KESAH.IDAtas salah satu cara film “Vina Sebelum 7 Hari” walau tak dimaksudkan menjadi bagian dari upaya advokasi atas kasus pembunuhan ternyata berhasil membongkar kembali penyelesaian kasus yang belum tuntas. Secara komersil dan sosial film ini termasuk dalam kategori film yang berhasil meski basisnya adalah bad virality.

Sepuluhan tahun lalu, saya diajak beberapa teman yang semangat sekali membuat film. Saya mengusulkan film cerita pendek, tapi mereka bilang film panjang seperti film pada umumnya di bioskop.

Entah darimana asalnya mereka bisa mendapatkan peralatan cukup lengkap, sayapun kemudian menulis naskahnya, kisah percintaan antara aktivis anti tambang dengan putri seorang penambang. Naskahnya saya beri judul Titik Busuk.

Tapi rencana itu membusuk setelah beberapa kali mengambil gambar lantaran kamera dan laptop untuk mengeditnya dicuri orang. Terlebih lagi tak lama kemudian salah satu pemeran kuncinya juga meninggal dunia.

Teman yang sama beberapa tahun lalu mengajak untuk membuat film kembali. Kali ini berdasar pada sebuah buku biografi seorang politisi muda yang saya tulis.

Berkaca dari rencana pembuatan film sebelumnya yang memberi gambaran kebutuhan biaya, film kali ini dibuat agak berbeda. Kami akan membuat teaser lebih dahulu untuk kemudian dipresentasikan kepada donatur.

Shooting beberapa hari dan teasernya jadi. Namun rencana berikutnya tidak jalan, sang politisi mulai sibuk dengan aktivitas politiknya dan tak lagi tertarik dengan rencana pembuatan film yang berdasarkan kisah nyata perjalanan politiknya.

Pandemi Covid 19 kemudian menelan kawan yang terus bersemangat untuk menghasilkan film cerita. Untungnya cita-citanya untuk membuat film besar sempat dicicil, sebelum meninggal teman saya itu sempat melahirkan sebuah film pendek. Saya tidak turut dalam produksi sebagai seorang film maker, melainkan turut bermain sebagai pemeran pembantu.

Seiring dengan itu aktifitas saya dalam dunia videography dan filmography turut usai. Dunia itu menjadi dunia masa lalu saya. Menonton filmpun jadi sangat jarang, termasuk film dokumenter yang dulu sangat memikat minat saya.

Sesekali saya masih berlangganan Netflix jika ada serial-serial yang menarik, hanya saja ketika punya akun aktif saya amat jarang tertarik dengan serial atau film dari Indonesia. Rasanya yang saya tonton habis hanyalah film Gadis Kretek.

Buat saya film ini menarik bukan karena dibintangi oleh Dian Sastro, tapi juga memberi gambaran dan pengetahuan tentang salah satu bisnis besar yang abadi di Indonesia yakni tembakau.

Ya, tembakau yang selalu menempatkan nama keluarga Hartono sebagai keluarga terkaya di Indonesia hingga saat ini.

Buat saya, film Gadis Kretek ini menjadi salah satu film yang berhasil karena memicu diskursus tentang kretek, rokok khas Indonesia yang bahkan sering disalahpahami oleh para perokoknya sendiri.

Para perokok sekalipun kerap menganggap yang disebut rokok kretek adalah rokok linting tangan, seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Hijau, Djarum 76 dan lain-lain.

Padahal Djarum Super, Gudang Garam Surya, Gudang Garam Internasional, Bentoel Biru dan lain-lain juga merupakan rokok kretek.

Rokok kretek dibedakan menjadi dua yakni Sigaret Kretek Tangan atau SKT dan Sigaret Kretek Mesin atau SKM.

Jenis rokok lain yang beredar di Indonesia selain kretek adalah rokok putih, seperti Malboro, Ardath, Kansas, Lucky Strike, Commodore, Dunhill dan lain-lain, juga cerutu seperti Cigarillos. Sementara di Jawa dikenal juga rokok siong atau rokok klembak menyan.

Kretek adalah rokok khas Indonesia, yang dihasilkan dari paduan antara tembakau, cengkeh dan saus perasa. Variasinya kini macam-macam, bukan hanya filter dan non filter melainkan juga bold serta slim. Bahkan yang terkini karena pengaruh rokok dari Korea, rasanya menjadi semakin bermacam-macam. Ada yang rasa teh, rasa jeruk, rasa anggur, rasa mangga dan lain-lain.

BACA JUGA : Makin Banjir

Baru-baru ini juga ada satu film yang sangat berhasil. Film semi horor berjudul “Vina Sebelum 7 Hari” berhasil memicu kembali penyelidikan tentang kekerasan fisik dan seksual terhadap Eky dan Vina yang terjadi pada tahun 2016 lalu.

Pada akhir Agustus 2016 lalu, menjelang tengah malam ditemukan dua orang muda tergeletak di pinggir jalan. Yang laki-laki bernama Eky sudah dalam kondisi meninggal, sementara yang perempuan bernama Vina masih hidup namun kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Kesan dari TKP keduanya seperti mengalami kecelakaan, entah kecelakaan tunggal atau tabrak lari.

Tapi bukti pemeriksaan menyatakan lain, ada bekas pukulan di belakang kepala dan ada bekas sperma di kemaluan Vina.

