Secara tradisional ada beberapa daerah istimewa di Indonesia, yakni DI Yogyakarta, DI Aceh dan Jakarta yang disebut sebagai Daerah Khusus. Dan kemudian bertambah dengan Papua {Provinsi Papua dan Papua Barat} dengan sebutan Otonomi Khusus {Otsus}.

Namun tak bisa dipungkiri dari semua daerah istimewa itu, Yogyakarta menjadi yang paling istimewa. Ada deret keistimewaan Yogyakarta yang bisa bikin iri daerah lainnya namun sulit untuk ditiru.

Sebagai kota yang menyandang sebutan kota pendidikan, Yogyakarta terus berkembang. Bukan hanya sekolah tinggi dan universitas yang jumlahnya banyak dan terus didatangi mahasiswa dari daerah lain, kini sekolah tingkat menengah atasnya juga sudah menjadi incaran dari siswa di daerah lainnya.

Kerap didatangi oleh warga dari daerah lainnya membuat dunia pariwisata di Yogyakarta juga terus berkembang. Dan pariwisata yang berkembang adalah pariwisata yang berbasis masyarakat. Asalkan sudah menginjakkan kaki di Yogyakarta, kemana langkah kaki terayun rasanya sudah berwisata.

Tapi ini yang membuat Yogyakarta menjadi lebih istimewa. Menurut Badan Pusat Statistik {BPS} tahun 2019, angka kemiskinannya lebih tinggi dari rata-rata nasional. Dengan angka 11,7 sementara angka nasional 9,41 menjadikan Yogyakarta berada di urutan 12 di Indonesia dan menjadi provinsi termiskin di Pulau Jawa. Upah Minimum Provinsinya juga termasuk yang terendah, lebih rendah dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan juga Jawa Barat.

Namun anehnya jika bicara soal kualitas hidup yang diukur dengan Indeks Kebahagiaan dan Angka Harapan Hidup, Yogyakarta ternyata menduduki peringkat delapan sebagai provinsi paling bahagia se-Indonesia. Angka harapan hidup di DIY bahkan melewati rata-rata nasional, yakni 74 tahun, sedangkan rata-rata nasional 71 tahun.

Miskin, bahagia dan panjang umur, istimewa sekali. Kenapa demikian?.

Dalam kajian antropologi Yogyakarta ditempatkan sebagai pusat kebudayaan Jawa. Dan secara politik anggaran salah satu keistimewaan Yogyakarta adalah alokasi anggaran untuk kegiatan kebudayaan. Alhasil budaya Jawa yang menekankan harmoni dan kebersamaan serta tidak mengutamakan materi masih hidup dan dihidupi.

Dalam banyak hal menjadi miskin itu menyusahkan, bukan hanya menyusahkan diri sendiri tetapi juga orang lainnya. Hanya saja sebagai musuh abadi dari pembangunan manusia, kemiskinan tidak mudah untuk dihilangkan. Semaju-majunya sebuah negara kemiskinan masih tetap ada karena berbagai sebab.

Maka bisa dipahami jika kemudian yang miskin ternyata bahagia. Sebab kebahagian dalam konteks manusia tidak selalu berasal dari kelebihan melainkan juga dari kekurangannya. Bahagia bisa diartikan menerima diri. Atau dalam bahasa jawa disebut nrimo, menerima apa adanya.

Sikap nrimo ini kemudian tidak menjadi masalah karena didalam masyarakat juga masih dihidupi semangat sithik eding atau biar sedikit tapi tetap berbagi. Konsep sedikit tapi berbagi ini membuat mereka yang berkekurangan tetap merasa aman, tidak menderita sendiri. Ini bukan tentang membagi penderitaan melainkan bisa bahagia dari hal-hal yang sedikit.

Menerima kekurangan, bisa bahagia dengan segala sesuatu yang sedikit dan menjalani hidup dengan ritme sederhana, ini kemudian menjadi kunci dari panjang umur.

Hanya saja model hidup seperti ini hanya akan bertumbuh pada masyarakat yang ekosistem ruang publiknya nyaman dimana ada saling percaya, keakraban terbina hangat tanpa membeda-bedakan latar belakang apapun.

Dalam banyak masyarakat lainnya orang miskin dianggap sebagai duri karena kerap dicurigai bahwa yang miskin akan mencuri, merampok atau meminta-minta sehingga menimbulkan gangguan. Ada kepercayaan bahwa kemiskinan akan menghantar pada kejahatan, miskin menjadi penyebab perilaku sosial yang buruk.

