan atau obesitas. Alih-alih berolahraga, yang kelebihan berat badan memilih untuk mengikuti program diet.
BACA JUGA : Tahu Diri
Mungkin slogan “Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” di jaman orde baru cukup berhasil karena membuat masyarakat masih rajin jalan kaki karena sarana dan prasarana transportasi belum cukup tersedia.
Maka kaki masih menjadi salah satu moda utama transportasi, sarana untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Saya masih ingat sampai menjelang SMP, setiap kali berlibur ke rumah nenek saya separuh perjalanan harus ditempuh dengan jalan kaki. Kendaraan angkutan umum waktu itu rutenya akan berakhir di depan Kantor Kecamatan Kaligesing, dari dari Kaligesing ke Tawang Sari tidak ada layanan kendaraan umum lagi.
Pun ketika sekolah, sewaktu SD saya selalu jalan kaki dari rumah ke sekolah, saat SMP pulang pergi sekolah naik sepeda. Baru ketika SMA naik kendaraan umum. Tapi pulang sekolah biasanya saya masih berjalan kaki kurang lebih dua kilometer karena uang untuk membayar angkutan sudah saya pakai untuk jajan atau beli rokok.
Nanti ketika saya kuliah di sekolah tinggi, pulang pergi dari asrama ke kampus juga berjalan kaki. Tidak jauh tapi lumayan, jarak tempuhnya pulang pergi 1 kilometer lebih.
Rasanya pengalaman itu tak dialami oleh anak saya. Sejak TK hingga SMA pulang pergi sekolah selalu diantar atau dijemput dengan motor. Sesekali saja anak saya berjalan dari sekolah ke rumah, itu terjadi ketika dia masih di TK karena jarak sekolah dan rumah cukup dekat.
Jaman anak-anak pulang pergi ke sekolah jalan kaki atau naik sepeda sudah lewat. Anak-anak sekarang bahkan sejak SMP yang belum cukup umur untuk mendapat Surat Ijin Mengemudi sudah membawa motor untuk pulang pergi sekolah.
Di sekitar sekolah SMP, sering ditemukan parkiran motor di luar kompleks sekolahan. Itu motor para siswa yang dilarang membawa motor ke sekolah karena belum punya SIM.
Perkembangan sarana dan prasarana transportasi memang membuat masyarakat malas jalan kaki kemana-mana. Kemudahan untuk memiliki kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat lewat bujuk rayu kredit juga membuat masyarakat semakin malas berjalan kaki.
Disetiap rumah jumlah kendaraan bermotor sama dengan jumlah penghuninya, bahkan ada yang lebih. Maka ke warung yang jaraknya hanya beberapa rumah saja, dilakoni dengan naik kendaraan.
Sepertinya jalan kaki menjadi aneh.
Saya ketika ke warung berjalan kaki, tetangga yang bertemu tidak akan menyapa “Kemana?” melainkan “Motornya rusak kah?”
Jalan raya kemudian memang lebih ramah kepada para pengendara kendaraan bermotor. Jalanan seperti milik mereka. Hak-hak pejalan kaki di jalan raya seperti kurang dihormati. Berjalan kaki apalagi menyeberang jalan rawan kecelakaan, ditabrak oleh pengendara yang malas mengerem kendaraan saat melihat orang melintasi jalan dari kejauhan.
Memang pemerintah berupaya untuk tetap menjaga hak-hak pejalan kaki dengan membuat trotoar dan zebra cross untuk menyeberangi jalan. Tapi lama kelamaan trotoarpun dibajak oleh pengendara kendaraan bermotor, trotoar dijadikan tempat parkir atau tempat melintas para pemotor kala jalanan macet.
Atau lama kelamaan trotoar juga menjadi tempat jualan, trotoar berubah menjadi pasar pedagang kaki lima serta kios-kios dadakan lainnya.
Pejalan kaki terdiskriminasi dan tersingkir di tanahnya sendiri.
BACA JUGA : Swadaya Masyarakat
Kini setiap tanggal 22 Januari diperingati sebagai Hari Jalan Kaki Nasional. Hari peringatan Jalan Kaki Nasional ini diusulkan oleh KOPEKA atau Koalisi Pejalan Kaki yang berdiri tahun 2021.
