KESAH.ID – Di Kampung Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, waktu seolah bergerak lebih lambat di beranda rumah Pui Pangit. Di usianya yang mendekati delapan puluh tahun, lelaki Dayak Kenyah itu masih tekun menganyam rotan, keterampilan yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat. Kisah hidupnya, adalah jejak perpindahan panjang orang Kenyah dari Apokayan sekaligus menyaksikan bagaimana sebuah pengetahuan tradisional bertahan di tengah perubahan zaman yang terus menggerus ruang hidup dan budaya masyarakat hutan.

Di beranda rumahnya di Lung Anai, jari-jari Pui Pangit masih bergerak lincah membelah,menyerut dan kemudian menganyam rotan. Usianya sudah mendekati delapan puluh tahun, tetapi ingatannya masih cukup tajam untuk menelusuri jalan panjang yang membawanya dari Long Ampung ke kampung itu.

Lelaki kelahiran 1946 itu lahir di dataran tinggi, Apokayan. Di masa mudanya, Apokayan bukan sekadar kampung halaman. Bagi orang-orang Dayak Kenyah, wilayah itu adalah pusat dunia. Dari sana lahir berbagai gelombang perpindahan masyarakat Kenyah yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru Kalimantan Timur.

Seperti banyak orang Kenyah lainnya, hidup Pui Pangit juga ditandai oleh perjalanan. Setelah masa Ganyang Malaysia, ia meninggalkan Apokayan menuju Samarinda. Dari kota itu ia bergerak lagi ke hulu Mahakam. Perjalanannya berlanjut hingga Wahau sebelum akhirnya menetap di Lung Anai, yang saat itu masih menjadi bagian dari Sungai Payang.

Kisah semacam itu tidak istimewa dalam sejarah masyarakat Dayak Kenyah. Hampir setiap keluarga menyimpan cerita serupa: meninggalkan tanah leluhur dan mencari tempat hidup baru yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan berbagai layanan modern.

Alasan yang sering diucapkan bahkan terdengar sederhana, nyaris anekdotal.

“Mencari garam.”

Kalimat itu berulang kali muncul dalam cerita perpindahan orang Kenyah. Bagi orang luar, alasan itu mungkin terdengar lucu. Namun di baliknya tersimpan kenyataan tentang keterisolasian. Garam adalah simbol dari akses terhadap dunia luar. Ketika masyarakat adat berbicara tentang garam, sesungguhnya mereka sedang berbicara tentang sekolah, puskesmas, pasar, dan jalan.

Satu demi satu kampung bergerak mendekati pusat-pusat pelayanan. Mereka meninggalkan hutan yang selama ratusan tahun menjadi ruang hidup.

Dalam proses itu, bukan hanya jarak yang berubah. Cara hidup pun ikut bergeser.

Amay Pangit sedang meraut rotan untuk membuat anjat

BACA JUGA :  Estetika Doyo

Di antara berbagai perubahan yang datang bersama modernitas, ada satu keterampilan yang perlahan menghilang: menganyam rotan.

Pui Pangit termasuk segelintir orang di Lung Anai yang masih menguasai keterampilan itu.

Di tangannya, rotan yang semula hanya batang panjang berduri bisa berubah menjadi anjat, bakul, wadah penyimpanan, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga. Gerakannya terlihat sederhana, tetapi di balik setiap silang anyaman tersimpan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Dulu, hampir setiap keluarga memiliki anggota yang mampu menganyam. Rotan tersedia melimpah di sekitar kampung. Hutan menjadi supermarket sekaligus toko peralatan rumah tangga.

Kini situasinya berbeda.

Rotan semakin sulit ditemukan di sekitar permukiman. Untuk mendapatkannya, masyarakat harus berjalan lebih jauh ke dalam hutan. Sebagian kawasan yang dulu menjadi tempat tumbuh rotan telah berubah fungsi. Sebagian lainnya berada di wilayah yang aksesnya tidak lagi mudah.

Pada saat yang sama, kebutuhan terhadap hasil anyaman juga menurun.

Keranjang plastik datang lebih murah. Ember plastik lebih ringan. Peralatan buatan pabrik lebih mudah diperoleh dari toko-toko di kota.

Perlahan, keterampilan menganyam kehilangan panggungnya.

Anak-anak muda di Lung Anai lebih akrab dengan telepon pintar dibanding bilah rotan. Mereka lebih mengenal alat berat, sepeda motor, atau media sosial dibanding teknik memilih rotan yang tepat untuk membuat anjat.

Bukan karena mereka tidak menghargai tradisi.

Tetapi karena zaman telah menawarkan pilihan hidup yang berbeda.

Yang tersisa kini hanyalah beberapa orang tua seperti Pui Pangit yang masih setia mempertahankan keterampilan itu.

Di banyak tempat, hilangnya sebuah keterampilan tradisional sering dimulai bukan karena bahan bakunya habis, melainkan karena tidak ada lagi yang mau mempelajarinya.

alat bantu untuk membuat olahan rotan

BACA JUGA : Marc Sepang

Ironisnya, ketika keterampilan menganyam mulai langka, dunia justru semakin menyadari pentingnya hasil hutan non kayu.

Selama puluhan tahun, hutan dinilai berdasarkan volume kayunya. Tegakan pohon dihitung dalam meter kubik. Nilai ekonomi hutan diukur dari berapa banyak batang yang bisa ditebang.

Padahal hutan menyimpan kekayaan lain yang nilainya tidak kalah besar.

Rotan adalah salah satunya.

Dalam skema ekonomi kehutanan modern, hasil hutan non kayu dipandang sebagai masa depan pengelolaan hutan berkelanjutan. Rotan, madu hutan, damar, buah-buahan hutan, tanaman obat, hingga jasa lingkungan dianggap mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menghancurkan tutupan hutan.

Logikanya sederhana.

Jika masyarakat memperoleh penghidupan dari hutan yang tetap berdiri, maka mereka memiliki alasan untuk menjaga hutan itu tetap hidup.

Dalam konteks itulah keterampilan yang dimiliki Pui Pangit menjadi penting. Ia bukan sekadar penganyam tua yang sedang mempertahankan kebiasaan lama. Ia sesungguhnya menyimpan sebuah teknologi tradisional yang menjadi bagian dari ekonomi hutan.

Masalahnya, teknologi seperti ini tidak tersimpan di dalam buku.

Ia hidup di tangan manusia.

Ketika orang seperti Pui Pangit tidak lagi ada, maka yang hilang bukan hanya keranjang, ingen, kiba, bening  atau anjat. Yang hilang adalah pengetahuan tentang bagaimana memilih rotan, memotongnya, mengeringkannya, membelahnya, hingga menyusunnya menjadi benda yang berguna.

Pengetahuan itu tidak bisa dipindahkan dengan mudah ke mesin atau aplikasi telepon pintar.

Ia hanya bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itulah kisah Pui Pangit sesungguhnya bukan hanya kisah seorang lelaki tua yang masih menganyam rotan di Lung Anai.

Ini adalah kisah tentang perlombaan melawan waktu.

Tentang seorang penjaga terakhir yang masih memegang sepotong pengetahuan lama ketika dunia bergerak semakin cepat ke arah yang berbeda.

Dan mungkin, jauh di balik setiap anyaman yang selesai dibuatnya, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: ketika hutan masih ada tetapi pengetahuannya hilang, apakah kita benar-benar masih bisa mengatakan bahwa hutan itu tetap hidup?

note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM