KESAH.ID – Jauh sebelum wacana pertanian berkelanjutan bergema di dunia modern, masyarakat Dayak telah mempraktikkan sains perladangan gilir balik yang presisi dan selaras dengan alam. Melalui pembacaan penanggalan astronomi di langit malam, teknik pembakaran terkendali penyeimbang hara tanah, hingga metode penanaman polikultur tanpa merusak struktur bumi, perladangan huma adalah bukti nyata kejeniusan ekologis pedalaman. Tata cara perladangan masyarakat Dayak terbukti telah menjaga SDA Kalimantan bisa memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya berjalan seiring dengan kelestarian hutan.
Dalam lanskap tanah podsolik merah-kuning Kalimantan yang miskin hara, perladangan gilir balik (huma atau uma) kerap disalahpahami secara sepihak sebagai praktik pemicu kerusakan lingkungan. Padahal, jika dibedah melalui kacamata sains vernakular, sistem perladangan tradisional masyarakat Dayak adalah sebuah bentuk rekayasa ekologi yang sangat canggih, terukur, dan berkelanjutan.
Di inti sistem ini, perladangan bukan sekadar aktivitas pertanian, melainkan siklus adaptasi hidup yang menyelaraskan kebutuhan pangan manusia dengan irama pemulihan alam.
Kejeniusan perladangan Dayak bermula dari penguasaan sains astronomi dan tanda-tanda alam (bio-indikator). Sebelum sebilah parang menyentuh semak belukar, para tetua adat dan ahli ladang membaca posisi gugusan bintang di langit malam, khususnya bintang kemukus atau Orion (Bintang Patindu/Bintang Tiga) dan Pleiades (Bintang Tujuh/Bintang Banyak).
Sudut elevasi dan kemunculan gugusan bintang ini menandai titik balik musim dan memandu jadwal pembukaan lahan agar seluruh proses kemarau dan hujan berjalan presisi. Pembacaan langit ini dipadukan dengan pengamatan bio-indikator darat, seperti mekarnya bunga pohon tertentu, migrasi kawanan burung pangkas, atau perilaku serangga tanah.
Proses pembukaan lahan diawali dengan tahap menebas (membersihkan tumbuhan bawah) dan menebang (mewal/menebang) pohon-pohon di kawasan hutan sekunder yang telah diistirahatkan (bekatan atau jurung). Pemilihan lokasi ladang terikat ketat oleh hukum adat yang melarang keras pembukaan hutan primer (kerangas atau hutan tutupan), kawasan resapan air, dan pemakaman keramat.
Pohon-pohon besar dipotong pada ketinggian tertentu agar tunggulnya tetap hidup dan mampu bertunas kembali (remodelling/coppicing). Langkah awal ini memastikan bahwa struktur perakaran tanah tidak hancur, sehingga erosionalitas tanah saat hujan lebat dapat ditekan seminimal mungkin.
BACA JUGA : Bejana Kehidupan
Setelah vegetasi tebasan mengering secara sempurna di bawah paparan terik matahari kemarau, masyarakat Dayak menerapkan salah satu pilar utama teknologi perladangan mereka: pembakaran terkendali (sekatan/melarik). Pembakaran ladang bukanlah tindakan pembakaran asal-asalan, melainkan sebuah proses termal yang diperhitungkan secara cermat. Sebelum api dinyalakan, warga bergotong-royong membuat sekat bakar (sekat api) berupa parit dan pembersihan vegetasi selebar beberapa meter di sekeliling calon ladang untuk mencegah lidah api melompati batas hutan.
Arah angin, tingkat kelembapan udara, dan waktu pembakaran dipilih pada siang hari saat angin stabil. Pembakaran terkendali ini berfungsi ganda secara mekanis dan kimiawi. Pertama, ia mengubah massa vegetasi keras menjadi abu kaya akan kalium, kalsium, fosfor, dan magnesium—unsur hara esensial yang secara alami sangat langka di dalam tanah hara dingin Kalimantan.