Hari peringatan ini dipicu oleh peristiwa yang terjadi pada tahun 2012, sebuah kejadian yang memilukan terjadi di sekitar Tugu Tani Jakarta. Tanggal 22 Januari siang hari, sebuah mobil Daihatsu Xenia Hitam yang dikendarai oleh Afriyani Susanti menabrak sejumlah pejalan kaki.
Lima orang meninggal di tempat, empat lainnya meninggal di rumah sakit dan sisanya mengalami luka-luka. Mereka tewas dan terluka karena pengendara yang mengkonsumsi alkohol dan narkoba sampai dini hari.
Dalam pengaruh alkohol dan narkoba serta tak tidur semalaman, Afriani memacu kendaraannya disiang hari sehingga hilang kendali dan menabrak para pejalan kaki.
Kenangan buruk terhadap pejalan kaki ini kemudian dipakai oleh KOPEKA sebagai landasan sejarah Hati Jalan Kaki Nasional. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran publik dan pembuat kebijakan tentang pentingnya keselamatan untuk pejalan kaki, penghormatan pada hak pejalan kaki di jalan raya.
Hari Jalan Kaki Nasional juga merupakan bentuk advokasi kepada pemerintah agar memberikan fasilitas yang layak dan maksimal untuk para pejalan kaki. Sehingga jalan kaki menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk masyarakat.
Pemerintah Kota Samarinda dalam beberapa tahun terakhir ini giat memperbaiki sarana dan prasarana untuk pejalan kaki. Trotoar dipercantik dan diperlebar, dipasangi tiang agar tak dipakai untuk parkir, berjualan atau memotong jalan bagi pengendara roda dua saat jalan macet atau tergenang banjir.
Di beberapa tempat bahkan dipasang bangku agar pejalan kaki yang lelah bisa beristirahat, atau mungkin bercengkrama.
Tapi trotoar ternyata sepi, jarang dilintasi oleh pejalan kaki. Beberapa bangku bahkan rusak, bukan karena diduduki tapi karena kesepian serta terpapar panas dan hujan.
Di beberapa jalur jalan raya yang ramai juga telah dipasang Pelican Crossing atau archaically pelicon crossing, alat bantu penyeberangan dengan sinyal lalu lintas untuk pejalan kaki dan kendaraan bermotor yang diaktifkan oleh pejalan kaki dengan cara memencet tombol. Jika dipencet, lampu dan suara akan aktif untuk menhentikan kendaraan yang lewat sehingga pejalan kaki bisa menyeberang dengan aman.
Pelican Crossing lebih aman dan menyakinkan dibanding zebra cross.
Tapi jalan kaki bukan semata fasilitas atau sarana dan prasarana. Yang paling penting adalah niat dan kesadaran soal pentingnya jalan kaki bagi kesehatan tubuh dan mental.
Pendidikan jalan kaki nampaknya yang belum dilakukan oleh pemerintah. Pengambil kebijakan cenderung lebih berfokus menyediakan sarana dan prasarana. Nampaknya mereka masih berpikir jika disediakan sarana otomatis bisa merubah perilaku masyarakat. Tapi cara kerja kesadaran atau perubahan perilaku tidak begitu adanya.
Meski dimulai dengan keinginan untuk bersenang-senang dan syukur-syukur berbonus sehat, Susur Gang Samarinda yang dimulai dari 3 dan 4 orang ternyata berkembang menjadi sarana edukasi dan penyadaran jalan kaki dengan cara yang menyenangkan.
Tanpa visi dan misi yang ndakik-ndakik, memasuki tahun keempat Susur Gang Samarinda mulai menunjukkan hasil jalan kaki secara konsisten dua kali seminggu dan terkadang ada juga hari extra. Dengan jalan kaki seminggu sekurangnya 20.000 langkah ditabung setiap minggunya. Jumlah yang paling tidak cukup untuk menutupi status sebagai kaum rebahan dan mageran.
Selamat merayakan Hari Jalan Kaki Nasional, ayo mulai konsisten jalan kaki.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








