Sebutan nephentes mungkin terasa asing. Tumbuhan ini lebih populer disebut dengan nama Kantong Semar atau Kantong Monyet.
Tumbuhan yang masuk dalam kategori tanaman merambat (Liana) ini populer di Pulau Kalimantan. Dari kurang lebih 82 jenis yang tumbuh di berbaga belahan dunia, 64 diantaranya ada di Indonesia dan 32 dari yang hidup di Indonesia itu ada di Pulau Kalimantan. Maka bisa dikatakan Pulau Kalimantan adalah kantongnya kantong semar dunia.
Sebagian besar kantong Semar yang hidup di pulau Kalimantan tidak ditemukan tumbuh di daerah lain atau bersifat endemik.
Tumbuhan yang dikenal sebagai pemakan serangga ini mempunyai banyak nilai farmakologi (bernilai obat) dan nilai guna lainnya seperti penggunaan kantongnya sebagai kantong masak beras (ketupat).
Orang Katingan menyebut kantong semar dengan sebutan Ketupat Napu. Karena kantong dari tumbuhan yang hidup di rawa (Napu) ini dipakai untuk memasak beras sebagaimana memasak ketupat. Pada masyarakat lain yang gemar berburu, kantong Semar juga dipakai untuk menyimpan racun. Racun yang dipakai untuk mengolesi mata panah sumpit atau mata tombak.
Kini nasib kantong semar seperti banyak binatang dan tumbuhan ikonik lainnya di Kalimantan. Beberapa terancam punah karena konversi lahan. Kantong Semar kehilangan habitat alamnya. Selain itu beberapa jenis yang langka juga terus dijarah, diambil dari alam untuk diperjualbelikan.
Beberapa jenis kantong semar memang dilindungi sebagaimana termaktub dalam Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.
Namun soal efektifitas pelaksanaan UU dan Peraturan Pemerintah di lapangan itu cerita lain. Selain karena UU dan peraturan tak tersosialisasi dengan baik, tidak kuat penegakkannya masyarakat juga kerap merasa bahwa kantong semar masih banyak dimana-mana. Padahal perasaan itu terkadang berdasarkan kondisi beberapa tahun lalu.
Beberapa jenis kantong semar memang masih banyak terutama di daerah dataran rendah.
Di Penajam Paser Utara misalnya habitat kantong semar dengan mudah ditemui bahkan di pinggir jalan besar sekalipun.
Tak jauh dari Kantor Bupati ke arah Petung di hamparan lahan kosong bisa dilihat sulur-sulur kantong semar setinggi lebih dari 1.5 meter tumbuh dengan banyak kantong berwarna hijau, hijau kecoklatan dan bintik-bintik merah.
Berada di pinggir jalan raya, nasib dan masa depan kantong semar menjadi buram karena kelak lahan itu pasti akan menjadi area pembangunan berbagai infrastruktur kota.
Ketika melewati lokasi itu terbersit keinginan untuk mengambil anakan untuk dipelihara sebagai tanaman hias.
Pucuk dicintai ulam tiba, malam terakhir sebelum pulang ke Samarinda, seorang teman menghubungi dan mengundang datang ke sekretariatnya di Lawe Lawe.
Ternyata di belakang sekretariatnya, M. Ghofar, jurnalis KB Antara yang tengah bertugas di Penajam Paser Utara mengembangkan penangkaran Kantong Semar.
Kantong semar berupa anakan dan setekan itu diambil dari lahan-lahan yang dibuka oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Menurutnya pada lahan yang akan dipakai berkebun, kantong Semar dianggap hama atau gulma, tanaman penganggu sehingga akan dibabat jika lahannya akan dipakai untuk berladang.
Dan sebagai teman, Ghofar kemudian merelakan beberapa polybag berisi kantong semar yang sehat berpindah ke tangan saya untuk dibawa pulang ke Samarinda.
Saya tentu saja bersuka, sebab mengambil anakan dari alam belum tentu akan hidup. Hal mana saya alami beberapa tahun lalu ketika masa-masa demam Aglonema, Sansivera, Anthurium dan lain-lain. Waktu itu di tepian Mahakam sering ada mobil bak terbuka parkir dan menjual aneka kantong semar. Sekilas seperti segar dan subur.
Namun ketika dibeli dan dibawa pulang ke rumah untuk dipelihara, makin hari bukannya makin indah melainkan justru layu dan mengering. Kantong semar yang dijual meski ditaruh dalam pot yang bagus ternyata hasil cabutan dari alam yang langsung diperjualbelikan.
Inisatif Ghofar tentu saja patut diacungi jempol. Belajar dari nol dengan niat menyelamatkan salah satu kekayaan tak ternilai dari tanah Kalimantan, Ghofar tak hendak memperkaya diri dengan kantong semar. Apa yang dipelihara dan dirawatnya justru dibagi-bagi sebagai langkah untuk melakukan edukasi agar orang lain juga peduli pada kantong semar.
Dia menyadari apa yang dilakukannya adalah langkah darurat. Menyelamatkan kantong semar dengan menangkarkan atau membiakkan di nursery. Namun ada cita-cita besar di balik langkahnya, sebuah harap agar kantong semar tetap ada dalam habitatnya. Menurutnya cara terbaik untuk peduli dan melindungi adalah membiarkan Kantong Semar hidup di habitatnya.
Konservasi itulah langkah yang ideal. Langkah yang sengaja untuk memberikan ruang dan lahan bagi kantong semar dengan mengesampingkan nilai lain dari lahan itu.
Sebuah langkah yang nampaknya mudah namun kenyataannya sulit untuk dilakukan karena yang punya atau menguasai lahan umumnya lebih tergoda untuk memanfaatkan lahannya menjadi area pembangunan, pertambangan atau perkebunan.
Semoga langkah kecil Ghofar di Lawe Lawe ini akan mendorong berbagai pihak di Penajam Paser Utara untuk bersama merelakan lahannya guna mengkonservasi Kantong Semar.
Sumber foto : kompasiana.com