Abu ini bertindak sebagai pembenah tanah (soil conditioner) alami yang menetralkan keasaman tanah (pH) secara mendadak sehingga layak ditanami. Kedua, suhu panas pembakaran membunuh benih gulma pengganggu, mikroorganisme patogen, serta larva hama di permukaan tanah tanpa merusak lapisan mikroba jauh di dalam tanah.
Ketika abu hangat mulai menyatu dengan rintik hujan pertama, tahap penanaman (menugal/nugal) dimulai melalui kerja bakti komunal (gotong royong). Laki-laki berjalan di depan membawa dua batang kayu bulat berujung runcing (tugal) dari kayu keras untuk membuat lubang-lubang kecil berkedalaman beberapa sentimeter di permukaan tanah tanpa membalikkan struktur tanah (no-tillage system). Para perempuan mengikuti di belakang, menaburkan bulir-bulir benih padi huma (benih padi lokal) ke dalam lubang tugal tersebut.
Sistem penanaman Dayak menganut prinsip polikultur atau tumpang sari yang sangat kaya ragam. Di sela-sela benih padi utama, masyarakat menanam belasan jenis tanaman penyertaan: jagung, jewawut, ubi kayu, labu, terung asam, cabai liar, kacang-kacangan, hingga tanaman obat-obatan.
Polikultur ini menciptakan ekosistem mini yang saling melindungi: daun labu yang menjalar menutupi tanah untuk menjaga kelembapan mikro, tanaman tinggi memecah terpaan angin, sementara keanekaragaman jenis tanaman memecah konsentrasi hama sehingga risiko gagal panen total dapat dihindari.
BACA JUGA : Olahan Pangan
Puncak dari kearifan teknologi perladangan Dayak terletak pada masa pasca-panen (bera/fallow period). Setelah ladang dimanfaatkan selama satu hingga dua musim tanam, tanah tidak dipaksa untuk terus bereproduksi hingga kurus kering. Masyarakat melepaskan ladang tersebut kembali ke tangan alam untuk menjalani fase pemulihan yang dikenal sebagai bekalan atau simpuk.
Selama rentang waktu 10 hingga 20 tahun, vegetasi alami merebut kembali lahan tersebut: suksesi tanaman perintis tumbuh, mengikat nitrogen dari udara, menutupi tanah, dan membangun kembali kandungan humus tanah yang kaya.
Selama periode gilir balik ini, lahan bera sama sekali tidak diterlantarkan. Lahan tersebut bertransformasi menjadi “kebun hutan” yang menghasilkan buah-buahan liar, kayu pertukangan, tanaman anyaman rotan, serta menjadi habitat berburu binatang kecil.
Setelah siklus pemulihan selesai dan tanah kembali subur ditandai oleh besarnya diameter batang pohon sekunder, barulah siklus pembukaan ladang baru dilakukan kembali di lokasi yang sama. Inilah bentuk rotasi ekologis yang menjaga keseimbangan karbon alami Kalimantan selama berabad-abad.
Namun, di era modern, teknologi dan sistem perladangan gilir balik Dayak menghadapi benturan hebat. Kebijakan larangan pembakaran lahan secara menyeluruh, klaim konsesi perkebunan monokultur skala besar, pembatasan wilayah adat, serta perubahan iklim global yang mengacaukan penanggalan astronomi tradisional menempatkan para petani peladang pada posisi yang sangat sulit.
Ketiadaan akses untuk melakukan pembakaran terkendali membuat peladang terpaksa beralih menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintetis bernilai mahal yang justru merusak struktur tanah alami dan menimbulkan ketergantungan ekonomi.
Meskipun dihantam gelombang modernisasi dan stigmatisasi, teknologi perladangan tradisional Dayak tetap menawarkan pelajaran berharga bagi peradaban modern. Prinsip-prinsip penanaman tanpa olah tanah, efisiensi hara berbasis biomassa lokal, polikultur ketahanan pangan, dan periode rotasi pemulihan tanah adalah jawaban mendasar atas krisis degradasi lahan dunia.
Memahami perladangan Dayak secara utuh berarti mengakui bahwa sains lokal Nusantara telah lama memegang kunci pengelolaan alam yang berkelanjutan—sebuah warisan pengetahuan yang harus dilindungi demi masa depan pangan dan ekosistem bumi kita.
note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM








