KESAH.IDPerjalanan kadang menghadirkan kejutan kecil yang tak terduga. Dari Samarinda menuju Serang, Banten, saya justru dipertemukan kembali dengan seorang kawan lama di sebuah kedai dekat pintu keluar Bandara Soekarno-Hatta. Obrolan ringan yang dimulai dengan rokok dan nostalgia pun berbelok ke arah yang lebih serius: tentang MBG dan Kopdes Merah Putih, dua program yang belakangan ramai diperbincangkan, penuh keluhan dan kontroversi.

Tanpa direncanakan, dalam perjalanan dari Samarinda menuju Serang, Banten, saya bertemu dengan kawan lama di sebuah kedai tak jauh dari pintu keluar kedatangan Bandara Soekarno-Hatta.

Seperti biasa, usai perjalanan udara yang cukup panjang, kebutuhan pertama selain buang air kecil adalah merokok. Kedai yang menyediakan ruang merokok pun menjadi semacam ruang penyelamatan.

Setelah ha-ha hi-hi dan bernostalgia, termasuk mengabsen eksistensi teman-teman lama yang sebagian sudah berpulang, tanpa skenario perbincangan mengalir ke topik MBG dan Kopdes Merah Putih. Ada banyak keluhan, komplain, dan aneka reaksi soal keduanya.

Teman saya dari Sulawesi Utara, yang kini lebih sering tinggal di wilayah kepulauan, bercerita tentang ibu-ibu yang marah. Dalam sebuah pidato, Presiden Prabowo terkesan memuji-muji MBG yang menurutnya membuat masyarakat perdesaan bisa makan enak dan bergizi. Sikap Presiden yang terkesan “geer” ini membuat ibu-ibu melontarkan kata-kata pedas: “Ngana kira baru MBG ini yang beking torang pe anak makan sadap. So lama torang kase makang anak-anak deng makanan yang sadap-sadap.”

Saya yang cukup lama tinggal di Sulawesi Utara paham betul kalau makanan di sana memang “sadap-sadap.” Masyarakat terbiasa dengan sajian daging boke alias B2, dan tentu saja ikan laut segar. Dua sajian ini bukan hanya sedap, tetapi juga mahal di banyak tempat lain.

Namun kenapa Presiden menyebut seolah MBG berjasa meningkatkan nafsu makan anak-anak desa? Padahal banyak keluhan dari ibu-ibu di berbagai daerah yang anaknya justru enggan makan MBG karena tak enak. Mungkin keluhan itu diblok agar tak sampai ke Presiden, lalu disodorkan teks pidato yang mengklaim keberhasilan MBG yang manajemennya berantakan.

Padahal soal enak atau tidak enak mestinya tak perlu bikin baper. Rasa itu soal selera. Yang disebut enak belum tentu sehat dan bergizi, bahkan sering kali yang enak justru berbahaya bagi kesehatan.

BACA JUGA : Londo Ireng

Jujur saja, rasa enak itu sesungguhnya hanya sekejap. Lidah mengenali di awal, lalu cepat hilang. Ambil contoh sup: suapan pertama terasa menyengat enaknya, tapi tak lama kemudian memori di otak mengidentifikasi bahwa rasa itu muncul karena terlalu banyak micin.

Jadi membahas MBG enak atau tidak enak jelas belum waktunya. Persoalan internal MBG masih terlalu banyak. Secara teknis, dapur-dapur MBG harus menyediakan makanan dalam jumlah besar, sementara tidak semuanya berpengalaman. Maka wajar jika ada yang belum mampu menyediakan makanan sehat sekaligus enak.

Berapa jumlah dapur MBG yang gagal menyediakan makanan enak? Tak ada yang tahu. Bisa sebagian kecil, bisa sebagian besar. Yang pasti, ada dapur yang mampu menyediakan makanan sehat sekaligus enak. Keterampilan dan konsistensi bisa ditingkatkan lewat monitoring, evaluasi, dan pendampingan ketat.

Masalah muncul jika paket makanan tak enak itu dihasilkan oleh investor dengan niat busuk: menjadikan program mulia ini ladang cepat untung. Konon, berinvestasi di dapur MBG adalah model bisnis dengan ROI tercepat. Menemukan dapur dengan niat busuk tentu tak sulit, selama pemeriksanya tidak busuk pula. Normalnya jumlah yang busuk tak lebih dari 10 persen. Tapi jika dibiarkan, kelakuan busuk ini akan menular dan dinormalisasi.

Di antara dapur MBG pasti ada yang bisa dijadikan contoh, dipilih sebagai acuan karena mampu menyediakan makanan enak dan sehat sesuai anggaran negara. Menemukan “champion” mestinya tak sulit, bukankah setiap tahun kita selalu memilih juara? Masalahnya, para juara itu dipilih dengan cara busuk atau tidak. Kita sering ragu karena dalam pemilihan apapun, prinsip meritokrasi jarang setia dijalankan.

BACA JUGA : Latihan Empati

Kita semua tahu program prioritas paling menjanjikan memang MBG. Program jangka panjang yang “keuntungannya” bisa dipungut setiap hari. Di tengah kesulitan mencari sumber cuan, MBG jadi mata air yang alirannya seperti air bah. Sama seperti gula yang ditabur di lapangan, semut dari segala penjuru akan mengepungnya.

Peta MBG pun ruwet, banyak pemain di berbagai tingkatan. Janji-janji berbau surga ditiupkan, padahal sebagian hanyalah tipuan. Akhirnya MBG penuh kongkalikong. Setiap insan membawa gerbongnya masing-masing, dengan hubungan khusus di antara pihak-pihak yang terlibat.

Manajemen MBG di tingkat tertinggi sudah dibongkar pasang. Namun masalah yang dihadapi penerusnya, yang pernah mengalami keracunan makanan hingga cita-citanya menguap, jelas masih berat.

Kembali ke soal rasa tak enak. Bisa jadi bukan karena koki kurang terampil, melainkan karena bumbu sengaja dikurangi. Kelakuan seperti ini biasa: cara menambah keuntungan penyelenggara dapur. Lebih pelik lagi jika pengurangan bumbu dilakukan karena harus memberi setoran ke pihak lain.

Rasa dikorbankan demi kelancaran dapur MBG yang bergantung pada bekingan. Maka urusan enak dan tidak enak jadi lebih pelik, karena di setiap tingkatan birokrasi MBG ada mulut-mulut yang doyan meminta uang tambahan dari level bawah.

Keluhan anak-anak soal makanan tak enak ini memang berkorelasi dengan koki, tapi bukan sebab akibat. Para koki bisa dievaluasi, namun yang lebih perlu diganti justru para kepala di atasnya.

Korupsi di MBG sejatinya sudah seperti pohon, dari pucuk hingga akar. Mengganti pucuk belum tentu menyembuhkan, karena yang pucuk itu enak direbus.

note : sumber gambar – JTTC