Dan kisah kekerasan kemudian terkuak karena ada berita tentang Linda, teman Vina yang konon kesurupan oleh roh Vina dan mengatakan dua remaja itu dibunuh. Bahkan dalam rancauannya disebutkan pula nama-nama pembunuhnya.

Keduanya ternyata dikeroyok, dipukuli dengan kayu dan bambu tak jauh dari lokasi mereka tergeletak. Mereka berdua dibuang di pinggir jalan untuk menutupi jejak kekerasan, agar seolah terlihat seperti mengalami kecelakaan.

Polisi bergerak dan segera menangkap mereka yang diduga sebagai pelakunya. Kebetulan bapak Eky adalah polisi.

Hasil penyelidikan polisi menemukan motif kekerasan yang berakhir dengan kematian ini berbau persaingan asmara dan geng motor.

Para terduga pelaku kemudian diadili dan divonis, sebagian divonis hukuman seumur hidup. Namun ada satu pelaku yang divonis 8 tahun karena usianya masih belia. Kini sudah bebas meski masih harus wajib lapor.

Kasus ini tidak tuntas, karena yang bebas dan yang masih dihukum mencabut semua pengakuannya. Semetara itu 3 orang lainnya yang menjadi DPO belum ketemu dan ditangkap. Kabar terbaru satu orang diantaranya sudah tertangkap baru-baru ini.

Perkara ini menjadi ruwet. Yang masih dihukum dan yang sudah bebas merasa tidak melakukan yang dituduhkan. Kabarnya mereka tidak mau menandatangani BAP, namun di pengadilan ternyata BAP ada tanda tangan mereka.

Adakah ini merupakan kasus salah tangkap atau kambing hitam?. Inilah yang harus kembali dibuktikan oleh pihak kepolisian.

Meski film “Vina Sebelum 7 Hari” adalah cerita fiksi namun fiksi ini berangkat dari kisah nyata. KIsah fiksi semi-semi horor ini kemudian sukses karena ditonton jutaan orang. Dan menjadi lebih sukses lagi karena 3 DPO yang sudah hampir terlupakan selama 7 tahun kemudian kembali dicari-cari.

BACA JUGA : UKT Tinggi

Memfiksikan atau men-semi fiksikan fakta sebagai langkah untuk melakukan kritik sosial memang lazim dipakai oleh para pengkarya. Entah lewat film cerita, dokumenter, cerpen, novel, puisi dan lain sebagainya. Cara ini terbukti efektif dan berdampak.

Namun saya ragu, pembuat film “Vina Sebelum 7 Hari” memaksudkan filmnya sebagai kritik sosial.

Film ini cenderung dibuat dengan mengikuti algoritma media sosial, dimana hal-hal trending atau FYP kerap dipicu oleh bad virality.

Yuswohady, seorang pengamat komunikasi dan perilaku netizen menyebutkan viralitas adalah senjata. Namun seperti pedang bermata dua. Dan netizen cenderung lebih menyukai viralitas yang berbahan kisah-kisah buruk.

Keberhasilan film “Vina Sebelum 7 Hari” mengkhawatirkan untuk Yuswohady karena bisa memicu gelombang pengkarya yang akan membuat film yang mengekploitasi mereka yang terkena musibah. Kisah yang bisa dengan mudah meraup jutaan penonton dengan cepat dan viral.

Menjadikan kisah sedih, nestapa, duka berkepanjangan bahkan penderitaan yang berlarat-larat hanya menjadi fiksi untuk meraup penonton dan uang pada akhirnya akan melahirkan insan-insan film atau pengkarya yang oportunistik, berdarah dingin dan miskin empati pada realitas sosial.

Bahwa film ini kemudian berhasil mendorong polisi untuk bergiat lagi bisa dihitung sebagai sumbangsih yang bagus. Hanya saja sepak terjang polisipun kemudian menjadi seperti fiksi.

Viralitas film ini kemudian juga menjadi panggung bagi banyak pihak, dimanfaatkan untuk mencari engagement. Mulai dari teman dekat Vina yang kembali kesurupan, pengacara dan selebritas lainnya.

Film Indonesia memang bergeliat, dimana-mana muncul komunitas sineas-sineas yang tengah berjuang untuk mendapat perhatian masyarakat atas karyanya. Persaingan yang sengit ini membuat para pengkarya mengambil tema-tema yang kontroversial yang mudah memancing perhatian. Dan film pada akhirnya hitungan suksesnya adalah jumlah penonton.

Maka teramat jarang ada film yang berhasil karena dampak baiknya yang panjang. Ambil contoh Filosofi Kopi, film yang kemudian punya efek mempopulerkan budaya ngopi dimana pengopinya bukan sekedar ingin menikmati secangkir kopinya belaka.

Filosofi Kopi memperkenalkan yang disebut sebagai coffee talk, peminum kopi akan bercerita dengan barista atau pemilik kopi tentang kopi yang diminumnya, dari mana asalnya, siapa petaninya, siapa roasternya, metode apa yang dipakai untuk menyeduhnya, note atau catatan dari kopi yang diteguknya dan lain-lain.

Dengan begitu, film Filosofi Kopi tercatan menjadi salah satu film yang paling berhasil karena meninggalkan jejak transformasi dalam budaya kopi di Indonesia.

Sedangkan film “Vina Sebelum 7 Hari” akan meninggalkan jejak apa dalam kebudayaan Indonesia, kita mesti menunggunya.

note : sumber gambar – DETIK