Alhasil soal miskin, bahagia dan panjang umur pasti akan memancing pernyataan “Bahagia boleh tapi sejatera harus,”. Tentu saja benar kesejahteraan harus diwujudkan sebagaimana menjadi cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.

Masalahnya kita memang kerap iri kepada kebahagiaan orang lain dan kesejahteraan ternyata juga tidak membuat orang menjadi tidak jahat. Terbukti ada puluhan professor dan ratusan doktor yang tentu saja sejahtera karena kedudukannya namun ternyata ditangkap karena korupsi.

Jadi kejarlah kesejahteraan dengan bahagia, jangan dengan keserakahan karena keserakahan selain bisa membuat orang lain jadi miskin juga tak akan memberikan kebahagiaan.

Siapa Yang Punya Banyak Dia Akan Takut Kehilangan

Yang miskin tapi bahagia bukan hanya orang Yogyakarta sebagaimana diperlihatkan lewat survey indeks kebahagiaan oleh BPS tahun 2019 itu. Ada kelompok lain di dalam masyarakat terutama masyarakat religus yang memilih jalan kemiskinan sebagai pilihan bebas.

Yang disebut jalan kemiskinan versi kelompok religius ini adalah membebaskan diri dari harta, tidak terikat pada kepunyaan.

Apa yang dipunyai diperlakukan sebagai sarana bukan harta yang harus digenggam dan membuatnya takut kehilangan. Dengan tidak mengikatkan diri pada harta maka hidup mereka menjadi bahagia karena lebih bebas.

Bebas karena ketika harus berpindah tidak perlu memikirkan membawa ini dan itu, mencari truk atau mobil kap terbuka untuk mengangkut segala sesuatu. Atau ketika ditugaskan dan harus berangkat tidak meninggalkan kegelisahan karena khawatir apa yang ditinggalkan sementara akan hilang atau berkurang.

Banyak mempunyai segala sesuatu memang memunculkan ketakutan. Rumah yang berisi banyak harta pasti akan dipagar kuat, rapat dan tinggi agar hartanya terjaga. Kalau perlu segala sudut dipasangi kamera sehingga bisa menangkap gerak-gerik orang dari luar yang mencurigakan.

Hidup kemudian dipenuhi oleh kekhawatiran, menganggap orang lain sebagai ancaman. Maka jangankan bergaul hangat dengan seluruh orang, tetangganya sendiri saja belum tentu dikenal.

Jika mereka ayang miskin bisa bahagia dari hal-hal yang sedikit, maka sebaliknya mereka yang berkelebihan akan bahagia dengan hal-hal yang serba banyak. Agar banyak orang berkumpul dan beramaian di rumahnya maka mesti dibuat pesta. Sementara jika ingin bahagia di luar rumah maka mesti pergi piknik atau berwisata ke tempat yang wah, yang bisa berarti pergi jauh bahkan hingga keluar negeri.

Tidak ada yang melarang kita untuk mempunyai segala sesuatu berlebih sebagai kepunyaan. Tapi mengusahakan sesuatu menjadi berlebih tentu tidaklah gampang, apalagi jika berlebih itu diperoleh dengan cara yang gampang. Konon tidak ada sesuatu yang besar jika tidak dimulai dari yang kecil.

Sayangnya kini banyak orang kemudian tergiur untuk memperoleh sesuatu yang berlebih dengan cara yang gampang. Setor uang dan duduk-duduk atau mendownload aplikasi tertentu dan kemudian menjalankan misi sambil rebahan.

Tawaran-tawaran yang membutakan karena mengaburkan antara impian dan kenyataan. Diawal nampaknya memberi harapan indah tapi ujung-ujungnya kebanyakan berakhir dengan nestapa. Hasilnya kosong padahal hampir semua sudah dicurahkan, termasuk dengan cara pinjam atau berhutang.

Ruang publik kita hari ini diwarnai oleh warta tentang investasi bodong dan aplikasi bohong. Dan mereka yang menjadi korban dari menguapnya uang lebih dari 100 trilyun pertahun itu kebanyakan adalah mereka yang tidak berkelebihan tapi bersemangat untuk memperoleh kesejahteraan dengan cara yang mudah. Sungguh merupakan nestapa sebab yang kehilangan banyak ternyata bukan mereka-mereka yang berlebih.

sumber foto : Herry Sutanto – unsplash.com