Keanekaragaman hayati juga disebut dengan biodiversitas. Biodiversitas merujuk kepada keseluruhan atau total variasi kehidupan yang meliputi bentuk, jumlah, dan karakteristik lain yang terdapat di tingkat gen, jenis, dan ekosistem.

Faktor yang memengaruhi keanekaragaman hayati ada dua, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan alam. Perubahan atau perkembangan karena dua faktor ini disebut sebagai evolusi alamiah.

Karena jumlah manusia semakin banyak dan menempati daerah yang semakin luas. Evolusi alamiah itu kini makin dipengaruhi oleh perilaku manusia.

Temuan teknologi membuat kemampuan manusia untuk mengubah lingkungan semakin besar. Pengubahan terjadi lewat ekploitasi sumberdaya alam seperti penebangan hutan, penambangan mineral yang bukan hanya mengubah bentang alam melainkan juga menimbulkan pencemaran. Pengubahan dan pencemaran akan mempemgaruhi jalannya evolusi alamiah.

Keanekaragaman sumber daya hayati tropikal Indonesia termasuk dalam golongan tertinggi di dunia, jauh lebih tinggi daripada keanekragaman sumber daya hayati di Amerika maupun Afrika. Apalagi bila dibandingkan dengan daerah beriklim sedang dan dingin.

Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia secara keseluruhan ditaksir sebanyak 25.000 jenis atau lebih dari 10 persen dari flora dunia.Lumut dan ganggang ditaksir jumlahnya 35.000 jenis. Tidak kurang 40 persen dari jenis-jenis ini merupakan jenis yang endemik atau jenis yang hanya terdapat di Indonesia saja.

Dari sekian banyak jenis-jenis tumbuhan yang ada sebagian besar terdapat di kawasan hutan tropika basah, terutama hutan primer, yang menutup sebagian besar daratan Indonesia. Hutan ini mempunyai struktur yang kompleks yang menciptakan lingkungan sedemikian rupa sehingga memungkinkan beranekaragam jenis dapat tumbuh di dalamnya. Jenis tumbuhan yang ada banyak terdapat di dalamnya jenis-jenis yang kisaran ekologinya sama, tetapi banyak pula yang berbeda. Jenis-jenis tertentu mempunyai kisaran penyebaran yang luas dan menduduki berbagai macam habitat dan seirama dengan itu pula jenis semacam ini biasanya mempunyai variabilitas genetika yang tinggi.

 

Biodiversitas Kalimantan

Kalimantan merupakan pulau di Indonesia yang terkenal dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya. Tak hanya itu, kekayaan pengetahuan pengobatan suku asli yang diwariskan dari generasi ke generasi juga banyak. Sayangnya pengetahuan tersebut tidak terdokumentasikan dengan baik dan dikhawatirkan akan terkikis seiring dengan hilangnya habitat alami dan punahnya tumbuhan berkhasiat obat terutama tumbuhan hutan akibat eksploitasi dan konversi lahan yang berlebihan.

Ancaman semakin besar karena minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan juga rendah. Warisan tradisional masyarakat adat Kalimantan terancam punah.

Pulau kalimantan diberikan anugerah oleh Tuhan YME dengan kekayaan alam berupa sumberdaya hutan yang sangat luas beserta potensi yang terkandung didalamnya. Sayangnya luasan hutan di Kalimantan dari waktu ke waktu semakin berkurang. Begitu pula dengan potensi yang terdapat di dalamnya. Potensi hasil hutan tidak hanya berupa kayu, tetapi juga manfaat lain yang tak ternilai yang dapat memberikan kontribusi terhadap kehidupan manusia seperti tumbuhan hutan berkhasiat obat (THBO) untuk kesehatan.

Dari keanekaragaman sumber daya hayati di hutan primer tersebut tidak hanya terbatas pada jenis tumbuhan berkayu, namun juga ditumbuhi oleh beranekaragam tumbuhan bawah yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi.

 

Tumbuhan Bawah

Tumbuhan bawah merupakan vegetasi yang menempati lapisan bawah suatu komunitas pohon. Komunitas pohon tersebut dapat berupa hutan alam, hutan tanaman atau suatu bidang kehutanan yang lain. Tumbuhan bawah dapat menimbulkan kerugian, tetapi adapula manfaatnya.

