KESAH.ID – Menjaga perdamaian dengan bersiap untuk perang adalah paradoks tua yang hingga kini masih menjadi napas kebijakan pertahanan banyak negara, termasuk Indonesia di bawah Presiden Prabowo. Namun, ketika deterensi berubah menjadi ajang unjuk hegemoni dan ego pribadi pemimpin dunia seperti Donald Trump dan Netanyahu, garis antara “berjaga-jaga” dan “agresi membabi buta” menjadi kabur.
“Si vis pacem, para bellum”—jika kau mendambakan perdamaian, bersiaplah untuk perang.
Presiden Prabowo pasti menghayati filosofi ini, sebagaimana banyak pemimpin lainnya, dalam konteks deterensi atau membentuk kebijakan pertahanan negara yang kuat dari kemungkinan serbuan negara lain. Ungkapan di atas didasari atas logika yang pragmatis: sebuah negara yang memiliki pertahanan dan kesiapan tempur yang tinggi cenderung jarang diserang oleh lawan. Lawan akan gentar lebih dulu, berpikir dua kali mengenai risiko serangan balik yang lebih dahsyat.
Meski demikian, filosofi deterensi tadi menunjukkan sebuah paradoks. Ketika masing-masing negara memperkuat organ perangnya, negara tetangga akan merasa terancam dan kemudian turut memperkuat sistem pertahanannya. Hasilnya adalah perlombaan senjata; situasi geopolitik menjadi memanas atau tegang. Rasa aman dan perdamaian justru tidak tercipta. Hanya saja, sampai sekarang filosofi itulah yang nampaknya terbaik. Imajinasi bahwa semua bangsa bisa saling percaya tanpa memperkuat persenjataan hampir tak pernah terwujud. Semua berjaga-jaga, karena teman atau sahabat sekalipun hampir tak bisa dipercaya.
Perang memang selalu menjadi ancaman; agresi masih menjadi bawaan dalam bentuk apa pun. Walau kemudian banyak yang sadar bahwa di masa sekarang, perang sering kali tak memiliki pemenang. Artinya, bisa saja pihak tertentu mengklaim menang, namun pasti disertai kerugian dan kehancuran yang juga besar. Dari zaman ke zaman, perang mengalami perubahan.
Di masa kuno, perang adalah urusan pasukan tentara yang berhadapan dalam pertempuran jarak pendek. Keandalan dan keterampilan pasukan menjadi kunci kemenangan. Ukuran menang-kalah lebih gampang: siapa yang memukul mundur atau membuat pasukan lawan menyerah, dialah yang menang. Para ksatria ini kemudian diperbarui di zaman pertengahan. Mereka bukan hanya memakai baju besi, melainkan juga sudah dilengkapi mesiu dan benteng pertahanan. Mundur belum tentu kalah, selama benteng pertahanannya belum ditembus dan direbut.
Teknologi perang semakin berkembang seiring ditemukannya meriam dan senapan. Perang menjadi lebih menghancurkan. Muncul tentara profesional yang berperang bukan hanya di daratan, melainkan juga di lautan untuk menguasai jalur perdagangan. Perang bertujuan bukan hanya untuk memperluas wilayah, melainkan juga menguasai sumber daya alam. Spektrum perang kemudian meluas seiring dengan kemajuan teknologi senjata dan sistem pertahanan. Perang bukan hanya soal wilayah dan ekonomi, tetapi juga ideologi. Cakupan perang makin luas dan korban juga semakin banyak. Makin banyak pihak yang terseret dalam sebuah pusaran perang.
Sebenarnya tidak ada yang diuntungkan dengan perang, tetapi perang masih selalu terjadi karena industri persenjataan masih menjadi salah satu industri terbesar. Jual-beli senjata dan sistem pertahanan masih menjanjikan keuntungan yang besar. Dengan makin canggihnya teknologi, saat ini perang relatif terukur. Jumlah korban bisa diminimalisasi lewat serangan yang presisi. Tetapi tetap saja ada kejadian salah sasaran karena sistem yang error atau informasi yang dijadikan landasan serangan tidak valid. Dalam kondisi terdesak, pihak yang diserang bisa saja membalas dengan serangan yang membabi buta.
BACA JUGA : Bijak Energi
Setelah Perang Dunia II, agresi massal yang melibatkan negara-negara sedunia mulai luruh. Memang selalu ada potensi terjadinya Perang Dunia III, tapi banyak negara lebih memilih untuk melakukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Konflik antarnegara mungkin saja memanas, namun letusan senjata berusaha diredam sekuat mungkin. Perang yang lebih marak justru terjadi di dalam negeri sendiri, antarberbagai faksi yang berupaya merebut kekuasaan.
Negeri yang masih punya DNA kuat sebagai agresor tak banyak lagi. Banyak negara dengan kekuatan militer besar tak tergoda untuk turut meletuskan senjatanya atau meluncurkan rudalnya. Ambil contoh Tiongkok dan Rusia; sepertinya kedua negara ini lebih suka menjual senjatanya ketimbang memakainya untuk perang. Negara lain yang tenang-tenang saja tapi punya pasukan dan persenjataan untuk perang besar adalah Korea Utara.
Yang wataknya dari dulu tidak berubah hanyalah Amerika Serikat. Walau intensitas atau nafsu pemimpinnya untuk melakukan agresi naik-turun, Amerika Serikat tetap mempertahankan hasrat berperang dengan cara mencampuri urusan negara lain sampai ke politik pemerintahan. Amerika Serikat memang “GU”—gila urusan. Mereka menempatkan diri sebagai pemimpin dan poros dunia; seisi dunia diminta tunduk padanya. Dan memang benar, hegemoni Amerika Serikat atas bangsa lain masih terbukti hingga hari ini, walau dalam beberapa hal mulai luruh atau mendapat perlawanan.
Kepercayaan diri karena hegemoninya itu membuat Amerika Serikat tidak selalu lembut dalam berdiplomasi. Amerika Serikat, terutama di masa kepresidenan Donald Trump, makin sering menggertak. Jika gertakannya tak dihiraukan, Trump tak segan memakai kekuatan represi untuk membuat yang lain tunduk. Donald Trump nampaknya menikmati hal itu; menjadi sebuah kesenangan. Hingga ocehannya pada pemimpin negara lain sering kali tak bermutu, mirip obrolan kosong dan jorok di warung kopi.
Dengan slogan Make America Great Again, Donald Trump haus akan kemenangan. Mulanya dia ingin Amerika menang dalam perundingan-perundingan dagang. Awalnya cukup berhasil; banyak negara yang gentar dan kemudian pemimpinnya menunggu untuk diundang. Trump membayangkan pemimpin negara lain akan tunduk lalu menjilat pantatnya. Yang nurut pada Trump kemudian akan diberi hadiah berupa penurunan tarif masuk.
Tapi tidak semua tunduk. Bahkan negara tetangga terdekat, yakni Kanada, berani melawan. Donald Trump kemudian mengancam akan mencaplok negara atau pulau-pulau yang bertetangga dengannya. Meski ucapannya kerap mencla-mencle atau “isuk dele sore tempe”, Donald Trump tak segan mengambil keputusan yang mengagetkan. Seperti ketika mencokok Presiden Venezuela di negerinya sendiri; presiden negara lain ditangkap layaknya seorang buronan. Donald Trump tak peduli dengan etika hubungan internasional. Permainannya bukan hanya tak sopan, tapi sungguh jorok.
BACA JUGA : King COTA
Keputusan menyerang Iran mungkin bisa disebut sembrono atau tergesa-gesa. Pasalnya, belum lama Trump menginisiasi Board of Peace untuk perdamaian Israel–Palestina. Piagam inisiatif perdamaian baru saja ditandatangani, namun ternyata tangan yang sama justru dipakai untuk memencet tombol perintah meluncurkan serangan ke Iran.
