KESAH.ID – Di tengah derasnya arus perubahan yang menjangkau hingga kampung-kampung pedalaman, masih ada orang-orang yang setia menjaga pengetahuan leluhur dengan tangannya sendiri. Di Desa Budaya Lekaq Kidau, salah satunya adalah Pui Livan Ngo, atau yang lebih akrab dipanggil Peliban. Selama puluhan tahun ia menempa besi menjadi parang, mandau, dan berbagai alat kerja yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak Kenyah. Di balik denting palunya, tersimpan bukan hanya keterampilan turun-temurun, melainkan juga sejarah, identitas, dan pengetahuan yang perlahan semakin langka. Kisah Peliban adalah kisah tentang seorang maestro yang terus menjaga api tradisi agar tidak padam ditelan zaman.

Di tengah derasnya arus perubahan yang menjangkau hingga kampung-kampung pedalaman, masih ada orang-orang yang setia menjaga pengetahuan leluhur dengan tangannya sendiri. Di Desa Budaya Lekaq Kidau, salah satunya adalah Pui Livan Ngo, atau yang lebih akrab dipanggil Peliban. Selama puluhan tahun ia menempa besi menjadi parang, mandau, dan berbagai alat kerja yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak Kenyah. Di balik denting palunya, tersimpan bukan hanya keterampilan turun-temurun, melainkan juga sejarah, identitas, dan pengetahuan yang perlahan semakin langka. Kisah Peliban adalah kisah tentang seorang maestro yang terus menjaga api tradisi agar tidak padam ditelan zaman

Suara besi beradu dengan besi memecah kesunyian siang di Lekaq Kidau. Setiap dentingnya terdengar seperti penanda waktu yang bergerak pelan. Di sebuah workhop sederhana samping rumah, bara menyala di bawah arang. Di hadapannya berdiri seorang lelaki tua yang tubuhnya mulai direnggut oleh usia, tetapi tangannya masih kokoh menggengam dan mengayun palu.

Namanya Pui Livan Ngo. Namun di kalangan masyarakat Kenyah di Lekaq Kidau, hampir tak ada yang memanggilnya demikian. Ia lebih dikenal sebagai Peliban.

Dalam tradisi Kenyah, seorang laki-laki maupun perempuan yang telah memiliki cucu akan memperoleh tambahan awalan “Pe” di depan namanya. Itu bukan sekadar panggilan. Melainkan  penanda status sosial, penanda bahwa seseorang telah memasuki fase baru kehidupan.

Peliban lahir sekitar 67 tahun lalu di Apokayan, tanah yang bagi orang Kenyah bukan sekadar kampung halaman, melainkan sumber identitas. Seperti banyak orang Kenyah lain, hidupnya adalah bagian dari sejarah perpindahan panjang masyarakat dari dataran tinggi Apokayan menuju berbagai wilayah Kalimantan Timur.

Namun berbeda dengan banyak orang lain yang membawa ijazah atau keterampilan baru dari sekolah, Peliban tumbuh dengan cara berbeda.

“Saya nda sekolah,” katanya pendek.

Lalu ia tertawa kecil.

“Saya selalu di hutan.”

Hutan adalah sekolahnya. Orang tua dan kakeknya adalah gurunya.

Di sanalah ia belajar membaca tanda-tanda alam. Di sanalah ia belajar bagaimana logam bisa berubah menjadi alat yang berguna. Di sanalah ia mulai mengenal pekerjaan yang kelak menjadi jalan hidupnya: pandai besi.

Saat anak-anak lain mungkin diajari membaca huruf, Peliban belajar membaca warna bara.

Saat anak lain belajar berhitung, ia belajar memperkirakan suhu besi dari warna merah yang muncul di permukaannya.

Pelan-pelan keterampilan itu tumbuh, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mengikir, tahapan lanjut setelah bilah dibentuk agar memperoleh ketajaman

BACA JUGA : Marc Sepang

Setiap pagi, aktivitas Peliban hampir selalu sama.

Menyalakan api. Memanaskan besi. Memukul. Mengikir atau menggerinda. Membentuk. Mengulang lagi.