Tumbuhan bawah mempunyai kemampuan menahan aliran permukaan sehingga tingkat erosi akan lebih rendah. Tumbuhan bawah menyediakan bahan organik,sehingga menciptakan iklim mikro yang baik bagi serangga pengurai.

Studi komposisi vegetasi tumbuhan bawah memerlukan bantuan dari studi tingkat populasi atau jenis. Hal ini dapat dimengerti karena struktur dan komposisi jenis suatu komunitas dipengaruhi oleh hubungan yang terjadi dalam komunitas.

Vegetasi tumbuhan bawah juga merupakan salah satu komponen ekosistem yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungan yang mudah diukur dan nyata.

Menurut Krebs 1987, Ada dua cara dalam mengkaji vegetasi, yaitu dengan mendeskripsikan dan menganalisis, masing-masing dengan berbagai konsep pendekatan yang berlainan.

Selain itu, tumbuhan bawah juga menjadi salah satu bagian dari fungsi hutan. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah yang sangat tinggi menyebabkan adanya kemungkinan masih banyak jenis-jenis tumbuhan bawah lainnya yang belum teridentifikasi, sehingga kita tidak mengetahui dengan jelas bagaimana keanekaragaman tumbuhan bawah yang sebenarnya.

Maka melakukan inventarisasi dan identifikasi terhadap berbagai jenis tumbuhan bawah yang juga merupakan bagian dari keanekaragaman sumber daya alam hayati maka perlu dilakukan pengukuran-pengukuran, baik itu pengukuran secara langsung terhadap organisme yang bersangkutan ataupun dengan cara mengevaluasi indikator-indikator yang ada.

Berbagai aspek yang dapat diamati dalam rangka pengukuran keanekaragaman sumber daya hayati adalah: jumlah jenis, kerapatan atau kelimpahan, penyebaran, dominasi, produktivitas, variasi di dalam jenis, variasi atau keanekaragaman genetik, laju kepunahan jenis, nilai jenis atau genetik, jenis asli (alami) atau asing, dan berbagai indikator lainnya.

Tumbuhan bawah dalam populasi yang sedikit berfungsi sebagai penghambat laju aliran air hujan di atas tanah, namun dalam populasi yang banyak akan menjadi gulma yang memengaruhi pertumbuhan tanaman karena menjadi pesaing dalam mendapatkan unsur hara, cahaya dan ruang tumbuh.

Tumbuhan Bawah berpotensi Obat dan Hias

Indonesia mempunyai kekayaan alam yang tak ternilai banyaknya, termasuk berbagai jenis tumbuhannya. Diantara tumbuhan tersebut, ada yang di golongkan kedalam tumbuhan berpotensi hias, obat.

Secara turun temurun masyarakat adat yang hidup di dalam dan sekitar hutan di seluruh wilayah Nusantara, memanfaatkan berbagai spesies tumbuhan dari hutan untuk memelihara kesehatan dan pengobatan berbagai macam penyakit. Berbagai penelitian etnofitomedika etnobotani yang dilakukan oleh peneliti Indonesia telah diketahui, paling tidak ada 78 spesies tumbuhan obat yang digunakan oleh 34 etnis untuk mengobati penyakit malaria, 133 spesies tumbuhan obat untuk mengobati penyakit demam oleh 30 etnis, 110 spesies tumbuhan obat untuk mengobati penyakit gangguan pencernaan oleh 30 etnis dan 98 spesies tumbuhan obat digunakan untuk mengobati penyakit kulit oleh 27 etnis, hingga ke perkembangan teknologi dalam pengolahan obat obatan dari tumbuhan bawah seperti saat ini, namun tidak familiar dikalangan kita.

Tumbuhan hias merupakan bagian dari hortikultura non pangan yang digolongkan dalam florikultur yang merupakan cabang ilmu hortikultura yang mempelajari tumbuhan berpotensi hias sebagai bunga potong, daun potong, tanaman dalam pot atau tanaman penghias taman. Komoditi ini dibudidayakan dalam kehidupan sehari hari untuk dinikmati keindahannya atau nilai estetikanya.

Pada dasarnya, suatu tumbuhan disebut berpotensi hias karena memiliki keindahan. Penilaian terhadap keindahan suatu tumbuhan berpotensi hias memang sangat relatif.

Akan tetapi, secara umum keindahan tumbuhan berpotensi hias terletak pada keduaa organnya, yaitu daun atau bunganya. Dari sinilah muncul istilah tumbuhan hias daun.

Disamping keindahan yang hidup, tumbuhan juga memberikan udara yang sehat, sebab itu selalu mengambil CO2 (Karbondioksida) yang kita keluarkan dari proses pernapasan untuk kemudian diubah menjadi O2 (Oksigen) akan kita hisap kembali dalam proses pernapasan.

Sejak disadari arti tumbuhan berpotensi hias dalam kehidupan kita, maka orang mulai mengusahakan dan mencari jenis jenis yang menarik, serta teknik budidaya yang dapat menghasilkan tumbuhan hias sesuai yang diinginkan.

Semakin banyak tumbuhan berpotensi hias serta bertambahnya penggemar, maka tuntutan pembudidayaan tumbuhan hias yang baik menjadi suatu keharusan, terutama dalam pengusahaan tumbuhan hias secara besar-besaran.

Tumbuhan hias juga tumbuhan yang biasa di tanam orang sebagai hiasan. Umumnya pengertin hiasan adalah hiasan dihalaman rumah, dalam rumah, atau taman-taman umum, karena di tanam dirumah atau ditaman, otomatis ukuran tumbuhan tidak terlalu besar dan rimbun.

Pada umumnya tumbuhan hias dapat digolongkan menjadi tumbuhan hias bunga dan tumbuhan hias daun. Tumbuhan hias bunga merupakan tumbuhan hias dengan sebagian bunga yang menarik, adapun tumbuhan hias daun merupakan tumbuhan yang daunnya menarik.

Seperti dalam buku yang diterbitkan oleh Pritihmantoro, 1997, Dalam hal ini perlu diketahui bahwa organ daun terdiri dari pelepah, tangkai, dan helaian, oleh karena tumbuhan yang mempunyai pelepah menarik disebut tumbuhan hias daun

Fungsi Tumbuhan Bawah kurang Familiar dikalangan Anak Muda

Tumbuhan bawah khususnya obat dan hias sudah digunakan oleh berbagai jenis suku, termasuk suku Dayak ataupun Kutai di Kalimantan Timur. Dalam perjalanannya, pemanfaatan tumbuhan obat semakin berkurang karena pemanfaatanya yang kurang praktis, semakin sedikit orang yang mengenal tumbuhan obat dan hias ini secara baik karena pengaruh moderenisasi.

Jika kondisi ini di biarkan terus menerus maka pengetahuan generasi muda tentang tanaman obat tradisional, ditambah lagi belum diketahuinya kandungan kimia dalam berbagai jenis tumbuhan obat tersebut.

Pengetahuan suku Dayak dan Kutai hanya sebatas bukti empiris, Bukan berdasarkan analisis kimia terhadap khasiat yang terkandung dalam setiap jenis tumbuhan obat.

untuk itu kedepannya perlu kita kembangkan dalam hal mengenai identifikasi tumbuhan hias dan obat yang termasuk dalam tumbuhan bawah termasuk juga menggolongkan jenis jenis semak, belukar, terna yang tergolong dalam tumbuhan hias dan obat dalam tumbuhan bawah.

Teridentifikasinya semua jenis tumbuhan bawah baik yang berpotensi obat maupun hias yang digunakan secara turun temurun oleh suku Dayak dan Kutai di Kalimantan Timur termasuk morfologi maupun habitatnya, nama latin, dan nama daerah.

Seperti kita ketahui bahwa kalimantan adalah gudangnya tumbuhan bawah, maka mengetahui karakteristik dan manfaat tumbuhan berpotensi hias atau obat secara morfologi maupun ekologis yang tumbuh secara alami pada kawasan hutan yang berada di dekat rumah kita.

Memberikan informasi dan edukasi tumbuhan berpotensi hias dan obat ke masyarakat juga merupakan langkah yang baik, sehingga nantinya dapat memberikan rekomendasi kepada instansi terkait tentang pentingnya keberadaan tumbuhan berpotensi hias dan obat bagi masyarakat dan dunia petani pada umumnya serta khususnya diketahui oleh mahasiswa dan generasi selanjutnya.

Bersambung hingga 8 seri berikutnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − thirteen =