Yang tahu tujuan serangan pada Iran tentu saja Donald Trump sendiri—tujuan yang mungkin saja berbeda dengan Netanyahu yang kemudian ikut menumpang melontarkan serangan. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mungkin sengaja dibuat membingungkan; siapa pun bisa menafsirkan tujuannya. Terlepas dari apa pun tujuannya, yang jelas perang ini membuat banyak negara ikut sengsara karena Iran membalas dengan serangan asimetris. Iran menyerang negara-negara tetangganya dan menutup Selat Hormuz, jalur vital untuk distribusi minyak dan gas.
Apa yang terjadi sungguh kabur dan tak tersedia cukup informasi yang tervalidasi untuk menyusun narasi komprehensif tentang serangan ini. Apalagi ketika bicara soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ukuran menang-kalah menjadi sumir. Karena bahkan tanpa menyerang balik namun mampu bertahan, pada dasarnya Iran sudah menang. Toh, Iran sudah membuktikan bahwa ketika pemimpin tertinggi dan tokoh-tokoh elitnya berhasil dibunuh, ternyata pemerintahan Iran tetap solid. Ibarat kata: mati satu tumbuh seribu.
Bisa jadi Iran hancur, tapi Amerika Serikat dan Israel tetap tak berani menginjakkan kaki tentaranya di daratan Iran. Sebaliknya, bisa saja Trump dan Netanyahu mengklaim kemenangan berdasarkan hitung-hitungan korban, sasaran yang dihancurkan, tokoh yang dibunuh, dan lain-lain. Bisa juga dari sisi politik, Iran kemudian makin terjepit di antara tetangganya karena duta besarnya di-persona non grata-kan oleh negara-negara sekitar.
Walau mengklaim menang, baik Donald Trump maupun Netanyahu tetap tak mendapat ucapan selamat dari siapa pun. Dua orang ini menghasilkan kehancuran di mana-mana; di negeri sendiri, negeri orang, hingga seluruh dunia. Gara-gara ulah mereka berdua, semua planet terkena getahnya. Apa yang dilakukan oleh Donald Trump dan Netanyahu—yang kemudian menimbulkan reaksi balasan dari Iran serta kelompok yang didukungnya—hanya menyisakan kehancuran, kesedihan, dan penderitaan. Banyak nyawa melayang sia-sia.
Penyebab dan tujuan perang terkadang memang absurd, seabsurd ego Donald Trump dan Benjamin Netanyahu yang tak mewakili keinginan rakyatnya. Sejarah memang sudah sering mencatat perang-perang yang tidak worth it; perang yang disebabkan oleh hal-hal sepele yang mestinya mudah dicegah agar tidak menimbulkan korban.
Tahun 1838, Prancis pernah menyerbu Meksiko hanya gara-gara roti. Perang itu kemudian disebut sebagai Pastry War. Perang ini bermula dari seorang pembuat roti asal Prancis yang tinggal di Meksiko; toko rotinya dirusak dan dijarah oleh tentara Meksiko. Tuntutan ganti rugi darinya tak digubris. Karena tuntutan yang tak dipenuhi inilah Prancis kemudian mengirimkan armada militer untuk menyerang dan menduduki Veracruz, Meksiko. Perang ini berlangsung selama tiga bulan dan berhenti ketika Meksiko bersedia mengganti rugi kerusakan toko roti tersebut.
Perang terkadang memang disebabkan oleh hal-hal sepele, walau akibatnya sama sekali tak sepele. Maka perdebatan siapa kalah dan menang sebenarnya tak penting. Sebab pada akhirnya, semua justru kalah—bahkan mereka yang tak tersangkut dengan perang sekalipun harus mengalami kekalahan yang parah.
note : sumber gambar – BERITASATU