Pekerjaan yang terlihat sederhana itu sebenarnya membutuhkan ketelitian tinggi. Sedikit saja salah membaca suhu, besi bisa retak. Terlalu lama dipanaskan, logam kehilangan kekuatannya. Terlalu cepat ditempa, bentuknya tak sempurna.

Dari tangannya lahir berbagai bilah yang akrab digunakan masyarakat pedalaman Kalimantan: parang, golok, mandau, hingga berbagai alat pertanian.

Belakangan, ia juga membuat alat-alat yang lebih modern. Misalnya alat pemanen sawit dan pemotong pelepah sawit.

Ia tidak menyebutnya inovasi. Baginya itu hanya cara beradaptasi. Sebab kehidupan masyarakat kini berubah.

Dulu orang banyak membuka ladang. Hari ini orang lebih banyak bekerja di kebun sawit.

Kalau kebutuhan berubah, maka besi pun harus ikut berubah bentuk.

Nama Peliban perlahan dikenal luas di kalangan masyarakat Dayak dari kelompok Kayanik. Pesanannya datang dari berbagai daerah.

Dari Kutai Timur. Kutai Barat. Mahakam Ulu. Kutai Kartanegara. Samarinda.

Bahkan sesekali ada pesanan yang datang dari Malinau di Kalimantan Utara.

Orang-orang memesan bilah buatan Peliban karena satu alasan sederhana.

Mereka percaya pada kualitasnya.

“Besi buatan orang tua itu beda,” kata seorang warga Lekaq Kidau.

Mungkin benar. Mungkin juga tidak.

Tetapi kepercayaan seperti itulah yang membuat tungku Peliban tetap menyala hingga kini.

Padahal tubuhnya sudah tak sekuat dulu.

Kalau sekarang ia mampu menyelesaikan dua atau tiga bilah dalam sehari, itu sudah dianggap cukup.

“Dulu sepuluh bisa,” katanya sambil tersenyum.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi di baliknya tersimpan cerita tentang usia yang perlahan berjalan.

Tentang tenaga yang tak mungkin terus melawan waktu.

Beberapa perkakas di workshop Peliban

BACA JUGA : Pui Pangit

Peliban tidak berkebun. Ia juga tidak lagi masuk hutan.

Dulu sempat. Ketika masih muda, ia pernah mencari sarang burung walet di hutan-hutan Kalimantan.

Tetapi akhirnya yang dipilih tetaplah profesi pandai besi. Pekerjaan yang diwariskan ayah dan kakeknya. Pekerjaan yang membuat namanya dikenal banyak orang. Pekerjaan yang menurutnya kelak akan diteruskan anaknya. Harapan itu terdengar sederhana. Tetapi justru di sanalah tantangan terbesar berada.

Di banyak kampung Dayak hari ini, keterampilan tradisional semakin sulit menemukan pewaris. Anak-anak muda memiliki banyak pilihan hidup yang tak dimiliki generasi Peliban. Mereka bisa menjadi operator alat berat, bekerja di perusahaan, masuk kota, atau merantau ke mana saja.

Menjadi pandai besi bukan lagi pilihan yang populer.

Padahal keterampilan seperti yang dimiliki Peliban bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat Dayak.

Mandau bukan hanya sebilah senjata. Parang bukan sekadar alat potong.

Di dalamnya tersimpan teknologi, sejarah, dan identitas kebudayaan.

Masalahnya, pengetahuan semacam itu tidak tersimpan dalam buku himpunan pengetahuan lokal.

Ia hidup di tangan manusia. Ketika seorang pandai besi tua pergi tanpa sempat mewariskan ilmunya, yang hilang bukan hanya kemampuan menempa besi.

Yang hilang adalah sebuah cara pandang terhadap dunia.

Karena itu Peliban sesungguhnya lebih dari sekadar pandai besi.

Ia adalah arsip hidup. Lelaki yang menyimpan pengetahuan turun-temurun yang semakin jarang dimiliki orang.

Di tengah gempuran modernitas, di sebuah desa budaya bernama Lekaq Kidau, ia masih berdiri di dekat perapian yang ditiup blower berenergi listrik, memukul besi panas menjadi parang dan mandau.

Setiap denting palunya bukan hanya suara logam yang dibentuk.

Ia adalah bunyi sebuah kebudayaan yang sedang berusaha bertahan agar tidak hilang bersama waktu.

Note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM